Saturday, May 28, 2022
Home Finance Paradok Penghematan (2) yang pusingkan Keynes & Jepang

Paradok Penghematan (2) yang pusingkan Keynes & Jepang

John Maynard Keynes (1883-1946), profesor ekonomi di Universitas Cambridge, Inggeris Raya, sering disebut sebagai “Bapak Makroekonomi Moderen” karena teori-teori makroekonominya. Teori-teorinya menentang dan sekaligus melengkapi teori kapitalisme liberal atau laissez faire (pasar bebas; ekonomi liberal) Adam Smith bahwa:

(i) Swasta sebaiknya diberi kebebasan sepenuhnya untuk berperan utama dalam pertumbuhan ekonomi dan pemerintah hanya sebagai pengatur plus pemungut pajak;

(ii) Pemerintah tidak boleh membuat rencana pembangunan;

(iii) Pemerintah tidak boleh punya BUMN dan sejenisnya karena dianggap sebagai pesaing swasta secara tidak adil dan mengacaukan mekanisme pasar dll;

(iv) Swasta dianggap sebagai pihak yang serba mampu. Wiraswasta atau perusahaan swasta dianggap serba bisa, multi-guna dsb;

(v) Setiap kelemahan atau masalah di pasar bebas akan diselesaikan oleh “invisible hand,” atau “tangan yang tidak terlihat,” alias “tangan Tuhan;”

(v) Mekanisme pasar bisa menaikkan efisiensi produksi, permodalan dan harga;

(vi) Dll

Singkatnya, pemerintah tidak boleh punya peran besar dalam bidang ekonomi: pemerintah sebaiknya “kecil.” Itulah asal-usul kapitalisme liberal gaya AS dan Inggeris.

This image has an empty alt attribute; its file name is Keynes-Adam-Smith-Books-2021.jpg
Sumber: perustakaan pribadi penulis

Kekurangan dan Kelemahan Kapitalisme Liberal

Kapitalisme liberal punya banyak kekurangan dan kelemahan, terutama tidak mampu mengendalikan keserakahan swasta, dan juga menyampingkan fakta bahwa manusia cenderung berbuat kesalahan, seperti ungkapan bahasa Inggeris “To err is human,” artinya “Berbuat salah adalah manusiawi.”

Salah satu akibat terbesar kekurangan-kekurangan itu adalah terjadinya Depresi Besar (the Great Depression) di AS yang juga mempengaruhi hampir seluruh dunia.” Depresi Besar mulai pada awal 1929, yang ditandai oleh kejatuhan tajam (sampai sekitar 75%) harga-harga efek (saham, obligasi dan surat berharga lainnya) di Bursa Efek new York, yang digambarkan oleh turun tajamnya indeks harga saham rata-rata perusahaan industri Dow Jones (DJIA Index). Depresi Besar belum berakhir tuntas selama 10 tahun.

Keynesian Economics (Ilmu Ekonomi Keynes)

Keynes menerbitkan bukunya “The General Theory of Employment, Interest and Money” pada 1936, tempat ia mengajukan teori-teori makroekonominya, terutama tentang pentingnya peran fiskal, alias pemerintah. Untuk mengatasi pengangguran dan memelihara tingkat konsumsi, pemerintah dianjurkan pinjam uang untuk membiayai kegiatan produktif, misalnya pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur umum (jalan raya, jembatan dsb): Pinjaman uang untuk membantu menaikkan pertumbuhan GDP dll. Selain itu, pemerintah sebaiknya turun tangan ketika ada masalah besar di bidang ekonomi. Perangkat teori-teori itu, yang sekarang lebih disebut sebagai “Keynesian Economics,” jelas bertentangan dengan kapitalisme liberal Adam Smith.

Karena besar pengaruh dan manfaatnya di seluruh dunia, penerapan ilmu ekonomi Keynes itu sering disebut juga sebagai “Revolusi Keynes” sehingga mayoritas pemerintahan di dunia, yang mencakup Indonesia, “dengan senang hati” memakainya, terutama selama masa pandemi ini.

Paradok Penghematan (Hemat Pangkal kaya)

Selain teori-teori di atas, Keynes mengajukan problem yang disebut sebagai “the paradox of thrift,” atau “paradok penghematan” (Hemat Pangkal Kaya).”

Arti Paradok Penghematan
Setiap negeri, apalagi yang sedang berkembang, membutuhkan modal untuk investasi yang merupakan jalan utama untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan dan GDP sehingga menjadi makmur. Investasi saat ini menentukan pertumbuhan ekonomi masa depan.

Kenaikan GDP bergantung pada empat faktor utama: (i) tabungan nasional (rumah tangga + perusahaan + pemerintah) yang bisa dipakai untuk investasi, (ii) produktivitas, (iii) surplus dagang (ekspor melebihi impor) dan investasi langsung asing (FDI).

Tabungan merupakan salah satu hasil penghematan. Semakin banyak tabungan, semakin banyak modal yang tersedia untuk investasi. Nenek moyang kita meringkasnya sebagai berikut :”Hemat pangkal kaya.” Tetapi, penghematan sebuah bangsa atau wilayah secara besar-besaran menimbulkan masalah: berkurangnya kegiatan ekonomi & investasi serta mandegnya pertumbuhan ekonomi setempat. Itulah paradok penghematan dalam ekonomi makro.

Catatan: Penghematan seorang individu atau perusahaan biasanya menguntungkan individu atau perusahaan itu karena mereka akan kaya, yaitu bukti bahwa “hemat pangkal kaya.” Jika hasil penghematan itu ditabung di bank setempat dengan mendapatkan bunga, bank itu akan meminjamkan uang itu kepada individu dan/atau perusahaan lain. Tetapi, jika mayoritas individu dan perusahaan di negeri atau wilayah setempat menghemat dan sedikit sekali investasi oleh pihak lokal maupun PMA, ekonomi setempat akan mandeg.

Akibat-akibat penghematan oleh sebuah negeri: 1. GDP-nya bisa mandeg atau hanya tumbuh sedikit setiap tahun; 2. Para pengusaha dalam maupun LN enggan berinvestasi; 3. Pendapatan pajak dan pendapatan lainnya oleh pemerintah juga ikut mandeg atau tumbuh sedikit per tahun padahal kebutuhan pemerintah semakin naik (untuk tambah gaji, pemeliharaan infrastuktur, bayar utang dan bunga pinjaman dsb); 4. Akibat ikutannya: rakyat semakin pesimis terhadap kemajuan negerinya dan semakin hemat dalam banyak hal; 5. Dsb. Solusi yang umum untuk mendorong rakyat berbelanja dan para pengusaha berinvestasi: A. oleh negeri berkembang seperti China: 1. Ekspor produk dan jasa sebanyak mungkin; 2. Surplus dagang dipakai untuk membangun infrastruktur, memperbaik pendidikan & pelayanan kepada rakyat sehingga produk dan jasanya semakin mampu bersaing di LN dan semakin banyak yang dapat diekspor; B. oleh banyak negeri maju: 1. Menambah jumlah jaminan sosial, jaminan kesehatan, jaminan usia tua, bantuan keuangan selama pensiun dll; 2. Meminjam uang dari dalam dan LN, msialnya AS untuk tutupi defisit anggaran negara; 3. Jika kepepet, menaikkan tarif pajak, terutama tarif pajak untuk orang kaya; 4. Dsb. Hasil-hasil yang diharapkan oleh kedua golongan negeri itu: 1. Rakyat menjadi optimis tentang masa depan mereka sehingga berani berbelanja dan mengurangi tabungan; 2. Para pengusaha dalam dan LN menambah investasi di bidang yang sedang jalan (brownfield)dan melakukan investasi di bidang-bidang yang baru (greenfield); 3. Dsb. Akibat-akibat peminjaman uang untuk tutupi defisit negara: 1. Utang negara bertambah, misalnya AS, Inggeris, 2. Wibawa pemerintah turun di mata rakyatnya dan di LN; 3. Negerinya bisa mengalami stagflasi, yaitu gabungan kemandegan ekonomi, angka pengangguran dan inflasi yang tinggi; 4. Akan tiba waktunya pemerintah tidak bisa meminjam uang lagi karena kehilangan kepercayaan investor dalam dan LN; 5. Negerinya bisa pailit, misalnya Venezueal, atau gagal bayar utang, misalnya Argentina; 6. Dsb

Contoh akibat penghematan oleh rakyat secara berkepanjangan: Ekonomi Jepang, yang sangat makmur, sudah mandeg hampir selama 30 tahun terakhir ini karena rakyat Jepang menghemat. Selain itu, neraca dagang internasional Jepang umumnya terus surplus. Akibatnya: (1) Perbankan Jepang kebanjiran tabungan sehingga mereka meminjamkannya ke luar negeri dengan membeli obligasi atau memberikan kredit; (2) Perusahaan-perusahaan Jepang juga memegang banyak sekali cash; (3) Akibat ikutannya: suku bunga deposito di Jepang sudah nol atau bahkan minus sejak tengah tahun 2015!!! Pelajaran: ekonomi negeri yang makmur dan neraca dagang internasionalnya surplus berkelanjutan akan mandeg jika rakyatnya terus menghemat sehingga kemakmurannya naik lambat sekali dan perbankan kebanjiran tabungan dll.

Jawaban Jerman, Singapura & China untuk Paradok Penghematan

Jerman

Jerman menjawab paradok itu dengan cara “mengekspor produk dan jasa sebanyak-banyaknya dan selalu surplus dagang” sambil rakyat mereka tetap menabung untuk terus memupuk modal dan persiapan hari tua. Selain itu, Jerma mengajarkan rakyat “ilmu membuat barang” sehingga banyak sekali produk kelas tinggi Jerman yang kesohor dan jadi impian mayoritas orang di dunia untuk memilikinya: Mercedes Benz, Audi, Porsche dsb dsb.

Salah satu hasil lainnya, Jerman adalah negeri eksportir terbesar ketiga di dunia setelah China dan AS, sehingga mengalahkan Belanda dan Jepang (https://www.worldstopexports.com/worlds-top-export-countries/).

Opini Penulis: Dari Jerman, Indonesia bisa belajar salah satu cara yang terbaik untuk tumbuh besar dan sehat plus rasio GINI yang rendah dengan cara: hidup hemat, banyak perusahaan menengah, banyak ekspor produk dan jasa teknologi, tanpa utang bahkan menjadi kreditur besar di dunia.

Selain itu, GDP Jerman (USD 4,2 triliun) menyumbang 28% ke GDP gabungan 27 negeri wilayah Euro sehingga GDP Jerman secara nominal adalah yang terbesar di seluruh Eropa dan nomor empat di dunia setelah AS, China dan Jepang. Karena itu, ketika Italia, Yunani dll mengalami resesi ekonomi dan perlu bantuan uang, Jerman memberikan bantuan uang yang terbanyak dengan membeli obligasi terbitan ECB (Bank Sentral Eropa) dll. Salah satu akibatnya, setiap keputusan penting ECB perlu disetujui oleh Jerman, antara tentang berapa nilai obligasi ECB yang akan diterbitkan untuk mengatasi pandemi dll (Contoh: https://www.politico.eu/article/german-court-clears-ecb-bond-buying-program/).

Jerman adalah negeri terbahagian nomor 7 di dunia (https://happiness-report.s3.amazonaws.com/2021/WHR+21.pdf).

Di ASEAN, Singapura, yang punya hanya SDM yang andal tetapi hampir tidak punya SDA, juga menjawab dengan cara yang mirip: menabung, mengekspor dan menjadi pusat perdagangan plus keuangan Asia Tenggara. Salah satu hasilnya: Singapura adalah negeri terkaya nomor empat di dunia setelah Qatar, Macao & Luxembourg secara pendapatan per kepala (per capita income, atau per capita GDP) (https://www.worldometers.info/gdp/gdp-per-capita/). Singapura juga terkenal sebagai negeri paling bersaing nomor 5 di dunia (https://www.imd.org/centers/world-competitiveness-center/rankings/world-competitiveness/).

Di Asia Timur, China melakukan hal yang serupa dengan Jerman: menabung dan mengekspor. Salah satu hasilnya: cadangan devisa China (USD 3,2 T; terbanyak di dunia) per akhir Agustus 2021. Indonesia punya USD 143 miliar.

Khusus tentang China, FDI disambut dengan hangat, apalagi yang greenfield, alias membuka pabrik baru, bukan takeover pabrik lokal. Salah satu hasilnya: jumlah FDI (FDI stock) di China mencapai USD 3 triliun (sekitar IDR 43.500 triliun, atau IDR 43,5 kuadriliun), yang tidak mencakup laba ditahan dan diinvestasikan kembali oleh para pemilik PMA itu. Jumlah USD 3 triliun itu adalah data resmi pemerintah China sedangkan lembaga-lembaga asing menyatakan “baru” USD 2,5 triliun.

FDI ke China semakin naik

Contoh:

(i) Selama tahun 2020 saja, jumlah FDI ke China mencapai USD 144 miliar (https://www.scmp.com/economy/china-economy/article/3118469/china-fdi-rose-record-level-2020-despite-coronavirus-fastest);

(ii) Selama kuartal pertama tahun 2021 ini saja, jumlah FDI ke China mencapai USD 98 miliar (https://www.piie.com/blogs/china-economic-watch/foreign-investments-china-are-accelerating-despite-global-economic).

Indonesia

Indonesia belum mampu menjawab paradok itu karena rasio ekspor terhadap GDP masih di bawah 20%. Bahkan sebelum pandemi, nilai impor umumnya melebihi ekspor, apalagi ditambah dengan penambahn impor karena dan juga untuk banyaknya proyek pembangunan dan perbaikan infrastruktur di seluruh Indonesia.

Sekarang, dilema itu semakin menuntut jawaban yang segera dan tepat

Sejak pandemi di mulai pada Februari 2020, jutaan usaha kecil dan menengah tutup sehingga mayoritas makan modal mereka. Salah satu akibatnya, walaupun pandemi semakin mereda, mereka tidak punya cukup modal atau tidak punya modal sama sekali, bahkan banyak yang minus, sehingga tidak bisa langsung memulai kembali usaha mereka.

Tentang solusinya, silakan klik link ini:https://lijusu.com/2021/09/16/paradok-penghematan-bagi-indonesia-dan-negeri-lain/.

(TST)

Tjan Sie Tekhttp://www.tjansietek.com/translation.html
A former licensed stock market analyst and investment advisor with 20+ years experience with M.Sc. in Finance from Leicester University; now a Chinese, US and Indonesian macroeconomic and financial analyst, CEO of Center for New Indonesia (CEFNI).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Tamanu Supreme oil, the organic herbal killer of skin diseases and wounds

Famous for its so many health benefits, tamanu trees (Calophyllum inophyllum) grow in Indonesia and other southeast Asian countries and the Indian...

White Cardamom Prime from Indonesia

Famous worldwide for its five fragrances and various health benefits, Indonesian white cardamom grows around the country. We export it and many...

Food-grade Desiccated Coconuts from Indonesia

We are an exporter of fine and extra-fine granulated, halal & kosher-certified grade food-grade desiccated coconuts from Indonesia, Southeast Asia, to Europe,...

Analisa: Utang Evergrande tidak systemic sama sekali

Utang LN Evergrande cuma USD 20 miliar, atau 6,6% dari total kewajiban konsolidasinya yang USD 302 miliarUtang USD 20 miliar itu dipegang...

Recent Comments