Friday, May 1, 2026
Home Blog Page 11

Seri Bahasa Indonesia yang baik dan benar: 1. Anda bertanya, kami menjawab

0

(Sumber: Petunjuk Praktis berbahasa Indonesia (2000), Departemen Pendidikan dan kebudayaan)

Pertanyaan nomor 21-24 dan jawabannya

  1. Apa yang dimaksud dengan kata aktivis?
    Aktivis adalah orang yang giat bekerja untuk kepentingan suatu organisasi
    politik atau organisasi massa lain. Dia mengabdikan tenaga dan pikirannya,
    bahkan seringkali mengorbankan harta bendanya untuk mewujudkan citacita organisasi.
    Contoh kalimat yang mengunakan kata aktivis adalah sebagai
    berikut.
    (1) Beberapa aktivis lembaga sosial masyarakat mengingatkan pentingnya
    lingkungan hidup yang sehat.
    (2) Organisasi kita memerlukan seorang aktivisyang rela menyumbangkan
    tenaga dan pikirannya untuk kelangsungan hidup organisasi.
  2. Apa pula yang dimaksud dengan katajihad?
    Kata jihad berasal dari bahasa Arab, yaitu aljihad, yang berarti ‘perjuangan’. Dalam bahasa Indonesia, katajihad digunakan dengan pengertian
    sebagai berikut.
    Jihad ialah usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk
    mencapai kebaikan manusia secara keseluruhan. Contoh kalimat yang
    menggunakan katajihad dengan makna sepeni itu adalah sebagai berikut.
    (1) Kita berjihad melawan kemiskinan.
    (2) Demi ketenteraman batin Anda. berjihadlah melawan hawa nafsu.
    Makna jihad yang lain ialah perjuangan membela agama dengan
    cara mengorbankan hana benda, jiwa, dan raga. Contoh kalimat yang
    mengandung katajihad dengan pengenian itu adalah sebagai berikut.
    (3) Orang yang berjihad di }alan Allah adalah orang yang berjiwa
    mulia.
  3. Ki-lo-gram ataukah ki-log-ram?
    Penanyaan di atas berkaitan dengan kaidah ejaan ten tang pemenggalan kata
    yang dinyatakan dengan tanda hubung di antara suku kata yang dipenggal.
    Jika ada dua konsonan yang berurutan di tengah kata, pemenggalannya dilakukan setelah konsonan pertama. Misalnya, April dipenggal
    menjadi Ap-ril, janji menjadijan-ji, dan runding menjadi run-ding. Jika di
    tengah kata terdapat tiga konsonan atau lebih, pemenggalannya juga dilakukan setelah konsonan yang pertama. Contohnya, instansi dipenggal
    menjadi in-stan-si dan instruksi menjadi in-struk-si.
    Pemenggalan kata yang mengandung bentuk trans- dilakukan dengan memperhatikan ketentuan berikut.
    a. Jika trans- diilcuti bentuk bebas, pemenggalannya dilakukan dengan memisahkan trans- sebagai bentuk utuh dan bagian lainnya dipenggal sebagai kata dasar, misalnya kata transmigrasi dipenggal menjadi transmig-ra-si, transfusi menjadi trans-fu-si, dan transaksi menjadi trans-aksi.
    b. Jika trans- merupakan bagian dari kata dasar, pemenggalannya dilakukan dengan mengikuti pola pemenggalan kata dasar. Misalnya, transenden dipenggal menjadi tran-sen-den, transisi menjad1 tran-si-si, dan
    transit menjadi tran-sit.
    Pemenggalan kata yang mengandung bentuk eks- dilalcukan sebagai
    berikut.
    a. Jika eks- terdapat pada kata yang pemakaiannya dapat disejajarkan dengan in- atau im-, pemenggalannya dilakukan di antara eks- dan unsur
    berilcutnya.
    Contoh:
    ekstra dipenggal menjadi eks-tra
    ekspor dipenggal menjadi eks-por
    eksplisit dipenggal menjadi eks-pli-sit
    eksternal dipenggal menjadi eks-ter-nal
    eksklusif dipenggal menjadi eks-klu-sif
    b. Bentuk eks- yang tidak dapat disejajarkan dengan in- atau im-. pemenggalannya dilalcukan di antara ek- dan bagian kata yang mengilcutinya.
    Misalnya, kata ekses dipenggal menjadi ek-ses, ekstrem menjadi ekstrem, dan eksistensi menjadi ek sis-ten-si.
    Kata-kata lain yang terdiri atas dua unsur atau lebih yang salah satu
    unsumya dapat bergabung dengan unsur Jain, pemenggalannyajuga melalui
    dua tahap. Mula-mula unsur itu dipisahkan, kemudian dipenggal dengan
    mengilcuti pola pemenggalan kata dasar.
    Contohnya:
    kilogram dipenggal menjadi kilo dan gram, kemudian ki-lo-gram
    biografi dipenggal menjadi bio dan graft, kemudian bi-o-gra-fi
    biologi dipenggal menjadi bio dan logi, kemudian bi-o-lo-gi.
  4. Apakah padanan untuk go public dan go international?
    Beberapa tahun yang lalu dunia usaha Indonesia dirarnaikan oleh adanya
    beberapa bursa efek, antara lain, Bursa Efek Jakarta (BEJ). Di bursa efek
    ini beberapa perusahaan yang memenuhi kriteria tertentu dari pemerintah
    dapat menjual sahamnya kepada masyarakat. Perusahaan yang telah
    mendapat izin menjual saharnnya di bursa efek disebut perusahaan yang
    telah go public. Berikut ini contoh sebuah kalimat yang menggunakan kata
    go public.
    fa juga skeptis atas rencana PT Semen Padang dan PT Semen
    Tonasa untuk go public di BEl. (Kompas, 17 Juni 1993).
    Perusahaan yang go public ialah perusahaan yang telah masuk ke
    bursa untuk menjual saharn-sahamnya kepada masyarakat. Untuk itu, kita
    berikan padanan kata go public dengan ‘masuk bursa’.
    Setelah kata go public muncul, akhir-akhir ini kita sering mendengar ataupun membaca istilah go international. Berikut contoh wacana
    yang menggunakan kata tersebut.
    Harapan agar badan usaha milik negara (BUMN) go
    international tampaknya tidak bisa direalisasikan segera
    karena tak satu pun BUMN dinilai layak melakukan hal itu.
    Bahkan, perusahaan swasta sekalipun tidak mampu
    menembus pasar modal internasional. Tambahan pula,
    daripada harus merepotkan diri mengurusi rencana BUMN
    go international, pemerintah lebih baik membenahi Bursa
    Efek Jakarta (BEl) terlebih dahulu, karena lebih mudah
    dilakukan. (Kompas, 17 Juni 1993).
    Dari contoh di atas kita dapat mengarnbil simpulan bahwa konsep
    go international ialah masuknya perusahaan, misalnya BUMN, ke dalarn
    pasar modal intemasional atau pasar modal dunia.
    Jika kata go public kita padankan dengan masuk bursa mengapa go
    international tidak kita padankan dengan masuk bursa internasional atau
    masuk bursa dunia?

Seri Bahasa Indonesia yang baik dan benar: 1. Anda bertanya, kami menjawab

0

(Sumber: Petunjuk Praktis berbahasa Indonesia (2000), Departemen Pendidikan dan kebudayaan)

Pertanyaan nomor 16-20 dan jawabannya

  1. Asal dan makna kata mantan
    Dalam tulisan Saudara Ahmad Bastari Suan, Universitas Sriwijaya, pada
    majalah Pembinaan Bahasa Indonesia tahun 1984, diusulkan kata mantan
    sebagai pengganti kata bekas (‘eks’) yang dianggap kurang pantas dan
    bernilai rasa rendah. Kata itu terdapat dalam bahasa Basemah, Komering,
    dan Rejang yang bermakna ‘tidak berfungsi lagi’. Dalam bahasa Basemah
    ada bentuk penggawe mantan ‘eks pegawai; pegawai yang tidak berfungsi
    lagi’, ketip mantan ‘eks khatib; khatib yang tidak berfungsi lagi’, dan
    penghulu mantan ‘eks penghulu; penghulu yang tidak berfungsi lagi’. Di
    dalam bahasa Jawa, ada kata manten yang arti dan bentuknya bertalianjuga
    dengan mari dan mantun, yang diambil dari bahasa Jawa Kuno dengan
    makna ‘berhenti’. Misalnya, dalam bahasa Jawa Kuna, ada mariyapanas
    (1) ‘berbenti ia dari kemarahan’, (2) ‘berhentilab dari kemarahan’ dan
    manten angucap ‘berhenti berkata’.
    Kata bekas dalam bahasa Indonesia pada bangun frasa dapat menjadi
    intinya (yang diterangkan), seperti pada frasa bekas menteri, dan dapat juga
    menjadi atribut (yang menerangkan). seperti pada mobil bekas. Karena kata
    mantan itu menggantikan kata bekas yang berfungsi sebagai inti frasa, maka
    letaknya, sesuai dengan hukum DM, di awal frasa; mantan menteri, mantan
    presiden, mantan guru SD, dan sebagainya.
    Perlu ditambahkan babwa penggantian itu dimaksudkan unmk menghilangkan konotasi yang buruk dan untuk menghormati orang yang diacu.
    Oleh sebab itu, pemakaiannya pun berkenaan dengan orang yang dihormati
    yang pernah memangku jabatan dengan baik atau yang pernah mempunyai
    profesi yang diluhurkan. Kata bekas tetap dipakai, misalnya, untuk menyebut bekas penjahat ulung, bekas diktator, bekas kuda balap, bekas mobil
    presiden, pakaian bekas, barang bekas.
  2. Manakah yang benar mempercayai atau memercayai?
    Dalam pemakaian bahasa sehari-hari, dijumpai bentuk penulisan atau
    pengungkapan kata mempercayai (p tidak luluh) dan memercayai (p luluh).
    Keadaan semacam itu menunjukkan belum ada keseragaman di antara pemakai bahasa. Lulub tidaknya bunyi seperti ditunjukkan pada kasus di atas
    disebabkan. terutama, oleh dua hal. Pertama, sangkaan orang bahwa suku
    pertama pada kata itu sama dengan imbuhan atau tidak. Jika p-e-r itu disangka sama dengan imbuhan, bunyi p tidak diluluhkan sehingga dipakai
    bentuk seperti mempercayai, memperkarakan, memperkosa. Sebaliknya, jika
    p-e-r itu dipandang tidak sama dengan imbuhan, bunyi p diluluhkan sehingga digunakan bentuk memercayai, memergoki, memerlukan. Kedua.
    anggapan orang bahwa bentuk dasarnya masih asing atau tidak. Jika bentuk
    dasar itu dianggap asing, bunyi p cenderung tidak diluluhkan sehingga muncul bentuk seperti mempennutasi, mempersentasekan, mempermanenkan.
    Dapat ditambahkan, jika bentukan yang dihasilkan akan terasa mengaburkan
    bentuk dasar, orang juga cenderung tidak meluluhkan bunyi p itu, seperti
    pada mempascasarjanakan, memperdana-menterikan, mempanglimakan.
    Bunyi p pada imbuhan per- seperti pada pertemukan dan pertandingkan memang tidak luluh pada bentukan mempertemukan dan mempertandingkan. Namun, perlu diketahui bahwa p-e-r pada percayai, perkarakan, perkosa bukanlah imbuhan. Jika bentukan yang akan dihasilkan itu
    disesuaikan dengan kaidah penggabungan bunyi, seharusnyalah bentukan itu
    menjadi memercayai, memerkarakan, memerkosa. Demikian juga, masalah
    asing tidaknya bentuk dasar, ataupun bentukan yang dihasilkan, dapat
    dikesampingkan jika kaidah itu akan diikuti. Pada praktiknya, batas asing
    tidaknya sebuah kata sulit ditentukan, kecuali jika kata itu baru diperkenalkan untuk pertama kali. Jika hal itu diduga dapat membingungkan
    pembaca. pada pemakaian yang pertama dalam tulisan ilmiah dapat ditambahkan bentukan yang hendak dijauhi, misalnya memercayai (mempercayai), memersentasekan (mempersentasekan), memanglimakan (mempanglimakan).
  3. Kata siang, malam, pagi, dan sore serta pemakaiannya dalam sapaan.
    Dalam bahasa Indonesia kita mengenal beberapa kata yang mengacu ke saat
    tertentu yang merupakan bagian hari: siang, malam, pagi, dan sore.
    Persepsi orang berbeda-beda terhadap pengertian yang diacu oleh kata itu.
    Hal itu terlihat pada keberagaman batasan yang diberikan oleh beberapa
    kamus.
    Kata siang bermakna saat matahari terbit sampai matahari terbenam
    atau dari pukul 6.00 sampai pukul 18.00. Kata siang biasa dipakai sebagai
    pasangan kontras malam. Kata malam bermakna saat matahari terbenam
    sampai matahari terbit atau dari pukul 18.00 sampai pukul 6.00.
    Kata pagi bermakna waktu menjelang matahari terbit atau saat mulainya hari. Rumusan lain yang dapat ditemukan adalah saat matahari terbit
    pukul 9.00 atau pukul 10.00. Dari beberapa rumusan itu dapat dikatakan,
    pagi adalah bagian akhir dari malam dan bagian awal dari siang.
    Di samping kata itu, kita juga mengenal subuh dan dini (hari). Kata
    subuh mengacu ke saat menjelang terbitnya fajar, sedangkan dini hari
    mengacu ke awal hari. Dengan kata lain, subuh dan dini hari adalah bagian
    akhir dari malam dan bagian awal dari pagi. Orang juga menyebutnyapagipagi benar atau pagi buta.
    Kata sore bermakna saat sesudah tengah hari sampai saat matahari
    terbenam atau dari pukul 14.00 sampai pukul 18.00. Khusus saat menjelang
    matahari terbenam atau dari puk:ul 16.00 sampai pukul 18.00, kita menyebutnyapetang. Dengan demikian, petang adalah bagian alchir dari sore dan
    sore adalah bag ian alchir dari siang.
    Dari uraian di atas tampak bahwa pengertian kata-kata yang mengacu
    ke bagian hari itu dikaitkan dengan dua hal, yaitu (1) keadaan alam; ada
    tidaknya matahari atau keadaan terang dan gelap, dan (2) jam yang menjadi
    penunjuk waktu. Dua tolok ukur itulah yang menyebabkan perbedaan persepsi. Di Banyuwangi, ujung timur Pulau Jawa, pada pukul 6.00 matahari
    sudah kelihatan dan tidak dapat lagi disebut subuh. Bagi penduduk di tempat
    itu sinar matahari pada pukul 14.00 sudah tidak sedemikian panas sehingga
    mereka menganggap saat itu sudah sore. Sementara itu, di Banda Aceh,
    ujung utara Sumatra, pada pukul 6.00 matahari belum muncul; saat itu
    dikatakan masih subuh. Pada pukul 14.00 sinar matahari masih terasa panas
    dan orang di sana menganggap saar itu masih siang. Di daerah yang dekat
    kutub, misalnya Negeri Belanda, pada bulan tertentu matahari masih keIihatan pada pukul 21.00. Meskipun demikian, orang sepakat menyebut saat
    itu sudah malam.
    Perbedaan persepsi itu juga mempengaruhi sapaan salam yang berkaitan dengan saat kita menyapa. Batas pagi dan siang, misalnya, tidak
    dapat ditentukan secara tegas. Meskipun demikian, kita lazim mengucapkan
    selamat siang antara pukul 10.00 dan pukul 14.00. Selamat sore lazim
    diucapkan antara pukul 14.00 dan pukul 18.30. Pada puk:ul 16.30 sampai
    pukul 18.30, pada situasi yang formal, lazim diucapkan selamat petang.
    Selamat malam lazim diucapkan antara pukul 18.30 dan 4.00. Kita
    tidak lazim mengucapkan selamat subuh atau selamat dini hari. Antara
    pukul 4.00 dan pukul 10.00 lazim diucapkan selamat pagi.
    Ada kebiasaan baru yang menarik. Jika kata pagi dapat diartikan
    ‘awal hari’, maka penyiar yang muncul di Iayar televisi pada pukul 00.01
    menganggap wajar mengucapkan selamat pagi.
    Fungsi sapaan memang bukan untuk menginformasikan makna yang
    terkandung pada kata-kata yang dipakai, melainkan untuk menciptakan kontak awal yang akrab antara pembicara dan kawan bicara yang memungkinkan komunikasi selanjutnya berjalan Jancar. Sapaan kadang-kadang juga
    digunakan untuk maksud tertentu. Pada pukul 8.00 seorang atasan dapat
    mengucapkan “selamat siang” kepada bawahannya yang baru datang ke
    kantor yang menurut aturan, karyawan itu seharusnya masuk pukul 7 .00.
    Dalam hal itu, sapaan digunakan untuk menegur dan mengingatkan karyawan bahwa ia datang terlambat. Jadi, jika penyiar televisi mengucapkan
    “selamat pagi” pada pukul 1.00, tampaknya iajuga bermak:sud mengingatkan penonton bahwa saat itu sudah mulai hari yang baru.
  4. Pemakaian ini, itu dan begini, begitu
    Kata ini dan itu biasa digunakan sebagai kata penunjuk. Dalam pemakaian
    yang umum, ini menunjuk sesuatu yang dekat dengan pembicara, sedangkan itu menunjuk sesuatu yang jauh dari pembicara. Dalam bahasa tulis
    terdapat konvensi yang lazim diikuti. Kata ini digunakan untuk mengacu
    ke bagian yang akan disebutkan. Untuk lebih jelasnya, kita perhatikan
    contoh berikut.
    ( l) Saya sangat tertarik pada perkumpulan yang Saudara pimpin. Saya
    ingin memperoleh jawaban dari Saudara atas beberapa pertanyaan
    saya ini. Perrama, di manakah saya dapat mendaftarkan diri? Kedua,
    berapakah uang iuran setiap bulan?
    Pada contoh (1) di atas, kata ini mengacu ke dua penanyaan yang
    disebutkan kemudian. Jika penanyaan itu disebutkan terlebih dahulu, kata
    pengacu yang digunakan adalah itu. Perhatikan perubahan susunannya berikut ini.
    (2) Saya sangat tertarik pada perkumpulan yang Saudara pimpin. Di
    manakah saya dapat mendaftarkan diri? Berapakah uang iuran setiap
    bulan? Saya ingin memperoleh jawaban dari Saudara at as beberapa
    pertanyaan saya itu.
    Pada contoh (2), kata itu mengacu balik ke bagian yang telah disebutkan, yakni dua kalimat tanya di depannya. Contoh berikut ini memperlihatkan pemakaian kata ini dan itu secara bersama-sama.
    (3) Karena petunjuk pelaksanaan yang telah disiapkan dipandang tidak
    praktis, disusunlah petunjuk baru. Selain alasan itu, ada pula alasan
    lain yang dapat disebutkan berikut ini. (a) Landasan hukum tidak
    lengkap. (b) Penanggung jawab kegiatan tidak ditegaskan . (c) Sanksi
    atas kelalaian pelaksanaan tidak dinyatakan.
    Di samping kata ini dan itu, ada pula kata begini dan begitu yang
    mempunyai aturan pemakaian yang sama. Menu rut asal-usulnya kata begini
    berasal dari bagai ini dan begitu berasal dari bagai itu. Kata begini mengacu ke bagian yang akan disebutkan, sedangkan begitu mengacu ke bagian
    yang telah disebutkan. Marilah kita perhatikan contoh berikut ini.
    (4) Beginilah cara menggiring bola yang baik. Tendanglah bola sesuai
    dengan kecepatan berlari. Setiap kali bola ditendang, kaki Anda
    yang lain harus masih dapat menjangkaunya. Semakin keras tendangan Anda, semakin cepat Anda harus berlari.
    Pada contoh di atas, kata begini mengacu ke bagian berikut dari paragraf itu yang menjelaskan cara menggiring bola. Kini kita perhatikan
    pemakaian kata begitu.
    (5) Jika bola ditendang terlalu keras, sedangkan Anda tidak cepat berlari, kemungkinan besar yanp terjadi adalah bahwa kaki And a yang
    lain tidak dapat menjangkaunya. Jika lawan Anda mengawal secara
    ketat, bola yang di luar jangkauan kaki Anda dapat diserobotnya.
    Dengan begitu Anda akan kehilangan bola.
    Pada contoh di atas, kata begitu mengacu ke pernyataan yang telah
    disebutkan, yakni hal lepasnya bola ke kaki lawan.
    Tentu saja, kata begitu yang dibicarakan di sini bukanlah yang semakna dengan demikian, seperti yang terdapat pada kalimat Ia begitu berwibawa atau Begitu datang, ia marah-marah.
  5. Manakah yang benar kotip atau kotif?
    Kota seperti Depok kadang-kadang disebut dengan singkatan kotif dan
    kadang-kadang pula kotip. Manakah bentuk yang benar?
    Kedua bentuk itu merupakan kependekan dari kota administratif.
    Kata administrative kita indonesiakan menjadi administratif, bukan administratip. Bandingkan pula dengan passive yang menjadi pasif, acrive
    menjadi aktif, dan communicaTive menjadi komunikatif. Pemendekan kota
    administratif menjadi kotip jelas salah sekalipun kadang-kadang bentuk itu
    dipakai. Bentuk yang benar adalah kotif.

Seri Bahasa Indonesia yang baik dan benar: 1. Anda bertanya, kami menjawab

0

(Sumber: Petunjuk Praktis berbahasa Indonesia (2000), Departemen Pendidikan dan kebudayaan)

Pertanyaan nomor 11-15 dan jawabannya

  1. Ada pendapat bahwa sapaan tuan dan nyonya berbau feodal
    Jika demikian, sapaan apa yang dapat menggantikan sapaan ladies and
    gentlemen sepeni yang digunakan dalam jasa layanan penerbangan?
    Dalam jasa layanan penerbangan sering digunakan sapaan tuan-tuan
    dan nyonya-nyonya sebagai terjemahan ladies and gentlemen . Benarkah
    sapaan tuan-tuan dan nyonya-nyonya berbau feodal? Sapaan itu tidak berbau
    feodal karena kedua jenis sapaan itu sampai sekarang masih digunakan.
    Misalnya, dalam jasa layanan medis (resep dokter). Masalahnya adalah bahwa kata nyonya dipakai sebagai sapaan yang biasanya dikenakan terhadap
    wanita yang sudah bersuami. Padahal di antara penumpang pesawat terbang
    mungkin ada wanita yang belum kawin. Oleh karena itu, agar semua penumpang dapat tercakup dalam penyapaan sebaiknya digunakan sapaan para
    penumpang yang terhormat, alih-alih tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang
    merupakan terjemahan ladies and gentlemen.
  2. Terjemahan kata exposure
    Kata exposure (Inggris) ada kalanya diterjemahkan dengan terpaan sehingga
    mass media exposure menjadi ‘terpaan media massa’. Tepatkah pemakaian
    kata terpaan sebagai padanan kata exposure?
    Bentuk exposure berpangkal pada kata expose. Kata expose bermakna
    (1) ‘membiarkan’, (2) ‘menyingkapkan, menganalisis sehingga jelas’, (3)
    ‘mengatur sinar saat memotret’, dan (4) ‘rnemamerkan’. Dari kata expose
    ini pula terbentuk kata (a) expose yang bermakna ‘pembentangan, penjelasan, pembeberan’ dan (b) exposed yang bermakna ‘dibiarkan tanpa perlindungan, terbuka, terbentang’. Kata exposure bermakna (1) ‘penyingkapan,
    tersingkapnya’, (2) ‘jurnlah film yang dapat dijadikan gambar’.
    Ternyata bahwa expose yang merupakan pangkal kata expose,
    exposed, dan exposure bermakna ganda dan kita hendaknya mengartikannya
    menurut cabang ilmu dan bidang pemakaiannya. Sebagai istilah teknis, kita
    dapat menyempitkan dan meluaskan arti expose.
    Kata Indonesia yang dekat cakupan maknanya dengan kata expose
    adalah dedahkan, mendedahkan ‘membuka’, pajankan, memajankan ‘membiarkan terbuka terhadap pengaruh’ dan singkapkan, menyingkapkan ‘membuka, menyelak’. Dengan demikian, kata expose menjadi mendedahkan,
    memajankan, dan menyingkapkan; exposed menjadi terdedah, rerpajan, dan
    tersingkap; serta exposure menjadi dedahan, pajanan, dan singkapan.
    Kata terpaan kurang tepat dipakai sebagai padanan kata exposure
    karena makna kata menerpa adalah ‘melompati dan menerkam, mengejar
    hendak menyerang’.
  3. Mengapa kita memilih malapraktik dan bukan malpraktik atau praktik
    mala sebagai padanan malpractice (lnggris)?
    Bentuk mal- dalam bahasa Inggris mula-mula berarti ‘buruk’ dan kemudian
    bermakna juga ‘tidak normal, tidak memadai, salah, merupakan, mencelakakan, jahat’ . Untuk mencukupi makna semua itu dipilih bentuk malasebagai padanan yang maknanyajuga meluas: ‘noda, cacar, membawa rugi ,
    eel aka, sengsara, dan bencana’ .
    Bentuk mala- Jawa Kuna yang diserap oleh bahasa Melayu, memang
    seasal dengan bentuk mal- Inggris. Hendaknya kita selalu ingat bahwa dalam pembentukan istilah baru, kita dapat menyempitkan atau meluaskan
    istilah makna yang lama. Dengan riemikian, kita memperoleh perangkat
    istilah yang bersistem.
    Di dalam bahasa Indonesia, mala- merupakan unsur terikat yang udak
    dapat secara bersendiri berfungsi sebagai sebuah kata dengan ani tertentu.
    Oleh karena itu, urutan unsurnya pun tetap. Berdasarkan hal itu, padanan
    istilah Inggris malpractice, misalnya, adalah malapraktik, bukan praktikmala atau praktik mala. Berikut ini wntoh yang lain.
    Asing
    malabsorption
    maladaption, maladjustment
    rna/distribution
    malfeasance
    malformation
    malfunction
    malnutrition
    malposition
    Indonesia
    malaserap
    malasuai
    maladistribusi, malaagih
    malatindak (jabatan)
    malabentuk, malaformasi
    malafungsi
    malagizi
    malasikap
  4. Apakah yang dimaksud dengan metropolitan dan apa pula yang dimaksud dengan megapolitan?
    Bentuk metropolitan merupakan bentuk adjektif dari metropolis. Kata
    metropolis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata meter yang bermakna
    ‘ibu’ dan polis bermakna (1) ‘ibu k01a’ atau ‘kota terpenting dalam negara
    atau wilayah’ dan (2) ‘kota yang menjadi pusat kegiatan perdagangan
    industri, dan pemerintahan’ . Contoh. polisi metropolitan bermakna ‘polisi
    kota besar’. Kata megapolis bermakna (1) ‘kota yang sangat besar’, (2)
    ‘daerah yang amat padat penduduknya dan yang berpusatkan metropolis’,
    atau (3) ‘gabungan beberapa metropolis’.
  5. Apakah makna debirokratisasi dan deregulasi?
    Akhir-akhir ini dijumpai kata debirokratisasi dan deregulasi. Apakah makna
    keduanya? Kata birokrasi berasal dari kata bureaucracy yang bermakna
    ‘administrasi yang dicirikan oleh kepatuhan pada aturan, prosedur, dan
    jenjang kewenangan sehingga sering mengakibatkan kelambanan kerja,
    kerumitan perolehan hasil, dan penundaan gerak; sedangkan kata birokratisasi yang berasal dari bureaucratization bermakna ‘hasil tindakan yang
    berhubungan dengan, atau yang bercorak birokrasi’. Kata regulasi yang
    berasal dari regulation bermakna ‘tindakan pengurusan dengan berbagai
    aturan (yang berkekuatan hukum);.
    Unsur de- yang melekat pada kata serapan dari bahasa asing, misalnya bahasa Inggris, bermakna (1) ‘melakukan hal yang sebaliknya’, (2)
    ‘mengalihkan sesuatu dari’, (3) ‘mengurangi’, (4) ‘suatu ubahan dari’, dan
    (5) ‘keluar dari’. Jadi, debirokratisasi bermakna ‘tindakan atau proses mengurangi tata kerja yang serba lamban dan rumit agar tercapai hasil dengan
    lebih cepat’, sedangkan deregulasi bermakna ‘tindakan atau proses menghilangkan atau mengurangi segala aturan’.
    Perlu diingat ba..’lwa pada kedua bentuk itu sudah terkandung makna
    tindakan. Oleh sebab itu, jika kita akan membentuk kata kerja, tidak perlu
    kita menambahkan imbuhan -kan. Jadi, cukup mendebirokratisasi atau menderegulasi, dan bukan mendebirokratisasikan atau menderegulasikan.

Seri Bahasa Indonesia yang baik dan benar: 1. Anda bertanya, kami menjawab

0

(Sumber: Petunjuk Praktis berbahasa Indonesia (2000), Departemen Pendidikan dan kebudayaan)

Pertanyaan nomor 6-10 dan jawabannya

  1. Apakah arti kumpul kebo? Ungkapan Indonesia yang benarkah itu?
    Kumpul kebo yang berarti ‘hidup bersama sebagai suami istri di luar
    pemikahan’ dipakai orang untuk menggantikankatasamenleven (bahasa Belanda). Ungkapan ini bukanlah ungkapan yang benar dalam bahasa Indonesia karena kumpul kebo diambil dari bahasa daerah. Jika kita menghendaki kumpul kebo itu menjadi ungkapan bahasa Indonesia, bentuknya harus
    kita ubah menjadi kumpul kerbau karena kata Indonesia yang benar adalah
    kerbau bukan kebo.
  2. Apakah arti waris, warisan, mewarisi, mewariskan, dan pewaris?
    Waris berarti ‘orang yang berhak menerima pusaka (peninggalan) orang
    yang telah meninggal’ .
    Warisan berarti ‘harta pusaka peninggalan’.
    Mewarisi berarti 1 ‘mendapat pusaka dari … ‘, tnisalnya tidak ada yang
    berhak mewarisi harta benda orang itu selain anak cucunya atau
    karib baidnya; 2 ‘menerima sesuatu yang ditinggalkan’, misalnya
    bangsa Indonesia mewarisi nilai budaya luhur peninggalan nenek
    moyang yang hid up pada zaman dahulu.
    Mewariskan berarti 1 ‘memberi pusaka (peninggalan) kepada … ‘, misalnya
    saya akan mewariskan riga perempat dari harta kekayaan kepada
    anak-anak soya, sedangkan yang seperempat lagi akan saya serahkan
    kepada panti asuhan; 2 ‘menjadikan waris’, misalnya meskipun bukan
    waris jika diwariskan oleh orang yang meninggal itu menjadi waris
    juga.
    Pewaris berarti ‘yang memberi pusaka’, tnisalnya Pang lima Besar Sudirman
    adalah pewaris perjuangan, melawan penjajahan Belanda, bagi
    bangsa Indonesia.
  3. Makna apa yang disandang kata prakiraan itu?
    Kata prakiraan berpangkal pada prakira. Prakira berpangkal pada bentuk
    pra- dan kira. Di dalam bahasa Indonesia bentuk pra- mempunyai makna
    3
    yang beragam, tetapi masih bertalian. Hal itu bergantung pada kata yang
    digabung dengan pra-:
    (l) pra- bermakna (di) muka; misalnya, prakata;
    (2) pra- dipakai dengan makna ‘sebelum’ atau ‘mendahului’; misalnya
    prasejarah, pra-Perang Dunia I;
    (3) pra- dapat juga bermakna sebagai ‘persiapan’, misalnya prasekolah,
    praseminar, prapromosi;
    (4) pra- bermakna ‘terjadi’ atau ‘dilakukan sebelum peristiwa’ atau ‘perbuatan lain terjadi’; misalnya, prasangka (prejudice), pracampur
    (premix), prarekam (prerecord);
    Kata kira dapat bermakna ‘menaksir, berhitung’. Misalnya, Hendaklah kaukira dulu, berapa rupiah yang akan kaubelanjakan itu. Kataprakira
    mengandung unsur makna ‘hitung’ dan ‘sebelumnya’. Jadi, kata prakira
    berbeda maknanya dengan kira-kira yang juga berasal dari kata yang sama.
    Dari kataprakira dapat dibentuk kata memprakirakan yang bermakna
    ‘menghitung sebelumnya’ dan hasilnya disebut prakiraan yang bermakna
    ‘perhitungan sebelumnya’. Prakiraan adalah hasil memprakirakan, sedangkan prosesnya disebutpemrakiraan. Bandingkandengan menulis, penulisan,
    dan tulisan.
    Prakiraan cuaca digunakan dalam bidang meteorologi sebagai padanan
    weather forecast. Keadaan cuaca yang akan terjadi dapat diharapkan sesuai
    dengan perhitungan sebelurnnya. ltu pula agaknya mengapa weather forecast
    tidak dijadikan parkas cuaca. Di samping itu, padanan prakira untuk
    forecast memungkinkan kita terhindar dari keharusan menggunakan istilah
    peramal ataujuru ramal, atau ahli ramal untuk para forecasters karena kita
    dengan mudah dapat membentukjuru prakira atau ahli prakira.
  4. Pada beberapa acara resmi ada kebiasaan yang berupa kegiatan mengajak pihak lain untuk minum sambil mengakat gelas (toast).
    Adakah padanan kata toast dalam bahasa Indonesia?
    Pengindonesiaan kata toast sebenarnya dapat dilakukan jika kita menyimak
    Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1986: 972). Kata
    menyulangi, antara Lain, bermakna ‘mengajak minum’, yang dapat digunakan sebagai padanan kata toast itu. Contoh pemakaian kata menyulangi dan
    bersulang-sulangan dalam kalimat adalah sebagai berikut.
    4
    a. Menteri Luar Negeri menyulangi Duta Besar Jepang demi persahabatan
    kedua negara.
    b. Selesai penandatanganan naskah perjanjian kerja sama, kedua pejabat negara itu bersulang-sulangan demi kerja sama yang kekal.
    Pada acara penyulangan itu, layak diucapkan dirgahayu yang bermakna ‘semoga panjang umur’.
  5. Makna kata canggih
    Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarmmta) dinyatakan bahwa
    canggih bermakna ‘suka mengganggu (ribut, bawel)’ . Kalau demikian ,
    peralaran yang canggih bermakna ‘peralatan yang bawel’ . Benarkah hal
    yang demikian itu?
    Pada mulanya kata canggih itu bermakna ‘suka mengganggu , ribut,
    bawel’. Namun, untuk kepentmgan ilmu dan teknologi, kata canggih itu
    diberi makna baru sehingga dapat menampung konsep yang disandang oleh
    kata sophisticated (Inggris).
    Dengan demikian, kata canggih kini bermakna (1) ‘banyak cakap;
    bawel; cerewet’, (2) ‘suka mengganggu (ribut)’, (3) ‘tidak dalam keadaan
    yang wajar. murni. atau asli’ , (4) ‘kehilangan kesederhanaan yang asli
    (seperti sangat rumit, ruwet, atau terkembang)’, (5) ‘banyak mengetahui
    atau berpengalaman (dalam hal-hal duniawi)’, dan (6) ‘bergaya intelektual’ .
    Jadi, peralatan yang canggih bukan bermakna ‘peralatan yang cerewet ‘,
    melainkan ‘peralatan yang rumit dan peka’, sepeni makna pada nomor 4,.
    Contoh lain:
    (I) Dia menerapkan cara berpikir yang canggih. (bergaya intelektual).
    (2) Komputer itu merupakan alat canggih yang sangat dibutuhkan dewasa ini.

Seri Bahasa Indonesia yang baik dan benar: 1. Anda bertanya, kami menjawab

0

(Sumber: Petunjuk Praktis berbahasa Indonesia (2000), Departemen Pendidikan dan kebudayaan)

Pertanyaan nomor 1-5 dan jawabannya

  1. Pusat Pendidikan dan Latihan atau Pusat Pendidikan dan Pelatihan?
    Jika pendidikan itu diartikan ‘proses mendidik’ dan didikan diartikan ‘basil
    mendidik ‘ maka, dengan taat asas ‘proses melatih’ itu akan menjadi pelatihan dan latihan akan diartikan ‘basil melatih, yang dilatihkan’. Jadi, yang
    benar adalah Pusat Pendidikan dan Pelatihan.
  2. Makna apakah yang disandang bebas parkir?
    Kata bebas parkir diartikan orang ‘dibebaskan dari pembayaran parkir’. Untuk menyatakan arti itu, sebaiknya dipakai kataparkir gratis atau parkir cuma-cuma (free parking). Bebas parkir seharusnya diartikan ‘dilarang berparkir’ (no parking).
  3. Benarkah namun demikian dipakai sebagai pengungkap hubungan
    antargagasan?
    Kata namun diartikan sama dengan tetapi. Akan tetapi, bentuk tetapi demikian yang seharusnya sama dengan namun demikian tidak pernah dipakai
    karena janggal. Atas dasar itu, bentuk namun demikian boleh dikatakan
    sebagai bentuk yang tidak benar.
  4. Sudah benarkah bentuk penulisan (1) mensahkan, mempel, mentes; (2)
    mengolahragakan masyarakat; (3) ulang tahun Korpri ke-14?
    (1) Jika imbuhan me- ditambahkan pada kata yang bersuku tunggal,
    seperti sah, pel, dan res, maka awalan itu berubah menjadi mengesehingga bentuknya menjadi mengesahkan, mengepel, dan mengetes.
    Demikian juga, pengimbuhan pe-… -an sehingga menghasilkanpengesahan, pengepelan, dan pengetesan. Jika kita bertaat asas pada sistem
    perekabentukan seperti itu , pembentukan itu berlaku juga bagi kata
    bersuku tunggal lain, seperti born, cat, las, dan lap.
    Contoh: mengebom, pengeboman
    mengecat, pengecatan
    mengelas, pengelasan
    mengelap, pengelapan
    (2) Untuk mengimbau masyarakat agar gemar berolahraga, dipakai orang
    ungkapan mengolahragakan masyarakat. Ungkapan itu kurang
    cerrnat. Imbuhan me-… -kan pada bentuk mengolahragakan, menurut
    kaidah yang benar, berarti ‘membuat … jadi … ‘ ‘membuat masyarakat menjadi olahraga’. Untuk mengungkapkan arti ‘membuat masyarakat berolahraga’ hendaklah digunakan imbuhan memper-… -kan.
    Jadi, bentuk yang benar adalah memperolahragakan masyarakat, bukan mengolahragakan masyarakat. Contoh lain, memperaksarakan
    masyarakat, memperhentikan pegawai, dan mempertemukan mempelai
    yang masing-masing berarti ‘membuat masyarakat beraksara’, ‘membuat pegawai berhenti’, dan ‘membuat mempelai bertemu’.
    (3) Bentuk tulisan Ulang Tahun Korpri Ke-14 dianggap kurang cermat
    karena dapat ditafsirkan bahwa di negara kita sekurang-kurangnya
    ada 14 macam korpri. Yang berulang tahun pada saat itu adalah
    Korpri Ke-14. Dalam penyusunan kata yang cermat, sebaiknya ke-14
    itu didekatkan pada ulang tahun karena memang yang dirayakan itu
    adalah ulang tahun ke-14 Korpri. Jadi, penulisan yang benar adalah
    Ulang Tahun Ke-14 Korpri.
  5. Samakah arti negeri dan negara?
    Kata negeri tidak sama artinya dengan negara. Negeri berarti ‘kota, tanah
    tempat tinggal, wilayah atau sekumpulan kampung (distrik) di bawah
    kekuasaan seorang penghulu (seperti di Minangkabau)’. Kata negeri bertalian dengan ilmu bumi. Negara berarti ‘persekutuan bangsa dalam suatu
    daerah yang tentu batas-batasnya dan diurus oleh badan pemerintah yang
    teratur’. Kata negara berpadanan dengan kata state (lnggris) atau staat
    (Belanda). Kata negara digunakan jika bertalian dengan sudut pandang
    politik, pemerintahan, atau ketataprajaan.
    Berdasarkan pengertian kedua kata itu, kita telah mengubah bentuk
    pegadaian negeri, kas negeri, ujian negeri menjadi pegadaian negara, kas
    negara, ujian negara. Sejajar dengan perubahan itu, jika kita bertaat asas
    2
    pada pengertian negeri dan negara, sebaiknya bentuk pegawai negeri, sekolah negeri, perguruan tinggi negeri, pengadilan negeri diubah pula menjadi
    pegawai negara, sekolah negara, perguruan tinggi negara, pengadilan negara jika memang badan-badan itu diurus oleh badan pemerintah secara teratur.