Kita perlu bangga bahwa sudah beberapa tahun ini Indonesia adalah penghasil dan eksportir terbesar crude palm oil (CPO; minyak kelapa sawit kasar atau mentah) di dunia. CPO adalah penghasil besar devisa kita (naik tajam dari sekitar USD 13.5 miliar pada 2020 menjadi USD 28,52 miliar pada 2021, atau sekitar 54%). Saat ini harga CPO lumayan (sekitar USD 836/ton per 22 November 2022). Di Malaysia, biaya produksi CPO secara umum sekitar USD 1.200 per ton. Jadi, perkebunan sawit di di sana yang kurang efisien dll merugi banyak setiap hari (per 22 November 2022). Tetapi, di Indonesia, sejumlah perkebunan sawit yang besar, efisien, dan punya pabrik CPO masih bisa untung karena biaya produksinya di bawah USD 700/ton. Saat ini, para petani kecil mendapatkan harga sekitar Rp 1.850 per kg tandan buah segar (TBS), yang melebihi biaya produksi dan pemeliharaan pohon sawit mereka sehingga mereka happy (https://aceh.tribunnews.com/2022/11/21/harga-sawit-di-aceh-singkil-hari-ini-rp-1850kg).

Energi Alkohol/ha dari Kebun Sawit 2 kali Energi Alkohol/ha Kebun Tebu, 10 kali Kedelai/ha
Pada 1983 James A. Duke, Ph.D., salah seorang profesional terkenal di Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), ditugaskan oleh Pusat Energi Pertanian Bagian Utara USDA untuk menyusun laporan perbandingan yang netral tentang 200 jenis tanaman penghasil energy terbarukan yang tumbuh di negeri-negeri berkembang (CRC Handbook of Agricultural Energy Potential of Developing Countries, 1987).

Di buku Secrets of the Soil (1998), dia memuji kelapa sawit sebagai salah satu sumber energy terbarukan organic yang paling produktif. Berdasarkan produksi /ha, salah satu varitasnya dapat menghasilkan energy alcohol sebanyak 2 kali energy yang dihasilkan pohon tebu, atau 10 kali energi yang dihasilkan oleh kedelai. Sawit dapat tumbuh di tanah terdegradasi, tadah hujan, rawa dsb yang biasanya sulit ditumbuhi oleh tanaman ekonomi lainnya. Juga kebal terhadap air asin walaupun terkena
pasang surut 2 kali sehari.

10 juta ha Kebun Sawit menyerap 250 juta ton CO2/tahun
Selain itu, untuk melakukan fotosintesa, pohon sawit dapat menyerap 25 ton metrik (TM) CO2 /ha/ tahun sehingga 10 juta ha kebun sawit akan menyerap 250 juta TM CO2/tahun dari udara sekitarnya, kontribusi luar biasa besar dalam penyerapan CO2 untuk memenuhi komitmen Indonesia dalam mengurangi pemanasan sedunia.
Luas kebun sawit di Indonesia sekitar 16,38 juta ha per akhir 2021 (https://www.cnbcindonesia.com/news/20220414145945-4-331769/ternyata-ini-penguasa-sawit-di-ri-ngefek-ke-minyak-goreng).
Proses fotosintesa juga diketahui menghasilkan produk tambahan berupa O2 yang menyejukkan lingkungan.
Tingkatkan Produksi TBS Sawit dengan Teknologi yang ramah lingkungan
Untuk meningkatkan produksi TBS sawit per ha secara intensif dan berkelanjutan, penting sekali memakai teknologi yang ramah lingkungan, misalnya dengan menyuburkan atau menyehatkan tanahnya secara alami sehingga produksi bisa naik sd 40%. Tanah yang subur dan sehat membantu menyerap banyak air hujan, mengurangi erosi dan pencucian (leaching), menurunkan suhu udara dan mencegah kebakaran. Pohon-pohon yang tumbuh di atasnya lebih tahan terhadap musim panas. Teknologi ini sudah lama tersedia di mana-mana di negeri kita.
Semoga bermanfaat.






