Site icon lijusu.com

Peluang Indonesia dari hilirisasi bauksit: Produsen galium nomor 2-4 di dunia pada 2045

Kebutuhan galium (Ga) dan sejenisnya semakin naik

Situs www.strategicmetalsinvest.com menulis sebagai berikut:

Seiring dengan terus meningkatnya ketergantungan kita pada teknologi, permintaan akan galium akan terus meningkat. Banyak produk populer dan penting yang sudah menggunakan logam yang sangat penting ini. Pada saat yang sama, teknologi baru terus dikembangkan yang membutuhkan galium, misalnya teknologi seluler 5G yang menggunakan chipset arsenida galium. Chipset itu hemat energi dan menghasilkan sedikit panas, yang berarti stasiun dasar 5G tidak membutuhkan daya atau pendingin udara sebanyak chipset silikon.

Huawei Calon Penguasa Teknologi dan Pengembangan Manfaat Galium

Seiring dengan pergeseran industri semikonduktor dari silikon ke galium, Tiongkok dan perusahaan pembuat chipnya, Huawei, sedang bersiap mengambil posisi terdepan. Mereka akan mendominasi pasar produk yang menggunakan chip berbahan galium dalam beberapa tahun ke depan.

Huawei sudah mengajukan 2.000 paten yang terkait dengan galium, lebih banyak daripada perusahaan lain mana pun (di dunia).

Kekhawatiran AS & UE tentang Pasokan Galium

Selain digunakan dalam chipset stasiun dasar 5G, nitrida galium digunakan dalam radar militer, laser, dan satelit. Hal itu menjadikannya salah satu dari 35 unsur yang dianggap sebagai kekhawatiran keamanan nasional oleh pemerintah AS dan Eropa. Dengan Tiongkok mengendalikan produksi secara besar-besaran (95%; editor lijusu.com: sesungguhnya 97%), semakin banyak kekhawatiran tentang bagaimana perusahaan-perusahaan yang berkedudukan di AS dan UE akan mendapatkan galium dalam beberapa tahun mendatang.

Diperkirakan (Sumber: Institut Fraunhofer) bahwa di Eropa sendiri pada tahun 2030, kita (orang Eropa) akan mengonsumsi galium sebanyak 7 hingga 26 kali lebih banyak daripada yang kita konsumsi saat ini.

Untuk lebih memahami konteksnya, mari kita lihat Austria, negeri dengan 9 juta orang penduduk, salah satu negeri terkecil di Eropa. Menurut Kementerian Pertanian, Wilayah, dan Pariwisata Federal Austria, Austria akan membutuhkan produksi sebanyak 4,5 lipat kebutuhan galium sedunia (!!!) (editor lijusu.com: 300 ton selama tahun 2022 saja; Harga galium murni: sekitar IDR 8 miliar/ton) untuk rencana ekspansi ke energi terbarukan.

Bayangkan berapa ratus lipat, atau berapa puluh ribu ton, atau bahkan berapa ratus ribu ton per tahun yang dibutuhkan oleh negeri sedunia di masa depan (Lihat contoh kebutuhan Austria di atas)!!! Nilainya dengan harga saat ini: antara IDR 750 T (USD 50 miliar) dan IDR 1.500 T (USD 100 miliar)!!! Di luar nilai itu adalan peran sangat pentingnya dalam produk teknologi yang canggih: panel surya, HP, komputer, laser dll Bagaimana dengan kesiapan Indonesia?

Tiongkok habiskan 25 Tahun untuk jadi Pemimpin Industri Galium

Kami sudah menyebutkan bahwa Tiongkok mendominasi pasokan dengan 95%. Tetapi di sinilah hal yang lebih menarik mengenai Tiongkok: Mereka butuh waktu satu generasi untuk menjadi pemimpin pasar yang dominan dalam galium. Walaupun AS, UE, dan negeri-negeri lain sekarang sedang mengambil tindakan untuk mengurangi ketergantungan pada Tiongkok, menciptakan sumber pasokan baru yang berkelanjutan akan membutuhkan waktu 10 hingga 15 tahun.

Yang lebih penting, dibutuhkan setidaknya 10 tahun untuk mengembangkan keahlian rekayasa dan modal manusia (SDM) yang diperlukan. Sejak akhir tahun 1980-an, SDM dan keahlian rekayasa itu telah berkurang, terutama di AS.

Untuk memberikan gambaran, Tiongkok memiliki 39 buah universitas yang telah meluluskan ratusan ribu orang insinyur dalam bidang mineral-mineral yang sangat penting, sedangkan AS hanya memiliki beberapa. Tiongkok meluluskan sekitar 200 orang ahli metalurgi setiap minggu (atau sekitar 10.000 orang per tahun) selama 30 tahun terakhir!!! AS? Mungkin hanya 200 orang per tahun!!!

Editor lijusu.com: Mayoritas orang AS tidak suka pekerjaan penambangan yang kotor, kuno, berat, sulit dll. Mereka lebih suka profesi keuangan, politik, manajemen, pasar modal, teknologi digital dan sejenisnya.

Perkiraan industri ini adalah bahwa Tiongkok sudah memiliki 400.000 orang yang bekerja di logam tanah jarang dan teknologinya dan AS hanya memiliki 400 orang!!!

Tidak diragukan lagi, Eropa, AS, dan negeri-negeri lainnya akan membutuhkan satu generasi (25 tahun) untuk mengejar ketertinggalan, jika mereka bisa mengejarnya sama sekali. Sementara itu, kita di Barat harus menunggu giliran untuk apa yang akan diekspor oleh Tiongkok setelah mereka memenuhi kuota domestik mereka.

Mengingat pentingnya galium bagi ekonomi banyak sekali negeri dan ketergantungan pasokan pada Tiongkok untuk masa depan yang dapat diperkirakan, diprediksi bahwa harga unsur langka ini akan semakin terbebani dalam beberapa tahun mendatang… dan, dengan demikian, akan naik secara besar dalam jangka menengah.

Bauksit dan seng adalah sumber bijih galium

Indonesia punya cadangan bauksit dalam jumlah yang sangat besar, terutama di Provinsi Kepulauan Riau,Provinsi Bangka-Belitung dan Provinsi Kalimantan Barat. Galium adalah salah satu produk sampingan bauksit ketika diproduksi menjadi alumunium. Galium juga produk sampingan hilirisasi bijih seng. Itulah salah satu peluang hilirisasi mineral.

Kandungan galium di bijih bauksit sedikit sekali, rata-rata 50 ppm, atau 0,05 gram/kg

Menurut “Compilation of Gallium Resource Data for Bauxite Deposits (2013), kisaran kandungan galium di bijih bauksit adalah <10 ppm sampai 812 ppm: bauksit laterit (banyak di Indonesia): <8 ppm sd 146 ppm; bauksit jenis karst: 6,3 ppm sampai 812 ppm. Jadi, potensi produksi galium Indonesia berdasarkan kapasitas produksi bauksitnya adalah antara 8 sampai 146 X 30 TM atau antara 180 TM dan 4.380 TM per tahun. Jika 180 TM per tahun (angka paling rendah) dan Tiongkok tetap dengan angka 290 TM per tahun karena mengandalkan impor bauksit san negeri-negeri lain “malas” atau tidak efisien dalam memproduksinya, Indonesia bisa menjadi produsen galium terbesar nomor 2 di dunia!!! Angka itu bertambah besar jika para ahli dan investor menemukan bauksit jenis karst dengan kandungan yang lebih tinggi daripada 8 ppm di Indonesia.

Indonesia sebaiknya serius mengembangkan produk-produk elektronik yang canggih dan memerlukan galium sehingga Indonesia bisa menjadi pesaing berat Tiongkok di masa depan.

Tantangan investasi Pabrik Alumina (Bahan Pokok Alumunium)

Nilai investasi per smelter alumina yang layak umumnya USD 1,2 miliar (IDR 18 T), atau 3 X nilai investasi smelter nikel dengan status yang sama. Itulah salah satu sebab hilirisasi bijih nikel bisa “ngebut” sedangkan yang bauksit lambat sekali. Sangat sedikit investor nasional yang berani melakukannya atau punya dana sebesar itu.

Baca juga: https://lijusu.com/china-produsen-97-galium-dan-70-jermanium-sedunia-untuk-hp-komputer-pesawat-tempur-dll/

(TST/LNN)

Exit mobile version