Wednesday, June 17, 2026
HomeCulturePoliticsTrump kalah perang lawan Iran

Trump kalah perang lawan Iran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments

Trump kalah perang lawan Iran

Kesepakatan awal yang mengakhiri perang empat bulan Presiden Trump dengan Iran patut disambut baik, tetapi juga membawa kenyataan-kenyataan pahit. Trump melakukan kesalahan besar dengan memulai perang ini. Ia menjalankannya secara ceroboh dan secara terbuka menentang hukum. Amerika Serikat keluar dari perang ini dalam keadaan lebih lemah — secara militer, diplomatik, dan ekonomi — dan akan menanggung biaya strategis selama bertahun-tahun ke depan.

Rincian kesepakatan tersebut masih belum jelas, tetapi kerangka yang diumumkan menunjukkan bahwa Trump hanya memperoleh sedikit dari syarat-syarat yang selama ini ia tuntut. Itu merupakan kemunduran yang memalukan bagi dirinya maupun bagi negara yang dipimpinnya.

Sejak perang dimulai, ia berkata bahwa Amerika Serikat akan mencapai “kemenangan total dan mutlak” dan bahwa Iran harus menyetujui “penyerahan tanpa syarat.” Ia juga mengisyaratkan bahwa pergantian rezim akan terjadi. Ia menyatakan bahwa Iran tidak akan diizinkan melakukan “pengayaan uranium sama sekali” dan bahwa “Amerika Serikat, bekerja sama dengan Iran, akan menggali dan memindahkan seluruh bahan nuklir yang telah diperkaya hingga mendekati tingkat senjata nuklir yang tersimpan jauh di bawah tanah.”

Tampaknya tidak satu pun dari hal-hal tersebut menjadi kenyataan. Pemerintahan garis keras Iran tetap berkuasa. Rincian perjanjian nuklir tampaknya akan dinegosiasikan selama dua bulan ke depan, tetapi syarat-syaratnya kemungkinan besar akan menyerupai perjanjian tahun 2015 yang dinegosiasikan oleh Presiden Barack Obama dan dibatalkan oleh Trump pada 2018. Ia pernah menyebut perjanjian Obama sebagai “kesepakatan terburuk yang pernah ada” dan mengatakan bahwa perjanjian itu menempatkan Iran pada “jalur menuju senjata nuklir.” Ia mengkritiknya karena gagal memaksa Iran menghentikan dukungannya terhadap kelompok-kelompok teroris seperti Hamas dan Hizbullah serta karena melonggarkan sanksi ekonomi. Namun, perang merusakkan yang ia lakukan tampaknya justru akan menghasilkan perjanjian yang serupa.

Pencapaian terbesarnya dalam kerangka gencatan senjata ini adalah dibukanya kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran global, yang pada akhirnya akan menurunkan harga energi dan barang-barang lainnya. Namun, tentu saja hal itu hanyalah kembalinya keadaan seperti sebelum perang. Iran menutup selat tersebut sebagai tindakan balasan untuk merusakkan ekonomi global dan meningkatkan tekanan politik terhadap Amerika Serikat. Langkah itu berhasil, dan para pemimpin Iran kini memahami bahwa mereka memiliki senjata ekonomi yang sangat kuat.

Secara keseluruhan, Iran muncul sebagai pemenang strategis dalam perang empat bulan ini. Iran memang mengalami kerugian besar, termasuk sebagian besar angkatan laut, angkatan udara, kapasitas industri militernya, serta kepemimpinan politiknya, yang mencakup Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, yang tewas pada hari pertama perang. Namun, dengan berakhirnya perang, kepemimpinan Iran kini dapat mulai membangun kembali kekuatannya.

Akibat semua kesalahan tersebut, kini Trump telah menyetujui suatu kerangka perdamaian yang dipahami seluruh dunia sebagai sebuah kekalahan baginya.

(TST/NYT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments