Daniel Coleman Ph.D., seorang lulusan Universitas Harvard dan penulis buku terkenal Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional; yang lebih dikenal sebagai EQ) (1995), menulis di halaman xii buku itu bahwa banyak orang dengan IQ tinggi gagal dalam hidup mereka sedangkan orang dengan IQ sedang-sedang saja bisa sukses. Karena itu, dia melakukan penelitian yang mendalam tentang apa factor-faktor sukses dan kegagalan mereka masing-masing. Dengan bantuan hasil-hasil penelitian para ahli ilmu sel syaraf (neuroscientist) dengan bantun teknologi pembuatan gambar cara-cara kerja otak manusia dengan menggunakan pembiasan suara secara magnetis (magnetic resonance imaging; MRI), dia mengemukakan teori kecerdasan emosional (EI; EQ) melalui bukunya yang berjudul Emotional Intelligence (1994, 1995) yang terjual jutaan eksemplar dalam waktu singkat.
Dia mendefinisikan EQ sebagai kemampuan kendali diri, semangat dan ketekunan serta kemampuan untuk memotivasi diri. Keterampilan-keterampilan itu bisa diajarkan kepada anak sehingga memberi mereka kesempatan yang lebih baik untuk memakai potensi intelektual apa pun yang mungkin mereka miliki secara lotere genetis.
Salah satu Manfaat Besar EQ
Dia berkata bahwa seorang salesman yang menerapkan EQ-nya dalam berbicara dan menyajikan produk atau jasa yang dijualnya akan lebih sukses daripada salesman lain yang hanya mengandalkan IQ-nya walaupun tinggi karena sang pembeli lebih percaya pada perkataan salesman yang pertama, misalnya jujur, ber-empati, terus-terang, ramah, informative, sabar dll.
Menurut catatan penulis, salah satu contoh orang yang memiliki EQ tinggi adalah Presiden Xi Jinping dari China yang terkenal mampu stabil dalam emosinya walaupun dalam keadaan tertekan, menderita dll.
Orang-orang yang demikian cocok sebagai juru runding, pemimpin regu, negeri dll.
(TST/LNN)

