Friday, July 3, 2026
Home Blog Page 17

Tiga Bank Terbesar di Dunia milik China khusus Pembangunan, Ekspor-Impor & Pertanian

0

Sejak sekitar 9 tahun lalu, Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), China Construction Bank, Agricultural Bank of China (ABC, atau Agbank) dan Bank of China (BoC) adalah empat bank umum yang terbesar di China dan dunia. Mereka adalah BUMN China. Silakan klik dan baca: https://lijusu.com/2021/09/12/terbesar-di-dunia-modal-inti-laba-aset-perbankan-china/.

Untuk lebih cepat menjadikan China punya GDP yang terbesar ke-2 di dunia setelah AS, negeri eksportir terbesar di dunia dan penghasil produk biji-bijian yang terbesar di dunia, China mendirikan tiga buah bank [China Development Bank (CDB), China Eximbank & Agricultural Development Bank of China (ADBC)] yang bersifat khusus secara sekaligus pada 1994 untuk melaksanakan kebijakan (policy bank) pemerintah China sehingga menjadi juara satu di seluruh dunia di bidangnya masing-masing sejak beberapa tahun lalu.

Perbedaan antara Permodalan dan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank-Bank BUMN itu dan Ketiga Bank Pelaksana Kebijakan itu

a. Bank-bank umum yang BUMN itu plus bank-bank umum lain yang juga milik pemerintah China semula didirikan dengan modal pemerintah, mencari DPK melalui penerimaan deposito, rekening tabungan maupun rekening berjalan baik eceran maupun perusahaan (korporasi), menerbitkan obligasi dll. Banyak yang sudah go public sehingga permodalan mereka mengikuti aturan bursa efek mereka.

b. Ketiga bank pelaksana kebijakan itu: didirikan dengan 100% modal awal dari pemerintah dan belum go public.

b.1 CDB & China Eximbank adalah bank grosiran sehingga tidak menerima deposito dari masyarakat dan mencari DPK hanya melalui penerbitan obligasi dan modal tambahan dari pemerintah China. Karena itu, di China, CDB adalah penerbit obligasi yang terbesar kedua setelah Kementerian Keuangan China (https://cdn.gihub.org/umbraco/media/2617/china-case-study.pdf).

CDB punya hanya 37 kantor cabang tingkat 1 dan 4 kantor cabang tingkat 2 di Daratan China plus 1 kantor cabang di Hong Kong, ditambah 10 kantor perwakilan di LN, yang mencakup kantor perwakilan di Indonesia.

Di China, China Eximbank punya hanya 32 kantor cabang dan satu kantor perwakilan di Hong Kong. Di LN, ada kantor cabang di Paris, kantor perwakilan di St. Petersburg, kantor perwakilan untuk Afrika Bagian Selatan dan Timur plus Kantor Perwakilan untuk Afrika bagian Utara dan Barat (www.eximbank.gov.cn).

b.2 ADBC (Bank Pengembangan Pertanian China) mencari DPK melalui penerbitan obligasi dan penerimaan deposito korporasi saja karena memiliki banyak sekali cabang di China (https://www.devex.com/organizations/agricultural-development-bank-of-china-adbc-143304).

  1. China Development Bank (CDB; Bank Pembangunan China), bank pembiayaan pembangunan yang terbesar di dunia (https://www.swfinstitute.org/fund-rankings/development-bank), yang asetnya sekitar USD 2,651 triliun (IDR 38 kuadriliun) menurut laporan tahunan 2020-nya. Aset itu sekitar 4,2 X gabungan aset perbankan umum Indonesia yang sekitar IDR 9 K.

Aset itu atau 3,88 X kuota setoran modal 190 negeri anggota IMF (USD 687 miliar, yang tidak mencakup persediaan setoran kuota/modal tambahan menurut skema New Amendment to Borrowings (NAB); https://www.imf.org/en/About/Factsheets/IMF-at-a-Glance).

Aset CDB itu juga sekitar 4,1 X gabungan aset 4 lembaga anggota Kelompok Bank Dunia (USD 643 miliar: IBRD (USD 317 miliar), IDA (USD 219 miliar, IFC (105 miliar) & MIGA (USD 1,7 miliar) menurut laporan keuangan setiap lembaga itu per akhir Juni 2021 (https://www.worldbank.org/en/news/press-release/2021/08/09/world-bank-group-releases-fy21-audited-financial-statements); atau 2 X gabungan kuota setoran modal semua anggota IMF itu dan aset gabungan 4 lembaga anggota Kelompok Bank Dunia per akhir Juni 2021.

Untuk info lebih lanjut tentang kegiatan CDB di seluruh dunia, silakan klik link yang berikut ini: https://lijusu.com/2021/09/14/cdb-bank-pembangunan-terbesar-di-dunia-asetnya-18-x-gabungan-aset-bank-duniaimf/.


2. China Eximbank (Bank Ekspor-Impor China), asetnya sekitar USD 781 miliar per akhir 2020 (http://english.eximbank.gov.cn/News/AnnualR/2020/), atau 1,2 X aset gabungan 4 lembaga Kelompok Bank Dunia, atau 1,13 gabungan kuota setoran modal semua anggota IMF.

This image has an empty alt attribute; its file name is Eximbank-of-China-website.png

Peringkat Eximbank of China sebagai bank pembiayaan ekspor-impor yang terbesar di dunia dikukuhkan oleh Sovereign Wealth Fund Institute (SWFI), dengan data keuangan sekitar 3 tahun lalu yang belum diupdate oleh SWFI: https://www.swfinstitute.org/fund-rankings/export-credit-agency.

Sumber tabel: 1. www.swfinstitute.org, 2. Aset China Eximbank di tabel di atas adalah menurut laporan tahunan 2018.

Contoh cara dapatkan kredit dari China Eximbank:https://law.asia/applying-chinas-overseas-loans/.

Inspirasi untuk Indonesia: kita punya LPEI, yang sering disebut sebagai Indonesia Eximbank, yang asetnya berjumlah IDR 92,1 T (USD 6,35 miliar; dengan kurs USD/IDR= 14.500) per akhir 2020, turun dari IDR 108 T per akhir 2019. Aset sebanyak USD 6,35 miliar itu jelas sangat kurang untuk mendukung ekspor Indonesia dibandingkan dengan ekspornya selama tahun 2020 yang berjumlah USD 163,31 miliar (www.kemenkeu.go.id).

3. Agricultural Development Bank of China (ADBC), bank pembiayaan sektor pertanian yang terbesar di dunia, yang asetnya sekitar USD 1 triliun.

This image has an empty alt attribute; its file name is Agricultural-Deveopment-Bank-of-China-website.png

Sumber logo: website www.adbc.com.cn

Sebagai pembanding, Rabobank dari Belanda, yang dikenal sebagai pendana pertanian yang terbesar di Eropa dan AS, memiliki aset sekitar USD 805 miliar (https://www.rabobank.com/en/images/annual-report-2020.pdf)

Catatan: ADBC berbeda dari Agricultural Bank of China (ABC atau Agbank; Bank Pertanian China), bank umum terbesar ke-3 di dunia dalam hal aset (USD 4,26 triliun, atau IDR 61,9 kuadriliun), yang sudah go public di Shanghai.

Sumber logo: website ABC: www.abcchina.com.cn

(TST)

Terbesar di Dunia: Modal Inti, Laba & Aset Perbankan China

0
Perbandingan Modal Inti Perbankan China vs AS
Modal inti perbankan China hampir 2 X modal inti perbankan AS

China terus berfungsi sebagai mesin pertumbuhan bagi industri perbankan sedunia berdasarkan modal inti1, yang merupakan salah satu ukuran penting kekuatan perbankan. China punya 192 bank umum, yang 54 di antaranya sudah go public di daratan China, dan tiga bank pelaksana kebijakan pemerintah (policy bank): China Development Bank (CDB), China Eximbank & Agricultural Development Bank of China (ADBC), yang masing-maisng terbesar di dunia dalam bidangnya. Silakan klik link ini:https://lijusu.com/2021/09/13/bank-bank-terbesar-china-di-dunia-khusus-pembangunan-ekspor-impor-pertanian/.

     Sekitar  98% aset perbankan China adalah milik bank pemerintah China pada tingkat pemerintah pusat (BUMN) dan daerah (provinsi dan kota; BUMD).

A. Modal Inti 144 Bank China berjumlah IDR 42,6 Kuadriliun(K) per akhir 2020

1. Di antara 1.000 bank umum yang terbesar di dunia, yang masing-masing punya modal inti minimum IDR 7,876 triliun2 (USD 547 juta, berdasarkan kurs tukar USD/IDR= 14.400), China punya 144 dengan gabungan modal inti2 sejumlah IDR 42,6 K (https://www.thebankerdatabase.com/index.cfm/search/ranking), atau hampir 2 X jumlah modal inti milik 178 bank terbesar di AS (IDR 22,75 K), atau 4,58 X jumlah aset semua bank umum di Indonesia. Modal inti perbankan China itu naik sebesar 18,6% dari yang tercatat per akhir 2019; sebaliknya, modal T1 perbankan AS naik hanya 8,5%.

1 Bentuk-bentuk modal utama yang termasuk dalam struktur modal sebuah bank adalah modal inti [core capital; Common Equity Tier 1 (CET1) capital], Modal Tier 1 dan Modal Tier 2. “Tier” berarti “tingkat.” Modal inti (CET1) berperingkat paling tinggi dan terdiri atas saham biasa, laba ditahan, agio saham yang berasal dari penerbitan saham biasa dan saham biasa yang dipegang oleh perusahaan anak milik bank yang bersangkutan [https://corporatefinanceinstitute.com/resources/knowledge/finance/common-equity-tier-1-cet1/). Modal inti juga mencakup akumulasi pendapatan keseluruhan yang lain plus cadangan lain yang diumumkan dan penyesuaian menurut peraturan perbankan dalam perhitungan CET1 (Dokumen yang berjudul: RBC20 – Calculation of minimum risk-based capital requirements, yang merupakan bagian dari dokumen yang berjudul: RBC – Risk-based capital requirements), tetapi tidak mencakup segala macam saham preferens dan kepentingan non-pengendalian.

Modal total Tier 1 (Tingkat 1) adalah gabungan CET1 dan modal Tingkat 1 tambahan (AT1; additional Tier 1). AT1 bisa terdiri atas obligasi subordinasi yang abadi (perpetual subordinated bond); contoh: BNI berencana menerbitkan sekuritas modal senilai USD 600 juta yang tergolong AT1 yang bersifat abadi dan non-kumulatif dengan kupon/suku bunga 4,3% per tahun (https://finansial.bisnis.com/read/20210917/90/1443714/perkuat-modal-bni-bbni-rilis-perpetual-bonds-rp852-triliun-kupon-43-persen). AT1 juga mencakup cadangan yang diumumkan dan saham preferens yang tidak dapat ditebus kembali dan yang bunganya juga boleh ditumpuk (non-cumulative) (www,investopedia.com).

Modal Tier 2 (T2) mencakup (i) obligasi subordinasi yang berjangka waktu; (ii) saham preferens yang bercirikan modal; (iii) cadangan yang tidak diumumkan, (iv) cadangan yang hasil revalusasi aset, (v) sekuritas modal yang bersifat campuran, (vii) rekening cadangan investasi (https://www.investopedia.com/ask/answers/043015/what-difference-between-tier-1-capital-and-tier-2-capital.asp#:~:text=Tier%202%20capital%20includes%20undisclosed,loss%2C%20or%20uncollected%2C%20reserves).

Di Indonesia, sebelum berlakunya POJK No. 12/POJK.03/2021 (https://www.ojk.go.id/id/regulasi/Documents/Pages/Bank-Umum/POJK%2012%20-%2003%20-2021.pdf; mulai berlaku sejak 19 Agustus 2021), bank dengan modal inti sebesar IDR 7,876 triliun masuk kelas BUKU III (IDR 5 triliun-IDR 30 triliun).

Sekarang, bank dengan modal inti minimum IDR 7,876 triliun masuk ke KBMI 2 karena, menurut Pasal 147 POJK itu, bank digolongkan berdasarkan Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI): KBMI 1: modal inti <IDR 6 triliun; KBMI 2: >IDR 6 triliun sd 14 triliun; KBMI 3: >IDR 14 triliun sd 70 triliun; KBMI 4: >IDR 70 triliun.

Berdasarkan Pasal 8 POJK No.12/POJK.03/2020 (https://www.ojk.go.id/id/regulasi/Documents/Pages/Konsolidasi-Bank-Umum/pojk%2012-2020.pdf; mulai berlaku per 17 Maret 2020), per akhir 2021, setiap bank harus bermodal inti minimum IDR 2 triliun; per akhir 2022, setiap bank harus bermodal inti minimum IDR 3 triliun. Bank pembangunan daerah (BPD) diberi keistimewaan: kewajiban modal inti minimum IDR 3 triliun itu harus dipenuhi per akhir 2024.

2 Berdasarkan Perjanjian Basel II, modal inti sebuah bank harus minimum 8% dari nilai aset tertimbang/menurut risiko (ATMR; risk-weighted asset). Angka itu dinaikkan menjadi 10,5% berdasarkan Perjanjian Basel III (https://www.investopedia.com/ask/answers/043015/what-difference-between-tier-1-capital-and-tier-2-capital.asp) dan rasio modal keseluruhan (capital adequacy ratio; CAR) minimum 12,9%: 10,9% merupakan modal inti minimum dan 2% merupakan modal T2. Kenaikan itu adalah salah satu tanggapan terhadap Krisis Keuangan Global tahun 2008 (https://www.bis.org/basel_framework/Basel Committee on Banking Supervision, Market Risk Framework in Brief).

1.1 Ada 30 Buah Bank Internasional yang Penting secara Sistem Perbankan Global (G-SIBS) menurut Dewan Stabilitas Keuangan AS

[www.fsb.org, dokumen: 2020 list of global systemically important banks (G-SIBs)]

Sumber: www.fsb.org: 2020 list of global systemically important banks (G-SIBs)

2. Modal inti 144 bank terbesar China itu merupakan 30% dari jumlah modal inti (IDR 142 K) milik 1.000 bank yang terbesar di dunia. Modal inti 178 bank terbesar AS (IDR 22,75 K) merupakan15,9% dari modal inti 1.000 bank itu.

3.  Secara gabungan, 144 Bank terbesar China dan 178 Bank terbesar AS kuasai 45,9% (IDR 65,35 K) dari modal inti (IDR 142 K) 1.000 bank yang terbesar di Dunia

4. Perbandingan Modal Inti 4 Bank Terbesar China & Dunia vs DBS Singapura

Catatan:

  1. ICBC, CCB, ABC & BoC adalah empat di antara 30 buah bank yang tergolong G-SIBs.
  2. Mayoritas saham Development Bank of Singapore (DBS), bank umum yang terbesar di ASEAN dalam hal modal inti, laba dan aset, dipegang oleh Temasek, perusahaan pengelola kekayaan pemerintah [sovereign wealth fund (SWF)] Singapura.

Pada 10 September 2021, Euromoney menetapkan DBS sebagai bank yang terbaik di dunia per 2021 karena berbagai macam kinerjanya yang mengagumkan.(sumber: https://www.euromoney.com/awards/awards-for-excellence/awards-for-excellence-2021).

5. Perbandingan Aset ICBC dkk & MUFJ menurut IFRS vs JPMorgan menurut US GAAP

Sumber: www.thebankerdatabase.com; www.spglobal.com

6. Perbandingan Aset ICBC dkk vs JPMorgan & MUFJ menurut IFRS saja

Sumber: www.thebankerdatabse.com; www.spglobal.com; diolah

B.   Catatan:

1.   1.Berdasarkan jumlah aset, keempat bank milik China itu juga merupakan bank-bank yang terbesar ke-1, ke-2, ke-3 dan ke-4 di dunia menurut Standar-Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS). JPMorgan Chase adalah yang ke-5 dan Bank MUFG (Jepang) ke-6.

      2.Persaingan antara JPMorgan Chase dan Bank MUFG. Berdasarkan Prinsip-Prinsip Akunting yang Disetujui secara Umum di AS (US GAAP), JPMorgan Chase adalah bank terbesar ke-6 di dunia dan MUFG ke-5. Perbedaannya: IFRS menghitung nilai aset turunan secara bruto sedangkan US GAAP menghitungnya secara bersih.

B. Laba sebelum Pajak (LSP) Perbankan China mencapai 37,2% (IDR 5,01 K) dari LSP Gabungan (IDR 13,47 K)  1.000 Bank terbesar di Dunia

B.1 Per akhir 2020, 144 buah bank China yang masuk ke daftar 1.000 bank terbesar di dunia menghasilkan LSP sebanyak 37,2% (atau hampir 2/5) dari laba 1.000 bank itu; 178 buah bank AS menghasilkan18,5% dari laba 1.000 bank itu (https://www.thebanker.com/Top-1000-World-Banks/China-Press-Release-Chinese-banks-extend-lead-on-US-rivals-English)(28 Juni 2021)

LSP perbankan  China itu naik sebesar 5,2% dari yang tercatat per akhir 2019. Sebaliknya, LSP perbankan AS anjlok tajam sebesar 31,5%. Lihat diagram di bawah ini.

Table 1:  Laba dan Peringkat Laba sebelum Pajak (LSP) Perbankan 5 Negeri

B.2 Gabungan  LSP Perbankan China di atas yang Perbankan AS, Jepang, Kanada & Perancis

B.3 Perbankan China nikmati 69% (lebih dari 2/3 atau IDR 5,01 K) dari Gabungan Laba sebelum Pajak (IDR 7,26 K) Perbankan di Asia Pasifik

Peta Asia Pasifik

This image has an empty alt attribute; its file name is Map-of-the-Asia-Pacific-region.png

C. Gabungan 144 buah bank China dengan modal inti minimum IDR 7,876 memegang 25,6% (IDR 547,80 K, atau USD 38,05 triliun) dari jumlah aset 1.000 bank terbesar di dunia itu  (USD 148,6 triliun).

Catatan:

CBIRC (Komisi Pengaturan Perbankan dan Asuransi China) menerbitkan laporan pada 11 Mei 2021 bahwa per akhir Maret 2021, jumlah aset 192 bank umum China, yang beroperasi di China plus cabang-cabang LN mereka, dalam Yuan (CNY; RMB) dan valas mencapai IDR 725.000 T*, atau IDR 725 kuadriliun (K; 1015), naik sebesar 9% dari yang tercatat per akhir Maret 2020 (www.cbirc.gov.cn: Supervisory Statistics of the Banking and Insurance Sectors – 2021 Q1 Statistics, diterbitkan pada 11 Mei 2021).

Nilai itu adalah sekitar 2,3 X jumlah aset perbankan AS yang sekitar IDR 315 K* (https://fred.stlouisfed.org/series/TLAACBW027SBOG: Total Assets of All Commercial banks, 08/04/2021), atau 1,4 X jumlah aset perbankan Uni Eropa (UE) yang IDR 515,77 K* (https://www.ecb.europa.eu/press/pr/date/2021/html/ecb.pr210805~0aea16eb0a.en.html: ECB publishes consolidated banking data for end-March 2021), atau sekitar 78 X jumlah aset perbankan umum Indonesia yang IDR 9,3 K per akhir Maret 2021(Laporan Profil Industri Perbankan-Triwulan 1 2021 oleh OJK).

*Sampai saat ini, mirip perbankan Uni Eropa (UE), perbankan China masih dominan dalam penyediaan dana ke sector ekonomi China karena pasar obligasi China masih sedang tumbuh (baru bernilai pasar sekitar IDR 288 K). Sebaliknya, aset perbankan AS lebih kecil daripada aset pasar obligasi AS (IDR 662 K) yang terbesar di dunia.  Perbedaan lainnya: (i) Baru sekitar 2,9% dari nilai pasar obligasi China dimiliki oleh investor asing; (ii) sekitar 30% dari nilai pasar obligasi AS maupun UE sudah dimiliki oleh investor asing.

C.1 Perbandingan Aset Perbankan China vs UE & AS per akhir Maret 2021

Untuk lengkapnya, silakan buka link ini: https://lijusu.com/2021/09/05/idr-725-kuadriliun-terbesar-di-dunia-aset-perbankan-china/.

D. Kesimpulan

Perbankan China adalah pendorong terbesar pertumbuhan ekonomi, teknologi, militer, infrastruktur dll di China. Sekitar 60% aset mereka adalah tabungan rakyat dan perusahaan swasta China.

No developing country can get rich from consumption

0
Jinan city, China
China, an example of a nation developing its economy through high savings rates.

No developing country is known to get rich from the consumption sector of their economy. Most rich countries have got their wealth from their manufacturing activities, called as the secondary sector, with different levels of technological complexity, now or in the past. The percentage contributions of the primary and secondary sectors to their GDP have been declining in the past 50 years. For example, what the UK and the US have seen in their GDP compositions.

It is true that they began developing their countries with the primary sector, including agriculture. Then, they shifted most of their economic activities to the secondary sector, and saved most of their disposable income, accumulating wealth. Once they reached the level of adequate affluence, they started consuming more of their income, and hence, lowering the ratios of both their savings as well as investment to GDP. As a result, their saving rates have been relatively very low. See the chart below.

In addition, developing countries with a high (>60%) ratio of public and household debts to their GDP, coupled with a similar ratio of their external loans to GDP and a low ratio of savings to GDP, have found themselves struggling to pay interest charges and/or repay debts. Their economies are also vulnerable to both internal and external financial and other shocks.

Reasons: Investment has a reproductive effect, but consumption does not. Consumption supports life and health and occasionally helps maintain an unsustainable standard of living to a certain extent. As a result, the higher a country’s ratio of consumption expenditure to its GDP, the less money its households and businesses save and the less money they both have for investment. As a further result, its GDP growth rate declines and its consumption ratio to GDP goes up. In order to prevent further declines, its households and government must borrow money heavily and/or the latter monetizes its debts.

Many countries with similar situations have even borrowed much more to survive the current Covid-19 pandemic. For example, the UK, Japan and the US.

Source: www.yahoo.com: https://finance.yahoo.com/news/pandemic-16-trillion-bill-come-210000693.html

In addition, consumptive nations tend to demand a higher and standard of living. In the long run, their consumption can exceed income, and they will begin to live beyond their means and have to borrow money to keep their standards of living. The most recent example is what the US has been experiencing in the past 50 years: change of international standing from a creditor to debtor nation (https://www.latimes.com/archives/la-xpm-1985-09-17-mn-20088-story.html).

Unsustainable Consumption (combined with corruption) can get a country bankrupt

For example, Nauru, a small country in the Pacific (How Nauru got bankrupt: https://www.news.com.au/finance/money/wealth/how-nauru-squandered-its-staggering-fortune-and-ended-up-bankrupt/news-story/02862341eec1b05de55845410cde9a56).

CAVEAT: Certain individuals and businesses have got so wealthy from the consumption sector. For example, Hartono brothers of the famous Djarum group, ranked first in terms of wealth in Indonesia; Zhong Shanshan, the king of water and the wealthiest person in China and Asia.

Contact numbers

0
Chanxcellor Yi Yin (1648-1549 BCE)

For advertising inquiries, please send your email to iklan@lijusu.com

Tel. & WA: +62813 8667 6868

For news contribution, news@lijusu.com

Tel. & WA: +62821 2541 5678

For technical issues, webmaster@lijusu.com

No country can get rich from agriculture alone

0
The author is seen on a tractor in Bengkulu, Indonesia

Lots of people in certain countries think that agriculture should be developed in order for them to be rich. This is a misguided opinion.


Picture of a Rice field in South Aceh, Indonesia, taken from the author’s personal files.

Thailand is a good example of the fact that when it generated a per capita income of close to USD 3,000 about 18 years ago, it faced obstacles to increase this income. Main reasons: 1. Agriculture produces food, and people consume it to a certain amount, not more; 2. Agricultural products are commodities, so their prices are sensitive to supply and demand. For example, if supply exceeds demand by a mere 5%, product prices can go down by 20%.

So, from about 2002, Thailand has been aggressively developing its manufacturing sector so that the country now is the largest automobile manufacturer and exporter in ASEAN.

Source: www.statista.com

Another reason: the contributions of agriculture to the GDPs of developed nations such as the US and Japan range between 1% and 1.3% only.

Like Japan and most other developed countries, the US got rich because of its manufacturing might. The US generated around 40% of the world’s GDP from 1960 to 1968 (https://www.forbes.com/sites/mikepatton/2016/02/29/u-s-role-in-global-economy-declines-nearly-50/?sh=5ce3afcc5e9e). The ratio of its GDP to the world’s began to decline from 1969. This ratio now stands at about 15.9% only (https://www.statista.com/statistics/270267/united-states-share-of-global-gross-domestic-product-gdp/).

Capture
Source: www.forbes.com

About the Composition of Japan’s GDP today

Source: www.statista.com

China is the most recent example of how a developing country can get rich: from investment in productive physical assets, manufacturing and exports of finished products.

Wuxi, Jiangsu province, a third tier city and the fourth richest city in terms of per capita GDP, not total GDP, after Hong Kong, Macau, and Karamay (in Xinjiang), based on the 2020 census in China.
Ningbo, the 18th-ranked richest city by per capita GDP in China. Ningbo, also the capital of Zhejiang province, has just been upgraded from a second tier city to a first tier city together with 14 others, including Wuhan, Shenyang, Qingdao; only Shanghai, Beijing, Shenzhen and Guangzhou were originally ranked as first tier cities. Source: www.chinadaily.com.cn- June 7, 2021: 15 new first tier cities. So, today there are 19 first tier cities in China.

CAVEAT: Certain individuals and businesses have got so wealthy from large-scale, or commercial, or cash crop, agriculture. For example, Robert Kuok, owner of Shangri-la hotels, sugar & oil palm plantation king & the richest person in Malaysia and the 53rd wealthiest in the world in 2020; Martua Sitorus, one of Indonesia’s oil palm plantation kings & the county’s 12th wealthiest; the big commodity traders: Archer Daniels Midland (ADM), Bunge, Cargill & Louis Dreyfus, known as the ABCD of global grain trading, of the US. They play central roles in the global agri-food system (https://www.reuters.com/article/us-global-grains-traders-idUSKCN1MZ2E8).

(TST)

China’s regulators said to slow their approval of new online games, as Beijing’s campaign against gaming addiction heats up

0
Chna's General Administration of Press and Publications

Michael Bloomberg on PBS video: President Xi Jinping is not a Dictator

(RMH)

BlackRock raises US$1 billion with first Chinese mutual fund days after George Soros calls China investment a ‘tragic mistake’

0
Larry Fink, BlackRock's CEO; Credit: The South China Morning Post
Larry Fink, BlackRock's CEO; Credit: The South China Morning Post

The BlackRock New Horizon Mixed Securities Investment Fund attracts more than 111,000 subscribers

BlackRock is the first global asset manager to win a licence for wholly-owned

For more information, click the link to the source below.

China’s Textile Firms Shy Away From Export Orders on Threadbare Margins, Uncertain Outlook

0
Foshan City CBD, China
Foshan City CBD, China; Credit: B1M Video

China has been the largest exporter of textile and products on the planet for many years. However, things are now changing due to a number of factors such as shortage of shipping containers, insanely high costs of overseas shipment of goods.

For more information about why certain Chinese textile firms shy away from overseas orders, click on the link to Yicai Global below.

Indonesia announces IDR 439 trillion rupiah bond buying plan

0
Bank Indonesia logo; Credit: www.bi.go
logo of Bank of Indonesia, Indonesia's central bank

In response to the continuing social, economic and financial consequences of the Covid-19 pandemic on the country, the Bank of Indonesia has announced its government bond buying plan worth IDR 439 trillion for 2021 and 2022.

For further details, please click on the source below (Business Times).

Don’t elect clowns and unwise politicians as top leaders.

0
Chanxcellor Yi Yin (1648-1549 BCE)

In the past five years, we have seen clowns elected as presidents, PMs etc. as a result, we have suffered great economic, financial and political losses, and, thus, embarrassed.

Chancellor Yi Yin (1648-1548 BCE), of the ancient Shang Dynasty, China, is recorded as advising his five emperors as follows:” Strengthen moral character and determination to work for the people’s benefits. Recruit virtuous and capable government ministers.”

From 1978 to-date, China has been the true model of applying the meritocratic principles of identifying and electing top leaders. Only the best citizens can be elected as national leaders after they go through their respective political paths. For example, the seven members of the CCP’s Politburo, including Vice Minister Liu He, Wang Yang (former Guangdong governor), led by President Xi Jinping, represent the Chinese way of applying the meritocratic principles in the proper manner.

Liu He led the Chinese delegation in the negotiation with the US to a ceasefire of the US-China trade war
Liu He and Trump are seen announcing the signing of the Phase I Agreement of the US-China Trade Deal