Saturday, May 28, 2022
Home Technology China Kembangkan Lagi Radar Anti Pesawat Siluman

China Kembangkan Lagi Radar Anti Pesawat Siluman

Sekitar 2 tahun lalu dunia militer digemparkan oleh radar baru China yang anti pesawat siluman dengan teknologi kuantum sehingga pesawat siluman yang canggih sekalipun, misalnya F 35 dan F 22 raptor AS, menjadi kuno.

Kembangan baru: radar dengan radiasi terahertz  

Pada 18 Maret 2019, Global Times memberitakan bahwa perusahaan-perusahaan senjata China baru-baru ini membuat banyak system radar radiasi terahertz (THz; 1 triliun siklus per detik)dengan teknologi yang dipandang oleh para ahli sebagai salah satu alat pengintaian udara ke darat yang efisien dan juga calon penantang pesawat siluman.

Sebuah purbarupa (prototipe) radar radiasi terahertz telah dengan sukses dikembangkan oleh sebuah tim China Electronics Technology Group Corp (CETC) yang dipimpin oleh Li Yuanji dan sebuah prototype generasi kedua sudah dalam pengembangan, Televisi Pusat China (CCTV) melaporkan pada hari Minggu, dengan mengutip sebuah pernyataan yang disiarkan oleh CETC.
Pengembangan radar itu adalah salah satu tantangan global, menurut pernyataan tersebut.
Laporan CCTV berbunyi bahwa radiasi terahertz memiliki panjang-panjang gelombang di antara panjang sinar infra merah dan gelombang mikro, yang merupakan spectrum luas yang akan menjadikan kuno teknologi-teknologi siluman (stealth, atau low-observability, atau keterlihatan sedikit) yang ada sehingga radar itu dapat mengetahui/melihat pesawat siluman.

Pesawat siluman biasanya memakai bahan-bahan komposit dan lapisan penyerap gelombang radar sehingga radar yang biasa tidak dapat dengan tepat-hasil mengetahui pesawat-pesawat itu, kata Wei Dongxu, seorang analis militer yang berkedudukan di Beijing, kepada Global Times Senin, 18 Maret 2019.

Sebaliknya, radar radiasi terahertz dapat menembus bahan-bahan itu dan memaparkan komponen-komponen logam pesawat-pesawat itu sehingga menguak penutupnya. Dia juga berkomentar bahwa radar itu dapat juga dengan jelas menjejaki garis besar sebuah benda sehingga menjadikan radar itu bahkan memberitahu kita apa jenis benda itu.

Para ahli berkata bahwa radiasi terahertz menjadi lemah secara sangat cepat di udara yang berarti bahwa kisaran tepat hasil radar itu mungkin rendah dan tidak cukup untuk mengetahui sebuah jet tempur siluman yang canggih pada waktunya sebelum pesawat itu menyerang dari luar kisaran pandangan, kata Wei.

Walaupun aspek anti pesawat siluman teknologi itu masih perlu waktu untuk disempurnakan, teknologi itu dapat dipakai untuk pengintaian dari udara ke darat dengan amat efisien,

Kembangan lain: Radar Apertur Sintetis (SAR) video

Sebuah perusahaan lainnya, China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC) telah dengan sukses mengembangkan radar apertur sintetis (SAR) video radiasi terahertz China yang pertama, lapor koran Science and Technology Daily pada Desember 2018. (Radar apertur sintetis (SAR) adalah salah satu bentuk radar yang dipakai untuk membentuk gambar-gambar 2D atau rekonstruksi 3D benda-benda misalnya landskap. SAR memakai gerakan antenna radar di atas sebuah wilayah sasaran untuk memberikan resolusi ruang yang lebih halus daripada radar biasa yang melakukan pemindaian dengan cahaya).

Bisa lihat tembus asap, kabut dan cahaya yang redup
Radar CASIC itu juga memakai radiasi terahertz untuk melihat tembus lingkungan yang rumit misalnya asap, kabut, dan cahaya yang redup dan dapat dengan efisien mengetahui target-target pasukan infantri di darat yang dalam kamuflase maupun penyamaran, kata koran itu sambil mencatat bahwa radiasi itu memiliki kemampuan penembusan yang lebih kuat daripada alat-alat penglihatan lain yang memakai infra merah.

Sasaran tidak akan punya tempat untuk bersembunyi

Ketika diletakkan di sebuah pesawat terbang atau drone, radar itu akan memungkinkan operatornya dengan jelas melihat  keadaan-keadaan medan tempur dan mengirimkan serangan yang tepat terhadap sasaran yang sebenarnya secara lain akan sulit diketahui. (IST)

Tjan Sie Tekhttp://www.tjansietek.com/translation.html
A former licensed stock market analyst and investment advisor with 20+ years experience with M.Sc. in Finance from Leicester University; now a Chinese, US and Indonesian macroeconomic and financial analyst, CEO of Center for New Indonesia (CEFNI).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Tamanu Supreme oil, the organic herbal killer of skin diseases and wounds

Famous for its so many health benefits, tamanu trees (Calophyllum inophyllum) grow in Indonesia and other southeast Asian countries and the Indian...

White Cardamom Prime from Indonesia

Famous worldwide for its five fragrances and various health benefits, Indonesian white cardamom grows around the country. We export it and many...

Food-grade Desiccated Coconuts from Indonesia

We are an exporter of fine and extra-fine granulated, halal & kosher-certified grade food-grade desiccated coconuts from Indonesia, Southeast Asia, to Europe,...

Analisa: Utang Evergrande tidak systemic sama sekali

Utang LN Evergrande cuma USD 20 miliar, atau 6,6% dari total kewajiban konsolidasinya yang USD 302 miliarUtang USD 20 miliar itu dipegang...

Recent Comments