Kepailitan Evergrande, mantan real estate developer terbesar di China, tidak mengejutkan banyak pihak yang telah mengetahui masalah Evergrande sejak sebelum 2019. Pada Agustus 2021, Bank Rakyat China (People’s Bank of China; PBoC; bank sentral China) dan China Banking and Insurance Regulatory Commission (CBIRC; Komisi Pengaturan Perbankan dan Asuransi) China bahkan pernah memperingatkan Evergrande secara terbuka (https://www.cnbc.com/2021/08/20/chinese-regulators-meet-with-developer-evergrande-as-scrutiny-on-real-estate-grows.html).
Evergrande menambah kesulitannya dengan mendirikan pabrik mobil listrik dengan mengandalkan utang dan rugi sekitar USD 10 miliar (IDR 150 triliun) selama 2021-2022 saja (https://www.reuters.com/business/autos-transportation/evergrande-electric-vehicle-unit-reports-about-10-bln-loss-2021-2022-2023-07-26/).
Tidak heran harga sahamnya semakin anjlok.
Lihat grafik penurunan drastis harga saham Evergrande sejak 2019 di Bursa Efek Hong Kong (dalam HKD):
Untuk melihat analisa persoalan Evergrande dan apakah kepailitannya akan berdampak sistemik pada ekonomi China, silakan baca: https://lijusu.com/analisa-masalah-evergrande-tidak-systemic-sama-sekali/
(TST/LNN)

