Friday, January 30, 2026
HomeOpinionAI bukan akhir studi bahasa asing—melainkan peluang untuk kelahiran kembali

AI bukan akhir studi bahasa asing—melainkan peluang untuk kelahiran kembali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments

AI bukan akhir studi bahasa asing—melainkan peluang untuk kelahiran kembali

Seiring kemunculan kecerdasan buatan (AI), studi bahasa asing menghadapi tekanan yang semakin besar untuk maju atau tertinggal. AI bukan akhir dari cabang ilmu ini, melainkan sebuah peluang untuk kelahiran kembali.

AI bukanlah akar penyebab krisis dalam studi bahasa asing. AI hanya memperjelas persoalan struktural yang telah lama ada.

Tiga tantangan

Tantangan pertama adalah penggantian keterampilan. Alat-alat seperti Qwen, DeepSeek dan ChatGPT mampu memberikan terjemahan presisi tinggi dan tulisan standar dalam hitungan detik, serta dapat digunakan untuk kompetensi profesional inti seperti pencarian literatur dan komunikasi lintas budaya. Jika studi bahasa asing tetap terbatas hanya sebagai alat pelatihan bahasa semata, relevansinya akan dipertanyakan.

Tantangan kedua adalah posisi yang sudah ketinggalan jaman. Selama puluhan tahun, pendidikan bahasa asing menekankan pembentukan identifikasi mahasiswa terhadap budaya negara asal bahasa tersebut, sementara mengabaikan peran mendasar bahasa asing sebagai “sarana komunikasi lintas budaya” yang mendukung strategi nasional. Sebagian pendidik merespons kehadiran AI dengan sikap menghindar, tanpa inovasi yang selaras dengan kebutuhan dunia nyata.

Ketiga, untuk melangkah maju, studi bahasa asing harus menghadapi tiga hal yang tak terelakkan: tidak menghindari (1) tekanan penggantian peran akibat AI, (2) kesalahan historis dalam posisi cabang ilmu ini, dan (3) integrasi teknologi.

Diperlukan peningkatan konseptual. AI memang mampu menggantikan pelatihan bahasa yang bersifat mekanis, tetapi tidak dapat meniru kedalaman pemahaman lintas budaya, kebijaksanaan dalam value judgment (penilaian sesuatu sebagai baik atau buruk menurut standar dan prioritas seseorang) maupun kepedulian humanis yang menjadi fondasi komunikasi yang efektif.

Tujuan bergeser dari “pengguna alat bahasa” ke konikator strategis lintas bahasa”

Tujuan pelatihan bahasa asing harus bergeser dari mencetak “pengguna alat bahasa” menjadi membentuk “komunikator strategis lintas budaya.” Pengembangan talenta harus disatukan erat dengan upaya mempromosikan budaya nasional secara global sehingga jelas bahwa tujuan mempelajari bahasa asing bukanlah untuk memakai budaya lain melainkan untuk memahaminya demi mendukung strategi nasional.

Dari sisi teknologi, studi bahasa asing harus membangun model kolaboratif “bahasa asing + bahasa nasional + AI + strategi nasional,” yang didukung oleh tim pengajar lintas (cabang) ilmu yang menggabungkan keahlian di bidang bahasa, AI, dan bidang spesialis lainnya. Mahasiswa harus mengembangkan literasi profesional, kompetensi data berbasis AI, dan keterampilan komunikasi lintas budaya.

AI menandai awal kelahiran kembali studi bahasa asing

Era AI bukanlah akhir melainkan awal kelahiran kembali studi bahasa asing. Waktu sangat penting: menyadari perlunya reformasi berarti harus bertindak cepat dan tepat. Dengan AI sebagai pendorong, studi bahasa asing dapat berevolusi dari ilmu humaniora yang terpinggirkan menjadi pilar utama yang mendukung komunikasi internasional, strategi nasional, dan pembangunan sosial yang lebih luas.

Sumber: TST/YG 9 Desember 2024 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments