Dr. Mastroianni, psikolog eksperimental dan penulis blog ilmiah Experimental History, menulis sebagai berikut:
Mungkin tidak ada janji politik yang lebih kuat atau universal daripada sumpah untuk mengembalikan era keemasan. Mulai dari Caesar Augustus hingga keluarga Medici dan Adolf Hitler, dari Presiden China Xi Jinping dan Presiden “Bongbong” Marcos Jr. dari Filipina hingga “Make America Great Again” oleh Donald Trump dan “America Is Back” oleh Joe Biden, para pemimpin telah mendapatkan kekuasaan dengan berjanji untuk mengembalikan masa-masa kejayaan yang lampau. Apa yang menjadi kesamaan mitos-mitos politik itu adalah pemahaman bahwa era keemasan pasti tidak benar saat ini. Mungkin kita telah berubah dari malaikat menjadi iblis selama berabad-abad dan orang-orang baru memperhatikan tanduk-tanduk yang tumbuh di dahi para tetangga mereka.
Tetapi, saya percaya ada bug — yaitu sekelompok kecenderungan mental — di otak manusia yang menyebabkan mereka memandang adanya kejatuhan dari kejayaan meskipun itu belum terjadi. Saya dan rekan kerja saya, Daniel Gilbert di Harvard, telah mendapati bukti tentang keberadaan bug tersebut, yang baru-baru ini kami publikasikan di jurnal Nature. Walaupun para peneliti yang sebelumnya telah mengemukakan teori tentang mengapa orang mungkin percaya bahwa segalanya telah memburuk, kami adalah yang pertama yang menyelidiki keyakinan itu di seluruh dunia, menguji kebenarannya dan menjelaskan asal-usulnya.
Pertama-tama kami kumpulkan 235 survei dengan lebih dari 574.000 tanggapan secara keseluruhan dan mendapati bahwa secara mayoritas besar, orang-orang percaya bahwa manusia saat ini kurang baik, jujur, etis, dan moral daripada masa lalu. Orang-orang telah mempercayai penurunan moral itu setidaknya sejak para peneliti mulai menanyakan hal itu pada 1949, mereka percaya bahwa di setiap negara yang pernah disurvei (59 negara dan terus bertambah), mereka percaya bahwa itu terjadi sepanjang hidup mereka dan mereka juga percaya bahwa hal itu masih terjadi saat ini. Responden dari berbagai jenis kelompok — muda dan tua, liberal dan konservatif, kulit putih dan kulit hitam — secara konsisten setuju: era kebaikan manusia yang keemasan sudah berlalu lama.
Kami juga mendapati bukti yang kuat bahwa banyak orang salah tentang penurunan itu. Kami mengumpulkan semua survei yang menanyakan orang tentang kondisi moral saat ini: “Apakah Anda diperlakukan dengan hormat sepanjang hari kemarin?”, “Dalam 12 bulan terakhir, apakah Anda menyumbangkan waktu Anda untuk tujuan amal?”, “Seberapa sering Anda mengalami ketidak-adaban di tempat kerja?” Di ke-140 survei dan hampir 12 juta tanggapan, jawaban peserta tidak berubah secara signifikan dari waktu ke waktu. Ketika diminta untuk menilai kondisi moral saat ini di Amerika Serikat, misalnya, orang memberikan jawaban yang hampir sama-sebangun antara tahun 2002 dan 2020, tetapi mereka juga melaporkan penurunan moral setiap tahun.
Data dari para peneliti lain bahkan telah menunjukkan peningkatan moral. Ilmuwan sosial telah mengukur tingkat kerjasama antara orang-orang yang tidak saling kenal dalam permainan ekonomi secara laboratorium selama beberapa dekade, dan sebuah meta-analisis yang terbaru mendapati — berlawanan dengan perkiraan para penulisnya — bahwa tingkat kerjasama telah meningkat 8% selama 61 tahun terakhir. Ketika kami minta partisipan untuk memperkirakan perubahan itu, mereka keliru berpikir bahwa tingkat kerjasama telah berkurang 9%. Orang lain telah mendokumentasikan semakin jarangnya kejadian yang merupakan bentuk-bentuk kekejian manusia yang paling mengerikan, misalnya genosida (pembunuhan satu suku, golongan etnis atau bangsa) dan pelecehan anak.
Dua fenomena psikologis yang mapan dapat bergabung untuk menciptakan khayalan tentang penurunan moral itu.
Pertama, ada keterpaparan yang berkecenderungan: Orang-orang pada umumnya lebih sering menemui dan memperhatikan informasi negatif tentang orang lain — kenakalan dan perbuatan jahat menjadi berita dan mendominasi percakapan kita.
Kedua, ada ingatan yang berkecenderungan: Kegaduhan informasi yang negatif lebih cepat memudar daripada kecerahan informasi yang positif. Misalnya, saat Anda ditinggalkan oleh seseorang, sakitnya terasa pada saat itu, tetapi saat Anda berpkir logis, mengubah cara pandang, dan menjauhkan diri dari kenangan itu, kesakitan itu memudar. Di sisi lain, kenangan tentang bertemu pasangan Anda yang ada pada saat ini mungkin sekali masih membuat Anda tersenyum. Ketika Anda menggabungkan dua mekanisme kognitif itu, Anda dapat menciptakan khayalan tentang penurunan. Karena keterpaaran yang berkecenderungan, segalanya terlihat buruk setiap hari. Tetapi , karena ingatan yang berkecenderungan, ketika Anda memikirkan kembali hari kemarin, Anda tidak ingat banyak hal begitu buruk. Ketika Anda sedang berdiri di padang pasir, tetapi mengingat taman yang indah, satu-satunya kesimpulan yang masuk akal adalah bahwa banyak hal telah semakin buruk.
Penjelasan itu sangat sesuai dengan dua temuan lain yang mengejutkan. Pertama, orang mengecualikan lingkaran sosial mereka sendiri dari penurunan; bahkan, mereka berpikir bahwa orang-orang yang mereka kenal menjadi lebih ramah daripada sebelumnya. Hal itu mungkin karena orang terutama mengalami informasi positif tentang orang-orang yang mereka kenal, yang diprediksi oleh model kami akan dapat menciptakan khayalan tentang adanya peningkatan.
Kedua, orang percaya bahwa penurunan moral dimulai hanya setelah mereka lahir; mereka menganggap umat manusia sebagai bajik secara stabil dalam beberapa dekade sebelum kelahiran mereka. Hal itu terutama menunjukkan bahwa ingatan yang berkecenderungan berperan dalam menciptakan khayalan itu.
Jika kecenderungan-kecenderungan mental itu sedang bekerja sama, kerentanan kita pada mitos-mitos tentang jaman keemasan akan semakin logis. Perhatian kita yang berkecenderungan berarti bahwa kita akan selalu berasa seperti kita sedang hidup di jaman gelap dan ingatan kita yang berkecenderungan berarti bahwa kita akan selalu berasa seperti masa lampau lebih cerah.
Selama kita mempercayai khayalan itu, kita rentan terhadap janji-janji dari otoriter yang ingin mengembalikan kita ke zaman keemasan yang hanya ada dalam imajinasi kita.
Menurut survei oleh Pew Research Center pada 2015, 76% orang Amerika Serikat percaya bahwa “mengatasi keruntuhan moral negeri ini” harus menjadi salah satu prioritas pemerintah. Kabar baiknya adalah keruntuhan tersebut belum terjadi. Kabar buruknya adalah banyak orang percaya bahwa hal itu telah terjadi.
Selama kita mempercayai khayalan itu, kita rentan terhadap janji-janji para calon penguasa yang otoriter yang berkata mereka dapat mengembalikan kita ke zaman keemasan yang hanya ada di dalam satu tempat saja, yaitu khayalan-khayalan kita.http://www.nalandafoundation.net
(New York Times/TST)








