Saturday, May 28, 2022
Home Economy Paradok Penghematan bagi Indonesia dan Negeri Lain

Paradok Penghematan bagi Indonesia dan Negeri Lain

  1. Indonesia saat ini

Indonesia sedang mengalami lima hal sekaligus: (1) penghematan oleh kalangan menengah dan atas plus perusahaan; (2) ketidak-pastian tentang kapan pandemi Covid-19 akan berakhir; (3) angka pengangguran yang naik; (4) jutaan UMKM sudah gugur karena kehabisan modal dll; dan (5) perbankan yang DPK-nya naik terus tetapi tidak punya saluran untuk dipinjamkan kecuali membeli SUN, atau meminjamkannya ke LN, yang jelas sulit. Jadi, hal nomor (1), yaitu Penghematan, menimbulkan paradok, yaitu hal nomor (5).

2. Langkah-Langkah Pemerintah

Untuk mempertahankan, bahkan kalau bisa, menaikkan angka pertumbuhan GDP sekaligus “membantu” perbankan, pemerintah mencoba mengatasi paradok penghematan itu dengan: meminjam banyak uang dari dalam dan luar negeri, yang merupakan topik debat harian di media massa maupun sosial tentang keuntungan dan kerugiannya plus akibatnya. Pinjaman oleh pemerintah pun menimbulkan dilema yang ditimbulkan oleh efek crowding-out di dalam negeri, yaitu pinjaman pemerintah dari perbankan, investor dll “mendepak keluar (crowd out)” sektor swasta dari kalangan yang sama dan menyebabkan berkurangnya pasokan modal kepada sektor swasta dan juga tingginya suku bunga utang. Contoh: yield SUN dengan tenor 10 tahun hampir selalu di atas 6% per tahun, bahkan pernah di atas 14% per tahun dan jika ada pelarian modal (capital flight) keluar Indonesia atau faktor luar lain maupun faktor dalam negeri.

3. Akibat-Akibat Lainnya

(i) Mayoritas super para pengusaha enggan berinvestasi, apalagi dalam dalam R&D yang bersifat jangka panjang dan penuh risiko gagal; (ii) Mereka juga sulit bersaing di pasar ekspor, apalagi dengan produk dan jasa negeri lain yang bunganya jauh di bawah Indonesia, misalnya China; (iii) Mereka juga sulit mengembangkan usaha untuk menambah kapasitas dan menangkap peluang bisnis baru; (iv) Perbankan lebih suka membeli SUN daripada meminjamkan uang mereka; (v) Dll.

4. Paradok Penghematan yang bikin pusing Keynes & Jepang

4.1 Keynesian Economics (Ilmu Ekonomi Keynes)

Keynes menerbitkan bukunya “The General Theory of Employment, Interest and Money” pada 1936, tempat ia mengajukan teori-teori makroekonominya, terutama tentang pentingnya peran fiskal, alias pemerintah. Untuk mengatasi pengangguran, pemerintah dianjurkan pinjam uang untuk membiayai kegiatan produktif, misalnya pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur umum: Pinjaman uang untuk membantu menaikkan pertumbuhan GDP dll. Selain itu, pemerintah sebaiknya turun tangan ketika ada masalah besar di bidang ekonomi. Perangkat teori-teori itu, yang sekarang lebih disebut sebagai Keynesian Economics,” jelas bertentangan dengan kapitalisme liberal Adam Smith.

Sumber: koleksi pribadi

Karena besar pengaruh dan manfaatnya di seluruh dunia, penerapan ilmu ekonomi Keynes itu sering disebut juga sebagai “Revolusi Keynes,” sehingga mayoritas pemerintahan di dunia, yang mencakup Indonesia, “dengan senang hati” memakainya.

Paradok Penghematan (Hemat Pangkal kaya)

Selain teori-teori di atas, Keynes mengajukan problem yang disebut sebagai “the paradox of thrift,” atau “paradok penghematan” (Hemat Pangkal Kaya).”

4.2 Arti Paradok Penghematan
Setiap negeri, apalagi yang sedang berkembang, membutuhkan modal untuk investasi yang merupakan jalan utama untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan dan GDP sehingga menjadi makmur. Investasi saat ini menentukan pertumbuhan ekonomi masa depan.

Kenaikan GDP bergantung pada empat faktor utama: (i) tabungan nasional (rumah tangga + perusahaan + pemerintah) yang bisa dipakai untuk investasi, (ii) produktivitas, (iii) surplus dagang (ekspor melebihi impor) dan investasi langsung asing (FDI).

Tabungan merupakan salah satu hasil penghematan. Semakin banyak tabungan, semakin banyak modal yang tersedia untuk investasi. Nenek moyang kita meringkasnya sebagai berikut :”Hemat pangkal kaya.” Tetapi, penghematan sebuah bangsa atau wilayah secara besar-besaran menimbulkan masalah: berkurangnya kegiatan ekonomi & investasi serta mandegnya pertumbuhan ekonomi setempat. Itulah paradok penghematan dalam ekonomi makro.

Catatan: Penghematan seorang individu atau perusahaan biasanya menguntungkan individu atau perusahaan itu karena mereka akan kaya, yaitu bukti bahwa “hemat pangkal kaya.Jika hasil penghematan itu ditabung di bank setempat dengan mendapatkan bunga, bank itu akan meminjamkan uang itu kepada individu dan/atau perusahaan lain. Tetapi, jika mayoritas individu dan perusahaan di negeri atau wilayah setempat menghemat dan sedikit sekali investasi oleh pihak lokal maupun PMA, ekonomi setempat akan mandeg.

Akibat-akibat penghematan oleh sebuah negeri: 1. GDP-nya bisa mandeg atau hanya tumbuh sedikit setiap tahun; 2. Para pengusaha dalam maupun LN enggan berinvestasi; 3. Pendapatan pajak dan pendapatan lainnya oleh pemerintah juga ikut mandeg atau tumbuh sedikit per tahun padahal kebutuhan pemerintah semakin naik (untuk tambah gaji, pemeliharaan infrastuktur, bayar utang dan bunga pinjaman dsb); 4. Akibat ikutannya: rakyat semakin pesimis terhadap kemajuan negerinya dan semakin hemat dalam banyak hal; 5. Dsb. Solusi yang umum untuk mendorong rakyat berbelanja dan para pengusaha berinvestasi: A. oleh negeri berkembang seperti China: 1. Ekspor produk dan jasa sebanyak mungkin; 2. Surplus dagang dipakai untuk membangun infrastruktur, memperbaik pendidikan & pelayanan kepada rakyat sehingga produk dan jasanya semakin mampu bersaing di LN dan semakin banyak yang dapat diekspor; B. oleh banyak negeri maju: 1. Menambah jumlah jaminan sosial, jaminan kesehatan, jaminan usia tua, bantuan keuangan selama pensiun dll; 2. Meminjam uang dari dalam dan LN, msialnya AS untuk tutupi defisit anggaran negara; 3. Jika kepepet, menaikkan tarif pajak, terutama tarif pajak untuk orang kaya; 4. Dsb. Hasil-hasil yang diharapkan oleh kedua golongan negeri itu: 1. Rakyat menjadi optimis tentang masa depan mereka sehingga berani berbelanja dan mengurangi tabungan; 2. Para pengusaha dalam dan LN menambah investasi di bidang yang sedang jalan (brownfield)dan melakukan investasi di bidang-bidang yang baru (greenfield); 3. Dsb. Akibat-akibat peminjaman uang untuk tutupi defisit negara: 1. Utang negara bertambah, misalnya AS, Inggeris, 2. Wibawa pemerintah turun di mata rakyatnya dan di LN; 3. Negerinya bisa mengalami stagflasi, yaitu gabungan kemandegan ekonomi dan inflasi tinggi; 4. Akan tiba waktunya pemerintah tidak bisa meminjam uang lagi karena kehilangan kepercayaan investor dalam dan LN; 5. Negerinya bisa pailit, misalnya Venezuela, atau gagal bayar utang, misalnya Argentina; 6. Dsb

Contoh kemandegan: Ekonomi Jepang, yang sangat makmur, sudah mandeg hampir selama 30 tahun terakhir ini karena bangsa Jepang menghemat. Selain itu, neraca dagang internasional Jepang umumnya terus surplus. Akibatnya: (1) Perbankan Jepang kebanjiran tabungan sehingga mereka meminjamkannya ke luar negeri dengan membeli obligasi atau memberikan kredit; (2) Perusahaan-perusahaan Jepang juga memegang banyak sekali cash; (3) Akibat ikutannya: suku bunga deposito di Jepang sudah nol atau bahkan minus sejak tengah tahun 2015!!! Pelajaran: ekonomi negeri yang makmur dan neraca dagang internasionalnya surplus berkelanjutan, tapi rakyatnya terus menghemat sehingga semakin makmur dan perbankan kebanjiran tabungan dll, akan mandeg.

5. Solusi

5.1 Lakukan kampanye khusus untuk mendorong kalangan menengah atas berbelanja, terutama segala macam produk dalam negeri.

5.2 Gencarkan kegiatan ekspor.

5.3 Berikan insentif keuangan maupun administratif yang luar biasa untuk menaikkan daya saing produk dan jasa Indonesia di LN sehingga eksportir semakin bergairah dan banyak orang lain mau mengekspor.

(TST)

Tjan Sie Tekhttp://www.tjansietek.com/translation.html
A former licensed stock market analyst and investment advisor with 20+ years experience with M.Sc. in Finance from Leicester University; now a Chinese, US and Indonesian macroeconomic and financial analyst, CEO of Center for New Indonesia (CEFNI).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Tamanu Supreme oil, the organic herbal killer of skin diseases and wounds

Famous for its so many health benefits, tamanu trees (Calophyllum inophyllum) grow in Indonesia and other southeast Asian countries and the Indian...

White Cardamom Prime from Indonesia

Famous worldwide for its five fragrances and various health benefits, Indonesian white cardamom grows around the country. We export it and many...

Food-grade Desiccated Coconuts from Indonesia

We are an exporter of fine and extra-fine granulated, halal & kosher-certified grade food-grade desiccated coconuts from Indonesia, Southeast Asia, to Europe,...

Analisa: Utang Evergrande tidak systemic sama sekali

Utang LN Evergrande cuma USD 20 miliar, atau 6,6% dari total kewajiban konsolidasinya yang USD 302 miliarUtang USD 20 miliar itu dipegang...

Recent Comments