Sunday, April 26, 2026
HomeEconomyICOR: Uraian, Pemakaian & Keterbatasannya

ICOR: Uraian, Pemakaian & Keterbatasannya

Tjan
Tjanhttp://www.tjansietek.com
A former licensed stock market analyst and investment advisor with 20+ years experience with M.Sc. in Finance from Leicester University; former college lecturer in English for Buddhism; a former chess instructor and competitive chess player; translator of My Sixty Memorable Games, written by Bobby Fischer, a former US citizen, a famous former world chess champion (1972-1975), into Indonesian (in 1986 for limited distribution only); currently a senior sworn translator with 44+ years' experience, a senior member of the Indonesian Translators Association; a Chinese, US and Indonesian macroeconomic and financial analyst, CEO of Center for New Indonesia (CEFNI).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments

ICOR: Uraian, Pemakaian & Keterbatasannya

Rasio Modal Tambahan berbanding output atau hasil tambahan (ICOR) adalah rasio (angka perbandingan, bukan persentase) kasar yang sering digunakan untuk menjelaskan hubungan antara tingkat investasi (aset fisik) tambahan yang dilakukan dalam perekonomian sebuah negeri, misalnya Indonesia, dan peningkatan selanjutnya atau peningkatan yang timbul dari investasi tersebut dalam produk domestik bruto (PDB) secara nyata atau real, bukan nominal. ICOR menunjukkan unit tambahan modal atau investasi yang diperlukan untuk menghasilkan satu unit tambahan output, atau investasi tambahan yang diperlukan untuk meningkatkan output, yang dalam hal ini adalah pertumbuhan GDP secara nyata atau real, bukan nominal.

ICOR dapat dihitung sebagai berikut:

ICOR= investasi tahunan bruto dalam aset fisik terhadap PDB dibagi kenaikan tahunan PDB secara real atau nyata

Contoh: Saat ini ICOR Indonesia mencapai 7,6 (bukan 7,6%), yang lebih tinggi daripada ICOR Malaysia yang 4,4 (bukan 4,4%) ((investor.id, 16 Agustus 2023, https://www.pwc.com/id/en/media-centre/infrastructure-news/august-2023/towards-advanced-indonesia.html).

 Itu berarti modal investasi sebesar USD 7,6 diperlukan untuk menghasilkan produk (GDP) tambahan sebesar USD 1.

Jika ICOR Indonesia turun pada 2024 menjadi 7, itu menunjukkan bahwa Indonesia menjadi lebih efisien dalam penggunaan modalnya.

Hubungan antara ICOR dan Motivasi berinvestasi Aset Fisik

  1. Semakin tinggi ICOR, semakin banyak modal tambahan yang diperlukan untuk menghasilkan satu unit output/produk tambahan ceterus paribus (jika faktor-faktor lainnya tetap. Itu berarti semakin rendahnya produktivitas modal yang ditanam).
  2. Jika suku bunga juga tinggi ceterus paribus, ICOR yang juga tinggi secara umum menjadikan semakin sulitnya investor membayar bunga dan juga mendapatkan laba bersih.
  3. Akibatnya para investor menurunkan nilai rencana investasi aset fisiknya atau berpikir matang sekali sebelum membangun atau membeli aset fisik karena semakin sulit bagi mereka untuk membayar bunga investasi atau mendapatkan keuntungan bersih.
  4. Suku bunga yang rendah umumnya ceterus paribus masih mendorong niat berinvestasi sepanjang tidak ada jebakan likuiditas, dengan syarat produktivitas modal lebih tinggi daripada suku bunga.
  5. Itu berarti hubungan antara ICOR, suku bunga dan minat investasi: 5.1 Suku bunga yang tinggi (>6%), misalnya seperti ini di Indonesia, dan ICOR yang tinggi semakin menurunkan investasi dalam aset fisik dan juga riset & pengembangan (R&D) yang mahal dan berjangka pankang (itu pun kalau sukses); 5.2 Suku bunga rendah (<6%) dan ICOR yang rendah ceterus paribus dan tidak ada jebakan likuiditas mendorong minat investasi.
  6. Lihat grafik di bawah ini tentang hubungan antara investasi baru atau modal tamabahan dan suku bunga:

Ringkasan:

  1. Arti setiap kata: incremental= bersifat (sebagai) tambahan yang kecil; increment = tambahan kecil; capital= modal, yaitu aset tetap; rasio= perbandingan
  2. Semula, kepanjangan ICOR ditulis sebagai incremental capital/output ratio
  3. ICOR menjelaskan hubungan antara tingkat investasi yang dilakukan dalam ekonomi dan peningkatan PDB yang menyusul.
  4. ICOR adalah ukuran yang menilai jumlah tambahan (incremental) modal investasi yang diperlukan untuk sebuah negeri atau entitas lain untuk menghasilkan satu unit produksi berikutnya atau sebagai hasil investasi itu.
  5.  ICOR yang lebih rendah diinginkan karena menunjukkan lebih efisiennya produksi negeri yang bersangkutan dan efisiennya uang investasi.
  6. ICOR nol (nihil) berarti tidak ada investasi tambahan dan juga tidak ada pertumbuhan atau kenaikan PDB di negeri yang bersangkutan. Karena itu, setiap negeri di dunia, misalnya Indonesia, Tiongkok, selalu melakukan investasi dalam aset tetap setiap tahun.
  7. Negeri yang sedang berkembang (developing country atau developing economy) pada umumnya dengan mudah mencapai ICOR yang rendah, biasanya di bawah 4 karena peluang pertumbuhan PDB mereka besar sekali, sebagai salah satu keuntungan bagi negeri itu. Perumpamaannya: ada banyak buah yang bergantungan rendah (low-hanging fruit) dan mudah dipetik, misalnya masih sedikit pabrik: air minum mineral, baja, semen, tekstil dll padahal produk-produk mereka dibutuhkan oleh banyak orang, apalagi jumlah penduduk naik terus setiap tahun.
  8. Ketika negeri itu semakin berkembang (sehingga masuk golongan negeri yang berpendapatan menengah), negeri itu biasanya semakin kurang efisien sehingga akan mulai mengalami kenaikan ICOR, seperti yang sedang dialami oleh Indonesia, Tiongkok dll saat ini karena semakin berkurangnya atau bahkan tidak ada lagi low-hanging fruit.
  9. Berkurangnya atau tidak adanya lagi low-hanging fruit menjadikan semakin tingginya nilai investasi aset tetap yang diperlukan untuk memelihara pertumbuhan ekonomi (PDB) sebuah negeri, misalnya 5% per tahun, seperti di Indonesia, Tiongkok.
  10. Secara umum, sektor industri manufaktur dan proses yang berkontribusi di atas 25% ke PDB sebuah negeri membantu pemeliharaan ICOR agar tetap rendah atau menengah. Tetapi, ICOR akhirnya menjadi tinggi juga, apalagi jika negeri itu sudah menjadi negeri maju (advanced country atau advanced economy) yang ruang untuk pertumbuhan GDP-nya semakin sempit, misalnya mayoritas negeri Eropa Barat, Jepang, AS.
  11. Sejumlah cara untuk mengatasi tingginya atau naiknya ICOR adalah (i) rakyat negeri itu bekerja dengan secepat mungkin, seefisien mungkin dan juga seproduktif mungkin, (ii) adanya kerja sama yang baik di antara pelaku usaha dan pemerintah, (iii) pelatihan para pegawai agar bekerja semakin efisien dan produktif; (iv) rendahnya biaya bunga pinjaman atau kredit; (v) semakin efisiennya pemakaian infrastruktur; (vi) kemajuan teknologi melalui inovasi dan kenaikan tingkat tekonologi; alokasi sumber-daya (modal, alam, manusia) yang efisien; (vii) manajemen yang tepat-hasil (efektif); (viii) pemeliharaan kondisi ekonomi: laju inflasi, suku bunga pinjaman, bahkan goncangan dari dalam negeri dan pencegahan atau peringanan (mitigasi) goncangan dari luar negeri; (ix) Kebijakan pemerintah yang kondusif terhadap ekonomi; (x) Dll.
  12. Dll. Silakan baca terus artikel ini.

Perbandingan ICOR Indonesia dan Tiongkok

  1. Kenaikan ICOR Indonesia

Pada 2019, tercatat ICOR Indonesia sebesar 6,8 sementara rata-rata ICOR beberapa negeri ASEAN (Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam) selama waktu tersebut adalah 3,7: Malaysia 5,4, Filipina 4,1, Thailand 4,4 dan Vietnam 3,7.

Pada 2021, ICOR Indonesia justru meningkat tajam ke angka 8 meskipun kemudian mengalami penurunan pada 2022 menjadi 6,2 sedangkan ICOR beberapa negeri ASEAN yang disebutkan di atas relatif tidak berubah. Dengan demikian, sejak tahun 2019 hingga 2022, ICOR Indonesia cenderung tinggi melampaui rata-rata ICOR beberapa negeri Asean (https://investor.id/opini/321927/selayang-pandang-icor-indonesia-dibanding-di-asean).

Dokumen UNCTAD yang menganalisa ICOR Indonesia selama masa 2012-1019, yang berjudul “Indonesia’s Macroeconomic and Finance Policy Framework for Structural Transformation ((https://unctad.org/system/files/official-document/BRI-Project_RP08_en.pdf),” melaporkan bahwa tingkat ICOR Indonesia cenderung naik dari tahun ke tahun dan pada 2019 mencapai 6,6 (lihat grafik di bawah ini.

Pada 2018, ICOR Indonesia mencapai sekitar 6,3 sedangkan yang Vietnam 5,2, Malaysia 4,6, Thailand 4,5 dan Filipina 3,7.

2. Kenaikan ICOR Tiongkok

Grafik di atas menujukkan bahwa ICOR Tiongkok naik terus sejak 2008 (sekitar 4) sd 2019 (sekitar 7).

3. ICOR Tiongkok sedikit lebih rendah daripada yang Indonesia

Grafik di atas menunjukkan bahwa pada 2018, ICOR Tiongkok (sekitar 6) sedikit lebih rendah daripada yang Indonesia walaupun PDB per kepala di Indonesia baru sekitar (USD 3.902), atau sekitar 39,39% daripada yang Tiongkok (USD 9.905).

4. Contoh Pemakaian ICOR di India

Situs investopedia.com menulis sebagai berikut:

Antara 1947-2017, ekonomi India didasarkan pada konsep perencanaan dan dilaksanakan melalui Rencana Lima Tahun (Repelita).  Repelita yang ke-12 adalah yang terakhir karena tidak ada Repelita ke-13.

Komisi Perencanaan India menentukan tingkat investasi yang diperlukan untuk mencapai hasil pertumbuhan yang berbeda dalam Repelita ke-12 yang berakhir pada Maret 2017. Untuk tingkat pertumbuhan 8%, tingkat investasi pada harga pasar perlu mencapai 30,5%, sementara untuk tingkat pertumbuhan 9,5%, diperlukan tingkat investasi sebesar 35,8%.

Tingkat investasi di India turun dari 36,8% dari PDB selama 2007 hingga 2008 menjadi 30,8% selama 2012 hingga 2013. Tingkat pertumbuhan GDP selama periode yang sama juga turun dari 9,6% (ICOR 3,8) menjadi 6,2% (ICOR 4,96).

Jelas, penurunan pertumbuhan ekonomi India selama periode itu lebih dramatis dan curam daripada penurunan tingkat investasinya. Karena itu, pasti ada alasan di luar tingkat tabungan dan tingkat investasi yang menjelaskan penurunan tingkat pertumbuhan PDB India. Sebaliknya, ekonomi India semakin tidak efisien.

Lihat grafik di bawah ini untuk ICOR India selama masa 2012-2023 (perkiraan):

Sumber: SBI Research, ECOWRAP, Issue No. 62, FY23, 7 March 2023

5. Keterbatasan ICOR sebagai Indikator Ekonomi

  1. Di Indonesia

Di negeri yang terdiri dari lebih dari 17.000 buah ini, ICOR tidak menunjukkan hasil-hasil keuangan yang tidak terekam oleh GDP: naiknya harga lahan, bangunan dll di sekitar jalan-jalan yang baru diperbaiki atau baru dibangun, bendungan dll, sehingga puluhan jutan orang sesungguhnya telah bertambah kaya antara 100%-1.000%. Contohnya: di Pulau Halmahera, Kabupaten Morowali (Sulawesi), ratusan ribu hektar lahan milik penduduk setempat dll mengalami kenaikan sd 1000% selama 7-8 tahun terakhir ini. Sebagian teman penulis yang tinggal di sana bercerita kepada penulis.

ICOR juga tidak mencakup hasil-hasil non-keuangan, misalnya kemudahan pergerakan orang dan barang, kenyamanan hidup, kepuasan masyarakat,  dari pembangunan infrastruktur di pelosok banyak pulau: Sumatera, Sulawesi, Kalimantan. Teman saya yang berasal dari Sumut sangat bahagia karena sekarang ia irit waktu dan biaya ketika pulang kampung. Demikian juga para warga di daerahnya.

Selain itu, aneka investasi infrastruktur di berbagai daerah di Indonesia belum dipakai secara optimal sebagian karena dampak pandemi Covid-19.

B. Jeda antara Investasi dan Hasilnya

Arun Ghosh menulis sebuah artikel panjang yang berjudul “Capital Output Ratio—Its Uses and Abuses, “ di The Economic Weekly, 23 Juni 1956 sebagai berikut:

  1. Kesulitan yang pertama terkait dengan perputaran proses produksi, dan meskipun tampaknya sederhana, menyebabkan kesulitan dalam menafsirkan ICOR. Dengan variasi masa-masa ‘inkubasi’ investasi, bahaya dari penyamaan waktu investasi dan output tampak nyata. Yang tidak begitu jelas adalah dalam kondisi persaingan yang memungkinkan adanya sejumlah ‘kekumuhan’ modal – ICOR, yang disesuaikan dengan nilai diskonto output selama periode masa pakai modal yang diperkirakan, seharusnya setara untuk semua investasi. Karena itu, dalam menghitung ICOR, apakah harus memperhitungkan jeda antara investasi dan akumulasi output?

Jika tidak ada perhitungan untuk jeda itu, investasi yang matang dengan cepat akan tampak menguntungkan dibandingkan dengan investasi yang matangnya lebih lambat tetapi yang pada akhirnya mungkin lebih baik.

Di sisi lain, setelah memperhitungkan jeda tersebut, tidak satu pun perhitungan ICOR memiliki arti. Tidak hanya konsepnya akan samar, pengukuran ICOR pun akan hampir tidak mungkin.

2. Kesulitan lain yang relatif kecil adalah bahwa dalam sebuah perekonomian yang sedang berkembang, ICOR pasti selalu meningkat. Sekali lagi, hal itu berasal dari ‘jeda’ antara investasi dan akumulasi output sehingga dalam periode investasi yang sedang berkembang, ICOR akan selalu cenderung naik.

3. Namun, kesulitan utama dalam pengukuran ICOR, tanpa memandang apakah konsep rata-rata atau konsep marjinal yang dibahas, adalah bahwa biaya investasi dalam ‘pelatihan’ dll. jarang atau tidak pernah dianggap sebagai bagian dari investasi karena alasan konseptual dan kesulitan pengukuran.

Dengan kompleksitas yang semakin meningkat dalam proses produksi, tenaga kerja harus memperoleh keterampilan dan pengetahuan teknis. Selain itu, perlunya memperhitungkan biaya pelatihan dll. sebagai biaya investasi overhead untuk diakui hampir secara universal.

Tetapi dalam praktiknya, perhitungan semacam itu jarang dilakukan hanya karena tidak semua pengeluaran untuk pendidikan dapat (atau seharusnya) dianggap sebagai investasi. Dengan demikian, pengeluaran untuk kesehatan dan bahkan untuk makanan bergizi dapat dilihat sebagai “investasi.” (Bahaya pemecahan rambut secara logis adalah bahwa sesungguhnya dalam teori tidak ada batas untuk sejauh mana “pemecahan” rambut tersebut dapat terjadi sampai rambut diuraikan menjadi “elektron” atau “proton.”

4. Di negeri maju dan sedang maju

Memperkirakan ICOR dengan akurat dapat melibatkan banyak soal. Keluhan utama para kritikus adalah ketidak-mampuan ICOR untuk beradaptasi dengan bidang-bidang ekonomi baru yang semakin didorong oleh aset tak berwujud—seperti desain, merek, riset dan pengembangan (R&D), perangkat lunak—yang sulit diukur atau dicatat.

Aset tak berwujud lebih sulit untuk dimasukkan ke dalam perhitungan tingkat investasi dan PDB daripada aset berwujud, seperti mesin, bangunan, dan komputer.

Opsi yang berdasarkan permintaan, misalnya perangkat lunak sebagai layanan (SaaS), telah sangat mengurangi kebutuhan investasi dalam aset tetap. Kenyataan itu dapat diperluas lebih jauh dengan munculnya model-model “sebagai layanan” untuk hampir segala hal. Semua hal itu mengakibatkan perusahaan-perusahaan menambah tingkat produksinya dengan barang-barang yang sekarang dianggap sebagai pengeluaran, bukan modal, dan dengan demikian dianggap sebagai investasi.

Beberapa kritikus ICOR mengusulkan bahwa penggunaan ICOR terbatas karena lebih mendukung negeri berkembang yang dapat meningkatkan infrastruktur dan penggunaan teknologi dibandingkan dengan negeri maju, yang beroperasi pada tingkat tertinggi yang mungkin.

Beberapa kritikus ICOR lainnya mengusulkan bahwa penggunaannya terbatas karena ada keterbatasan tentang kemungkinan seberapa efisien sebuah negeri berdasarkan teknologi yang tersedia. Sebagai contoh, sebuah negeri berkembang secara teoretis dapat meningkatkan PDB-nya dengan angka yang lebih besar dengan jumlah sumber daya yang sama dibandingkan dengan negeri maju sejawatnya.

Itu terjadi karena negeri maju beroperasi dengan teknologi dan infrastruktur yang tertinggi sedangkan negeri berkembang memiliki ruang untuk meningkat. Peningkatan lebih lanjut di negeri maju harus berasal dari penelitian dan pengembangan (R&D) yang lebih mahal sedangkan negeri berkembang dapat menerapkan teknologi yang sudah ada untuk memperbaiki situasi ekonominya.

5. Contoh keterbatasan ICOR di India

Situs drishtiias.com menulis artikel yang berjudul: Economic Insights Beyond GDP: ICOR (https://www.drishtiias.com/daily-updates/daily-news-analysis/economic-insights-beyond-gdp-icor):

(i) Dampak Ekonomi Informal: Ekonomi informal di India luas dan dinamis, tetapi sebagian besar beroperasi di luar cakupan pengumpulan data formal. o Interaksi sektor informal dengan sektor formal dapat kompleks dan sulit untuk diakurasi dalam perhitungan ICOR.

Akibatnya, ICOR mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan kontribusi sektor informal terhadap pertumbuhan ekonomi dan efisiensi modal.

(ii) Distorsi Harga: ICOR didasarkan pada nilai nominal investasi dan output, yang dipengaruhi oleh perubahan harga dari waktu ke waktu.

Karena itu, inflasi atau deflasi dapat merusak hubungan sejati antara investasi dan output, menghasilkan hasil ICOR yang menyesatkan. o Juga, perolehan perhitungan ICOR yang dapat diandalkan dapat terhambat oleh ketersediaan dan akurasi data.

(iii) Kendala Infrastruktur: Meskipun ICOR menurun, India terus berjuang dengan kendala infrastruktur.

Hal itu bisa berarti bahwa walaupun investasi modal yang baru relatif efisien, keterbatasan-keterbatasan infrastruktur yang sudah ada bisa menghambat efisiensi ekonomi dan produktivitas secara keseluruhan.

(iv) Kesenjangan antar-wilayah:

Perbedaan-perbedaan antar-wilayah di India dapat secara signifikan mempengaruhi interpretasi ICOR. Penurunan ICOR nasional mungkin menyembunyikan disparitas di mana beberapa wilayah mendapatkan manfaat dari penggunaan modal yang lebih efisien sementara yang lain tertinggal.

(v) Pembelokan Sumber Daya Alam: ICOR yang lebih rendah mungkin tidak mencerminkan pembelokan sumber daya alam, yang dapat menyebabkan tantangan untuk keberlanjutan jangka panjang.

Industri bermodal intensif yang mengeksploitasi sumber daya alam dapat menunjukkan penurunan ICOR sekaligus merugikan lingkungan.

C. Cara-cara untuk meningkatkan kualitas ICOR

Artikel yang sama mengusulkan sebagai berikut:

1.Analisis Regional dan Sektoral: Daripada hanya analisis tingkat nasional, perlu dilakukan penilaian regional dan sektoral terhadap ICOR.

Hal itu memungkinkan pemahaman yang lebih rinci di mana investasi modal paling efisien dan di mana perbaikan diperlukan. Kebijakan yang ditargetkan kemudian dapat dirancang sesuai.

  • Blockchain untuk Pencatatan Data Transparan: Memanfaatkan teknologi blockchain untuk memastikan pencatatan data ekonomi yang transparan dan tahan manipulasi, dapat mengurangi risiko manipulasi data atau ketidakakuratan. Ini dapat meningkatkan keandalan perhitungan ICOR.
  • Kolaborasi Pemerintah-Swasta: Mendorong kolaborasi antara sektor publik dan swasta untuk bersama-sama mengatasi ketidakefisienan alokasi modal.

Kemitraan pemerintah-swasta dapat memanfaatkan sumber daya, keahlian dan inovasi untuk proyek infrastruktur dan pengembangan yang lebih efisien.

D. Apa faktor-faktor di Balik Penurunan ICOR di India?

  1. Inovasi Ekonomi dan Teknis: India telah menjadi tempat inovasi yang berorientasi pada biaya sehingga banyak sekali perusahaan mengembangkan solusi yang efektif biaya dengan modal investasi minimal dan penggantian kerusakan minimal. Sebagai contoh, perusahaan seperti Tata Motors mengembangkan mobil Nano, salah satu alternatif berbiaya rendah untuk penduduk kelas menengah, menunjukkan bagaimana inovasi hemat biaya dapat menghasilkan ICOR yang lebih rendah.

2. Diversifikasi Ekonomi: Pergeseran India menuju ekonomi yang lebih berorientasi pada jasa dan teknologi mengurangi intensitas modal dari aktivitas ekonomi. Layanan seperti TI dan pengembangan perangkat lunak biasanya memerlukan modal yang lebih sedikit per unit output dibandingkan dengan manufaktur tradisional.

3. Antar-muka Pembayaran yang Menyatu (Unified Payments Interface; UPI) yang dikembangkan oleh National Payments Corporation of India (NPCI) telah menjadi sistem pembayaran digital yang hemat biaya dan efisien, yang mempercepat inklusi keuangan dan membuat transaksi lebih mudah diakses oleh lebih banyak penduduk. Namun, penting untuk berhati-hati dan menjaga pendekatan seimbang dengan juga mengembangkan sektor manufaktur.

4. Manufaktur yang Terdesentralisasi: Munculnya manufaktur terdesentralisasi dan terdistribusi dengan menggunakan pencetakan 3D dan teknologi lain telah mengurangi kebutuhan akan pabrik yang terpusat dan investasi modal besar dalam fasilitas produksi berskala besar. Kantor pos pertama yang dicetak secara 3D di India telah diresmikan di Bengaluru.

5. Integrasi Kecerdasan Buatan (AI) dan Pembelajaran Mesin: Kecerdasan Buatan dan Pembelajaran Mesin (ML) memainkan peran kunci dalam menurunkan ICOR di India dengan meningkatkan efisiensi dan produktivitas di berbagai sektor.

Sebagai contoh, dalam bidang kesehatan, diagnosis berbasis AI mengurangi ketergantungan pada peralatan yang mahal, menurunkan ICOR sektor kesehatan. Dalam manufaktur, pemeliharaan secara prediktif yang berdasarkan ML mengurangi waktu henti dan memperpanjang umur mesin, mengurangi kebutuhan penggantian modal yang sering. Selain itu, pertanian presisi yang didukung AI dalam pertanian meningkatkan pemanfaatan sumber daya, menghasilkan hasil panen yang lebih tinggi dengan pengeluaran modal yang lebih rendah.

(TST/LNN)

Tjan
Tjanhttp://www.tjansietek.com
A former licensed stock market analyst and investment advisor with 20+ years experience with M.Sc. in Finance from Leicester University; former college lecturer in English for Buddhism; a former chess instructor and competitive chess player; translator of My Sixty Memorable Games, written by Bobby Fischer, a former US citizen, a famous former world chess champion (1972-1975), into Indonesian (in 1986 for limited distribution only); currently a senior sworn translator with 44+ years' experience, a senior member of the Indonesian Translators Association; a Chinese, US and Indonesian macroeconomic and financial analyst, CEO of Center for New Indonesia (CEFNI).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments