Jerman terkenal dengan moto “ekspor produk dan jasa sebanyak-banyaknya dan selalu surplus dagang” sambil rakyat mereka tetap menabung untuk terus memupuk modal dan persiapan hari tua. Selain itu, Jerman mengajarkan kepada rakyatnya “ilmu membuat barang” sehingga banyak sekali produk kelas tinggi Jerman yang kesohor dan jadi impian mayoritas orang di dunia untuk memilikinya: Mercedes Benz, Audi, Porsche dsb. Jerman juga terkenal berfokus pada usaha kelas menengah (Mittlestand).
Jadi, dari Jerman, Indonesia bisa belajar salah satu cara yang terbaik untuk tumbuh besar dan sehat plus rasio Gini yang cukup rendah (34,4; Indonesia: 37,6; AS: 48,8 per akhir 2020) dengan cara: hidup hemat, tanpa utang luar negeri, banyak perusahaan menengah, banyak ekspor produk dan jasa teknologi (rasio ekspor terhadap GDP-nya mencapai 47,46% selama 2021; atau 29,4% secara rata-rata selama periode 1970-2021 (https://www.theglobaleconomy.com); rasio ekspor Indonesia terhadap GDP Indonesia selama 2021: 21,56% (karena meledaknya ekspor CPO, batubara dan komoditi lain akibat pandemi Covid-19). (Baca juga Pentingnya Spesialisasi:https://www.kompasiana.com/tjansietek/5a926b7df133440ba3323532/pentingnya-spesialisasi-bagi-bangsa-perusahaan-dan-individu)
Rasio perdagangan internasional Jerman terhadap GDP-nya selama Masa 1970-2021:
Secara Net International Investment Position (NIIP; posisi investasi internasional secara bersih) Jerman bahkan mengalahkan China (kreditur terbesar nomor tiga dengan USD 1,943 triliun per akhir Maret 2022) sebagai bangsa kreditur terbesar nomor dua (dengan USD 2,84 triliun per akhir Maret 2022); Jepang menduduki peringkat satu dengan USD 3,307 triliun per akhir Juni 2022 di dunia . Rekor Jepang itu telah dipegang selama 31 tahun secara berturut-turut (https://asia.nikkei.com/Economy/Japan-remains-top-creditor-nation-for-31st-year-in-a-row). Tentang cara hitung NIIP, silakan klik: https://www.kompasiana.com/tjansietek/5ac97fd3cf01b451823a4dd2/prospek-rupiah-terhadap-baht-dan-ringgit-berdasarkan-niip-cadangan-forex-dan-utang-ln Selain itu, GDP Jerman (USD 4,2 triliun per akhir 2021) menyumbang 27,3% ke GDP gabungan (USD 15,37 triliun per akhir 2021 berdasarkan nilai tukar euro terhadap USD (1,06) per 5 Desember 2022) dari 27 negeri wilayah Uni Eropa, atau disebut juga sebagai wilayah euro (tetapi, mata uang euro dipakai oleh hanya 19 negeri anggota Uni Eropa), sehingga GDP Jerman secara nominal adalah yang terbesar di seluruh Eropa dan nomor empat di dunia setelah AS, China dan Jepang. Karena itu, ketika Italia, Yunani dll mengalami resesi ekonomi dan perlu bantuan uang, Jerman memberikan bantuan uang yang terbanyak dengan membeli obligasi terbitan ECB (Bank Sentral Eropa) dll. Salah satu akibatnya, setiap keputusan penting ECB perlu disetujui oleh Jerman, antara lain tentang berapa nilai obligasi ECB yang akan diterbitkan untuk mengatasi pandemi dll (Contoh: https://www.politico.eu/article/german-court-clears-ecb-bond-buying-program/). Jerman adalah negeri terbahagia nomor 7 di dunia (https://happiness-report.s3.amazonaws.com/2021/WHR+21.pdf).
Indonesia sedang mengalami lima hal sekaligus: (1) semakin banyak penghematan oleh kalangan menengah dan atas plus perusahaan; (2) ketidak-pastian tentang kapan pandemi Covid-19 akan berakhir; (3) angka pengangguran yang naik; (4) jutaan UMKM sudah gugur karena kehabisan modal dll;
dan (5) perbankan yang DPK-nya naik terus tetapi kekurangan saluran yang sehat untuk dipinjamkan kecuali membeli SUN, atau meminjamkannya ke LN, yang jelas sulit.
Pertumbuhan DPK Perbankan Indonesia
Jadi, hal nomor (1), yaitu Penghematan, menimbulkan paradok, yaitu hal
nomor (5).
2. Langkah-Langkah Pemerintah
Untuk mempertahankan, bahkan kalau bisa, menaikkan angka pertumbuhan GDP sekaligus “membantu” perbankan, pemerintah mencoba mengatasi paradok penghematan itu dengan: meminjam banyak uang dari dalam dan luar negeri, yang merupakan topik debat harian di media massa maupun sosial tentang keuntungan dan kerugiannya plus akibatnya. Pinjaman oleh pemerintah pun menimbulkan dilema yang ditimbulkan oleh efek crowding-out di dalam negeri, yaitu pinjaman pemerintah dari perbankan, investor pasar modal dll “mendepak keluar (crowd out)” sektor swasta dari kalangan yang sama dan menyebabkan berkurangnya pasokan modal kepada sektor swasta dan juga tingginya suku bunga utang. Contoh: yield SUN/SBN RI dengan tenor 10 tahun hampir selalu di atas 6% per tahun, bahkan pernah sd 16% per tahun (lihat grafik di bawah ini) dan jika ada pelarian modal (capital flight) keluar Indonesia atau faktor luar lain maupun faktor dalam negeri.
Tabel Perbandingan Yield SUN Tenor 10 tahun RI dan Negeri-Negeri Sejawat
3. Akibat-Akibat Lain dari Tingginya Yield SUN Indonesia
(i) Mayoritas super para pengusaha enggan berinvestasi, apalagi dalam dalam R&D yang bersifat jangka panjang dan penuh risiko gagal; (ii) Mereka juga sulit bersaing di pasar ekspor, apalagi dengan produk dan jasa negeri lain yang bunganya jauh di bawah Indonesia,
misalnya China:
(iii) Mereka juga sulit mengembangkan usaha untuk menambah kapasitas dan menangkap peluang bisnis baru; (iv) Perbankan lebih suka membeli SUN daripada meminjamkan uang mereka kepada sektor swasta; (v) Dll.
4. Paradok Penghematan yang bikin pusing Keynes& Jepang
4.1 Keynesian Economics (Ilmu Ekonomi Keynes)
Keynes menerbitkan bukunya “The General Theory of Employment, Interest and Money” pada 1936, tempat ia mengajukan teori-teori makroekonominya, terutama tentang pentingnya peran fiskal, alias pemerintah. Untuk mengatasi pengangguran, pemerintah dianjurkan pinjam uang untuk membiayai kegiatan produktif, misalnya pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur umum: Pinjaman uang untuk membantu menaikkan pertumbuhan GDP dll. Selain itu, pemerintah sebaiknya turun tangan ketika ada masalah besar di bidang ekonomi. Perangkat teori-teori itu, yang sekarang lebih disebut sebagai Keynesian Economics,” jelas bertentangan dengan kapitalisme liberal Adam Smith.
Sumber: koleksi pribadi
Karena besar pengaruh dan manfaatnya di seluruh dunia, penerapan ilmu ekonomi Keynes itu sering disebut juga sebagai “Revolusi Keynes,” sehingga mayoritas pemerintahan di dunia, yang mencakup Indonesia, “dengan senang hati” memakainya.
Paradok Penghematan vs Hemat Pangkal kaya
Selain teori-teori di atas, Keynes mengajukan problem makroekonomi yang disebut sebagai “the paradox of thrift,” atau “paradok penghematan” yang melawan moto “Hemat Pangkal Kaya.”
4.2 Arti Paradok Penghematan Setiap negeri, apalagi yang sedang berkembang, membutuhkan modal untuk investasi yang merupakan jalan utama untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan dan GDP sehingga menjadi makmur. Investasi saat ini menentukan pertumbuhan ekonomi masa depan.
Kenaikan GDP bergantung pada empat faktor utama: (i) tabungan nasional (rumah tangga + perusahaan + pemerintah) yang bisa dipakai untuk investasi, (ii) produktivitas, (iii) surplus dagang (ekspor melebihi impor) dan investasi langsung asing (FDI).
Tabungan merupakan salah satu hasil penghematan. Semakin banyak tabungan, semakin banyak modal yang tersedia untuk investasi. Nenek moyang kita meringkasnya sebagai berikut :”Hemat pangkal kaya.” Tetapi, penghematan sebuah bangsa atau wilayah secara besar-besaran menimbulkan masalah: berkurangnya kegiatan ekonomi & investasi serta mandegnya pertumbuhan ekonomi setempat. Itulah paradok penghematan dalam ekonomi makro.
Catatan: Penghematan seorang individu atau perusahaan biasanya menguntungkan individu atau perusahaan itu karena mereka akan kaya, yaitu bukti bahwa “hemat pangkal kaya.” Jika hasil penghematan itu ditabung di bank setempat dengan mendapatkan bunga, bank itu akan meminjamkan uang itu kepada individu dan/atau perusahaan lain. Tetapi, jika mayoritas individu dan perusahaan di negeri atau wilayah setempat menghemat dan sedikit sekali investasi oleh pihak lokal maupun PMA, ekonomi setempat akan mandeg.
Akibat-akibat penghematan oleh sebuah negeri:
1. GDP-nya bisa mandeg atau hanya tumbuh sedikit setiap tahun;
2. Para pengusaha dalam maupun LN enggan berinvestasi;
3. Pendapatan pajak dan pendapatan lainnya oleh pemerintah juga ikut mandeg atau tumbuh sedikit per tahun padahal kebutuhan pemerintah semakin naik (untuk tambah gaji, pemeliharaan infrastruktur, bayar utang dan bunga pinjaman dsb);
4. Akibat ikutannya: rakyat semakin pesimis terhadap kemajuan negerinya dan semakin hemat dalam banyak hal;
5. Dsb.
Solusi yang umum untuk mendorong rakyat berbelanja dan para pengusaha berinvestasi:
A. oleh negeri berkembang seperti China:
1. Ekspor produk dan jasa sebanyak mungkin;
2. Surplus dagang dipakai untuk membangun infrastruktur, memperbaik pendidikan & pelayanan kepada rakyat sehingga produk dan jasanya semakin mampu bersaing di LN dan semakin banyak yang dapat diekspor;
B. oleh banyak negeri maju:
1. Menambah jumlah jaminan sosial, jaminan kesehatan, jaminan usia tua, bantuan keuangan selama pensiun dll;
2. Meminjam uang dari dalam dan LN, misalnya AS untuk tutupi defisit anggaran negara;
3. Jika kepepet, menaikkan tarif pajak, terutama tarif pajak untuk orang kaya;
4. Dsb.
Hasil-hasil yang diharapkan oleh kedua golongan negeri itu:
1. Rakyat menjadi optimis tentang masa depan mereka sehingga berani berbelanja dan mengurangi tabungan;
2. Para pengusaha dalam dan LN menambah investasi di bidang yang sedang jalan (brownfield) dan melakukan investasi di bidang-bidang yang baru (greenfield);
3. Dsb.
Akibat-akibat peminjaman uang untuk tutupi defisit negara:
1. Utang negara bertambah, misalnya AS, Inggeris,
2. Wibawa pemerintah turun di mata rakyatnya dan di LN;
3. Negerinya bisa mengalami stagflasi, yaitu gabungan kemandegan ekonomi dan inflasi tinggi;
4. Akan tiba waktunya pemerintah tidak bisa meminjam uang lagi karena kehilangan kepercayaan investor dalam dan LN;
5. Negerinya bisa pailit, misalnya Venezuela, atau gagal bayar utang, misalnya Argentina;
6. Dsb
Contoh kemandegan: Ekonomi Jepang, yang sangat makmur, sudah mandeg hampir selama 30 tahun terakhir ini karena bangsa Jepang menghemat. Selain itu, neraca dagang internasional Jepang umumnya terus surplus. Akibatnya: (1) Perbankan Jepang kebanjiran tabungan sehingga mereka meminjamkannya ke luar negeri dengan membeli obligasi atau memberikan kredit; (2) Perusahaan-perusahaan Jepang juga memegang banyak sekali cash.
Perusahaan-perusahaan Tbk Jepang tercatat juga memegang banyak sekali cash, sejumlah USD 2,47 triliun per akhir 2019 (Reuters, 21 Mei 2020);
(3) Akibat ikutannya: suku bunga deposito di Jepang sudah nol atau bahkan minus sejak tengah tahun 2015!!!Pelajaran: ekonomi negeri yang makmur dan neraca dagang internasionalnya surplus berkelanjutan, tapi rakyatnya terus menghemat sehingga semakin makmur dan perbankan kebanjiran tabungan dll, akan mandeg.
Rincian Jawaban Jerman, Singapura & China untuk Paradok Penghematan
Jerman
Jerman menjawab paradok itu dengan cara “mengekspor produk dan jasa sebanyak-banyaknya dan selalu surplus dagang” sambil rakyat mereka tetap menabung untuk terus memupuk modal dan persiapan hari tua. Selain itu, Jerman mengajarkan rakyat “ilmu membuat barang” sehingga banyak sekali produk kelas tinggi Jerman yang kesohor dan jadi impian mayoritas orang di dunia untuk memilikinya: Mercedes Benz, Audi, Porsche dsb.
Di ASEAN, Singapura, yang punya hanya SDM yang andal tetapi hampir tidak punya SDA, juga menjawab dengan cara yang mirip: menabung, mengekspor dan menjadi pusat perdagangan plus keuangan Asia Tenggara. Salah satu hasilnya: Singapura adalah negeri terkaya nomor empat di dunia setelah Qatar, Macao & Luxembourg secara pendapatan per kepala (per capita income, atau per capita GDP) (https://www.worldometers.info/gdp/gdp-per-capita/). Singapura juga terkenal sebagai negeri paling bersaing nomor 5 di dunia (https://www.imd.org/centers/world-competitiveness-center/rankings/world-competitiveness/).
Di Asia Timur, China melakukan hal yang serupa dengan Jerman: menabung dan mengekspor. Salah satu hasilnya: cadangan devisa China (USD 3,2 T; terbanyak di dunia) per akhir Agustus 2021 (dan naik menjadi USD 3,426 triliun per akhir 2021, lalu turun menjadi USD 3,117 triliun per akhir November 2021). Indonesia punya USD 143 miliar per akhir Agustus 2021 (lalu turun menjadi USD 134 miliar per akhir 2021).
Khusus tentang China, FDI disambut dengan hangat, apalagi yang greenfield, alias membuka pabrik baru, bukan takeover pabrik lokal. Salah satu hasilnya: jumlah investasi langsung asing (FDI stock) di China mencapai USD 3,623 triliun (sekitar IDR 56 kuadriliun, dengan kurs USD 1= IDR 15.500), yang tidak mencakup laba ditahan dan diinvestasikan kembali oleh para pemilik PMA itu. Jumlah USD 3,623 triliun itu adalah data resmi pemerintah China per akhir 2021 (https://www.safe.gov.cn/en/2018/0928/1459.html) sedangkan lembaga-lembaga asing menyatakan “baru” USD 2,064 triliun per akhir 2021 (salah satunya:https://santandertrade.com/en/portal/establish-overseas/china/foreign-investment). Catatan: Selain FDI, nilai investasi asing secara portofolio dalam saham dan sejenisnya plus obligasi pemerintah maupun swasta China juga besar sekali: USD 2,155 triliun (IDR 33,4 kuadriliun) per akhir 2021. Sebagai pembanding: Di Indonesia, FDI stock USD 268,34 miliar dan nilai total investasi portofolio asing USD 269,56 miliar per akhir 2021 (https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Documents/Laporan_PIII_Tw_IV-2021.pdf). Kesimpulan: Jadi, Indonesia masih perlu tambah FDI baru sejumlah USD 434,34 miliar (atau 1,618 X yang sudah ada per akhir 2021) lagi supaya FDI stock kita setara dengan FDI stock di China secara per capita atau per orang (jumlah penduduk China = 5,147 x penduduk Indonesia). Tentu itu pekerjaan bareng pemerintah dan rakyat , yang mencakup para pengusaha, atau Indonesia Inc. FDI sebaiknya ditugaskan mengekspor produk-produk mereka ke seluruh dunia dan membawa masuk hasilnya ke Indonesia sesudah dipotong pembayaran bunga dan cicilan utang investasi mereka (jika ada)!!!
Indonesia Indonesia belum mampu menjawab paradok itu karena rasio ekspor terhadap GDP baru mencapai 21,56%, sedikit di atas rasio impor (18,86%) selama 2021 (https://www.tradingeconomics.com). Itu pun karena adanya lonjakan ekspor komiditas (CPO, batubara dll.) yang tiba-tiba selama pandemi Covid-19. Bahkan sebelum pandemi, nilai impor umumnya melebihi ekspor, apalagi ditambah dengan penambahan impor karena dan juga untuk banyaknya proyek pembangunan dan perbaikan infrastruktur di seluruh Indonesia.
Sekarang, dilema itu semakin menuntut jawaban yang segera dan tepat
Sejak pandemi di mulai pada Februari 2020, jutaan usaha kecil dan menengah tutup sehingga mayoritas makan modal mereka. Salah satu akibatnya, walaupun pandemi semakin mereda, mereka tidak punya cukup modal atau tidak punya modal sama sekali, bahkan banyak yang minus, sehingga tidak bisa langsung memulai kembali usaha mereka.
C. Solusi untuk Indonesia:
1. Lakukan kampanye khusus untuk mendorong kalangan menengah atas berbelanja, terutama segala macam produk dalam negeri.
2. Gencarkan kegiatan ekspor.
3. Berikan insentif keuangan maupun administratif yang luar biasa untuk menaikkan daya saing produk dan jasa Indonesia di LN sehingga eksportir semakin bergairah dan kompetitif.
Kita perlu bangga bahwa sudah beberapa tahun ini Indonesia adalah penghasil dan eksportir terbesar crude palm oil (CPO; minyak kelapa sawit kasar atau mentah) di dunia. CPO adalah penghasil besar devisa kita (naik tajam dari sekitar USD 13.5 miliar pada 2020 menjadi USD 28,52 miliar pada 2021, atau sekitar 54%). Saat ini harga CPO lumayan (sekitar USD 836/ton per 22 November 2022). Di Malaysia, biaya produksi CPO secara umum sekitar USD 1.200 per ton. Jadi, perkebunan sawit di di sana yang kurang efisien dll merugi banyak setiap hari (per 22 November 2022). Tetapi, di Indonesia, sejumlah perkebunan sawit yang besar, efisien, dan punya pabrik CPO masih bisa untung karena biaya produksinya di bawah USD 700/ton. Saat ini, para petani kecil mendapatkan harga sekitar Rp 1.850 per kg tandan buah segar (TBS), yang melebihi biaya produksi dan pemeliharaan pohon sawit mereka sehingga mereka happy (https://aceh.tribunnews.com/2022/11/21/harga-sawit-di-aceh-singkil-hari-ini-rp-1850kg).
Foto: Pembibitan pohon sawit di Sumatera
Energi Alkohol/ha dari Kebun Sawit 2 kali Energi Alkohol/ha Kebun Tebu, 10 kali Kedelai/ha
Pada 1983 James A. Duke, Ph.D., salah seorang profesional terkenal di Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), ditugaskan oleh Pusat Energi Pertanian Bagian Utara USDA untuk menyusun laporan perbandingan yang netral tentang 200 jenis tanaman penghasil energy terbarukan yang tumbuh di negeri-negeri berkembang (CRC Handbook of Agricultural Energy Potential of Developing Countries, 1987).
Di buku Secrets of the Soil (1998), dia memuji kelapa sawit sebagai salah satu sumber energy terbarukan organic yang paling produktif. Berdasarkan produksi /ha, salah satu varitasnya dapat menghasilkan energy alcohol sebanyak 2 kali energy yang dihasilkan pohon tebu, atau 10 kali energi yang dihasilkan oleh kedelai. Sawit dapat tumbuh di tanah terdegradasi, tadah hujan, rawa dsb yang biasanya sulit ditumbuhi oleh tanaman ekonomi lainnya. Juga kebal terhadap air asin walaupun terkena
pasang surut 2 kali sehari.
10 juta ha Kebun Sawit menyerap 250 juta ton CO2/tahun
Selain itu, untuk melakukan fotosintesa, pohon sawit dapat menyerap 25 ton metrik (TM) CO2 /ha/ tahun sehingga 10 juta ha kebun sawit akan menyerap 250 juta TM CO2/tahun dari udara sekitarnya, kontribusi luar biasa besar dalam penyerapan CO2 untuk memenuhi komitmen Indonesia dalam mengurangi pemanasan sedunia.
Proses fotosintesa juga diketahui menghasilkan produk tambahan berupa O2 yang menyejukkan lingkungan.
Tingkatkan Produksi TBS Sawit dengan Teknologi yang ramah lingkungan
Untuk meningkatkan produksi TBS sawit per ha secara intensif dan berkelanjutan, penting sekali memakai teknologi yang ramah lingkungan, misalnya dengan menyuburkan atau menyehatkan tanahnya secara alami sehingga produksi bisa naik sd 40%. Tanah yang subur dan sehat membantu menyerap banyak air hujan, mengurangi erosi dan pencucian (leaching), menurunkan suhu udara dan mencegah kebakaran. Pohon-pohon yang tumbuh di atasnya lebih tahan terhadap musim panas. Teknologi ini sudah lama tersedia di mana-mana di negeri kita.
Informasi Ringkas: 1. Kelas Lahan: A: Lokasi dekat (di bawah 20 km) dari jalan besar yang ber-aspal tebal, provinsi atau nasional; kontur lahan hampir semuanya rata; jalan-jalan di dalam kebun keras, bagus, tertata dan terpelihara dengan baik; tersedia sungai yang cukup besar, berair bersih dan air tersebut sepanjang tahun terbukti cukup untuk kebutuhan pembibitan, perumahan pegawai serta operasi kebun maupun pabrik kelapa sawit. Contoh:
Contoh lahan Kelas A
B: Lokasi cukup jauh (20-30 km) dari jalan besar yang ber-aspal tebal, provinsi atau nasional; kontur sebagian (+/- 50%) lahan rata dan sebagian lagi bergelombang, sebagian (+/- 50%) berawa dengan kedalaman maksimal 1 m; jalan-jalan di dalam kebun cukup keras, lumayan bagus, cukup tertata dan cukup terpelihara; tersedia sungai kecil dengan air cukup bersih dan sepanjang tahun terbukti cukup untuk pembibitan, berair cukup bersih dan harus cukup untuk kebutuhan pembibitan, perumahan pegawai serta operasi pabrik kelapa sawit.
C: Lokasi jauh (30-50 km) dari jalan besar yang ber-aspal tebal, provinsi atau nasional; kontur sebagian besar (>50%) lahan bergelombang atau berbukit-bukit kecil, sebagian besar (> 50%) berawa dengan kedalaman lebih dari 1 meter; sebagian besar (>50%) jalan-jalan di dalam kebun tidak keras, tidak bagus, tidak cukup tertata dan tidak cukup terpelihara; tersedia sungai kecil yang airnya terbukti hampir-hampir tidak cukup untuk kebutuhan pembibitan, perumahan pegawai dan kegiatan operasi kebun maupun pabrik kelapa sawit. Contoh:
D. Lokasi sangat jauh (di atas 50 km) dari jalan besar besar yang ber-aspal tebal, provinsi atau nasional; kontur hampir seluruh ( >70%) lahan bergelombang dan berbukit-bukit cukup besar, hampir seluruhnya (>80%) berawa dengan kedalaman lebih dari 1 m; hampir seluruh (>80%) jalan-jalan di dalam kebun lunak, tidak bagus, tidak tertata dan tidak terpelihara.
2. Merek bibit dan jumlah pohon per hektar
A: Minimum bermerek Lonsum, Socfin, Marihat, SJ yang terbaik atau merek lain yang setara, atau bahkan yang lebih baik, misalnya Bahlias, yang harus benar-benar dibuktikan dengan sertifikat dan berasal dari sumber/agen yang resmi dari setiap pemilik merek/perusahaan pembiak; rata-rata 129 pokok per hektar; daun dan batangnya terlihat sehat, misalnya hijau (cukup) tua (lebih baik berkonsultasi atau mengkaryakan para ahlinya); terpelihara, terpupuk secara benar dan konsisten/menurut rotasi; memiliki riwayat pohon dan blok yang lengkap; sebagian besar pohonnya berusia di bawah 10 tahun. B. Bibit merek lain yang tidak setara dengan yang di atas; kurang dari 129 pokok per hektar; daun dan batangnya terlihat kurang sehat; tidak terpelihara dan tidak terpupuk secara benar serta tidak konsisten/menurut rotasi; tidak memiliki riwayat pohon dan blok yang lengkap. Sebagian besar pohonnya berusia di atas 10 tahun.
Masalah-Masalah Umum Berinvestasi di Kebun Sawit 1. Sebagian besar investor yang berminat bisnis ini (di atas 90%) bukan profesional bisnis ini sehingga tidak mengetahui secara persis masalah di lapangan, misalnya status lahan apakah bersengketa dll, mutu pohon dan buahnya, jenis pupuk yang tepat pada tahap pembibitan, TBM, TM, panen, administratif, peraturan dll. Pengelolaan kebun sawit membutuhkan tim ahli berbagai bidang misalnya ahli pembukaan lahan, penyiapan infrastruktur dan fasilitas, pembibitan, pupuk, panen dll. Jadi, jangan andalkan satu atau dua orang ahli saja sebelum membeli kebun. Teliti sebelum membeli. Juga, sebagian besar kebun sawit memiliki plasma sehingga penelitian lapangan harus lebih dalam tentang sertifikat, perjanjian dengan pihak inti, utang bank, mutu pohon, keadaan infrastruktur dll.
2. Beberapa orang investor membeli kebun yang lahannya dalam sengketa baik dengan penduduk pemilik, perusahaan kebun tetangga maupun pihak lain, walaupun lahan tersebut dan kebunnya telah memiliki sertifikat maupun perijinan yang diperlukan. Investor yang ingin membeli lahan kosong dengan hanya memiliki ijin bupati setempat dll harus lebih hati-hati karena banyak lahan “tidur” ketika tidak ada investor yang membelinya. Lalu, lahan itu “bergejolak” ketika investor membelinya.
3. Sekarang ini hampir 98% pemilik kebun yang Kelas A tidak ingin menjualnya karena sedang untung besar. kalau perlu dana, setiap bank segera memberikannya. Jadi, harganya tentu mahal sekali apalagi harga CPO sedang tinggi. Contoh: Sekitar sebulan lalu, ketika harga CPO melebihi USD 1,000 per ton, harga kebun sawit naik hampir 50% daripada harga sebelumnya.
4. Jadi, kebun yang sedang ditawarkan untuk dijual sekarang ini biasanya Kelas B dan di bawahnya sehingga investor harus benar-benar teliti. Caranya: Berpahit-pahit dahulu daripada menangis kemudian. Perencanaan yang matang sama dengan telah menang perang sebagian. Tahap-tahapnya: Sediakan dana yang cukup sesuai target, bentuk tim ahli berbagai bidang yang jujur, benar-benar berpengalaman di lapangan, tahu segala macam peraturan dan persyaratan yang mengikat bisnis ini, cari lahan dan teliti segala sesuatunya dengan mendalam sebelum membeli.
Kendala umum: pemilik lahan yang bersangkutan biasanya ingin cepat-cepat bertransaksi, baik dengan cara memberikan batas waktu yang pendek sekali, peringatan dll. Jangan terpengaruh. Luas kebun sawit biasanya ribuan bahkan puluhan ribu hektar dan seringkali berada di beberapa desa atau kecamatan, kabupaten dll. Jadi, tidak wajar kalau calon penjual memaksa transaksi segera.
Awal Tahun 2022 media sosial dan televisi nasional rame-rame memberitakan kelangkaan minyak goreng. Kelangkaan ini menyebabkan harga minyak goreng tembus Rp 26.800 s/d 30.000 per kg.
Kompas.com memberitakan banyak emak meninggal saat antri minyak goreng. Suara.com “Viral! Lautan Emak-emak, antre minyak goreng bak Konser, Publik Ngeri. Harian Terbit “Ironi Emak-emak Meninggal saat Antre Minyak Goreng.
Kenaikan harga minyak goreng dipicu kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) saat itu di pasar International.
Data BPS mencatat produksi CPO 30,504 juta ton ditanam pada areal seluas 8,574 juta ha (data tahun 2021).
Kita memiliki perkebunan sawit yang terluas di dunia!!!
Jadi, sangat miris kita membaca dan mendengar berita-berita di atas.
Mengutip artikel Hukum Online.com pada 26 April 2022. dalam Perkara Migor, KPK dorong perbaikan tata kelola CPO dan produk turunan dengan memadukan melaluinya Sistem Nasional Neraca Komoditas (SNANK). Data berbasis tehnologi informasi yang melibatkan semua pemangku kepentingan itu memadukan penawaran dan permintaan barang yang diperdagangan untuk kebutuhan masyarakat dan industri di dalam negeri.
Tentang Produksi CPO
Minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dihasilkan dari pengolahan tanda buah segar (TBS) pohon sawit {Elaeis guineensis}, yang awalnya dikenal sebagai tanaman liar di Afrika Barat. Di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh orang Belanda pada 1848 {ditanam di Kebun Raya Bogor). Dari sanalah asal mula bibit sawit dikembangkan dan ditanam di Indonesia. Pohon sawit di Kebun Raya Bogor itu berasal dari Afrika dan yang tertua di Asia Tenggara!!!
Kebun sawit
Satu kilogram TBS dapat menghasilkan CPO berkisar 15 -23 % . Kisaran persentase itu bergantung pada disiplin pelaksana lapangan menjalankan standar panen dan TBS yang dipanen.
Mengingat proses untuk menghasilkan CPO, dari proses penanaman sampai diolah menjadi CPO di pabrik kelapa sawit (PKS), melibatkan jutaan orang tenaga kerj dan secara manual. Secara ekonomi, anggota tenaga kerja itu adalah sebagian dari masyarakat miskin di negeri kita yang tercinta ini. Mereka juga membutuhkan minyak goreng untuk memenuhi kebutuhan sehari harinya.
Saya anak pertama dari seorang Guru SD di daerah Curup, Bengkulu, Sumatera. Keinginan belajar bahasa Inggris tumbuh dari kesukaan saya mendengar siaran berita Radio BBC. Dalam benak saya saat itu adalah alangkah bahagianya kalau saya bisa seperti mereka.
Keinginan itulah yang mendorong saya mendapatkan buku-buku bahasa Inggris secara gratis (maklum kondisi ekonomi keluargaku sangat kurang). Di tahun 1980-an, saat itu yang hanya bisa saya lakukan adalah menulis surat ke Kedutaan Besar Inggris dan Australia untuk minta buku-buku bahasa Inggris secara gratis. Buku pertama yang saya terima adalah panduan kursus bahasa Inggris lewat siaran Radio Australia. Bukunya merah bergambar kanguru. Gembira sekali saya menerimanya.
Buku itu mendorong saya untuk kursus, tapi hanya bertahan 2 bulan, atau 16 kali pertemuan. Tempat kursusnya di ruang belajar siswa PGA, dari jam 20.00 sd jam 22.00 WIB. Kelompok kami maksimal 10 orang siswa dalam satu kelas. Pengajarnya guru PGA. Saya masih ingat kata-katanya “Untuk sukses, bahasa Inggris harus selalu dipraktikkan dan kamu harus berani mulai berbicara”. Kelemahan saya pada saat itu justru adalah kurang berani berbicara dan merasa minder dengan sesama siswa yang lebih cerdas plus berani berbicara di ruang kursus. Selain itu, selesai kursus, saya harus pulang dengan berjalan kaki seorang diri, kurang lebih 5 km, di malam hari.
Saya juga kesulitan membayar uang kursus dan saya putuskan mundur diri.
Ternyata kesulitan belajar bahasa Inggris yang saya alami saat itu, selain yang sudah saya ceritakan di atas, sebagiannya karena metode pengajarannya masih seperti pelajaran di sekolah pada saat itu: Lebih mengutamakan grammar.
Rasa takut salah berbicara itulah penyebab saya gagal kuasai bahasa Inggris secara aktif dan sekarang hanya mampu sekedarnya.
Penerjemah (translator) mengalihkan teks sumber (artinya secara tertulis) menjadi teks sasaran, atau menerjemahkan sebuah kata, ungkapan, penggal kalimat, kalimat lengkap, buku, surat, atau dokumen dari sebuah bahasa (sumber) menjadi bahasa lain (sasaran).
Penerjemah dibagi menjadi dua kelompok: hukum dan umum. Penerjemah hukum disebut sebagai penerjemah tersumpah (sworn translator) dan penerjemah umum disebut sebagai penerjemah umum. Sekarang, calon penerjemah tersumpah wajib lulus Ujian Kualifikasi Penerjemah (UKP) oleh lembaga sertifikasi profesi (LSP), yang salah satu di antaranya adalah LSP Universitas Indonesia (https://ui.lspbnsp.id) dan yang kali pertama di Indonesia mengadakan UKP oleh sebuah LSP, untuk mendapatkan Sertifikat Kompetensi sebagai penerjemah dan juru bahasa tersumpah (sworn translator and interpreter). Syarat akademis: minimum memegang Diploma III (D-III). Syarat lain: silakan kunjungi website LSP UI tersebut.
Sertifikat itu diterbitkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan ditandatangani oleh ketua LSP yang bersangkutan. Setelah itu, para lulusan diangkat oleh Menteri Hukum dan HAM (MenhumHAM) melalui sebuah surat keputusan dan, berdasarkan surat tersebut, disumpah oleh Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum (Dirjen AHU) sebagai penerjemah tersumpah.
Penerjemah umum tidak wajib ikut UKP, tetapi lebih baik mengikutinya untuk menambah pengalaman dll. Catatan: UKP-UKP sebelumnya dibagi menjadi dua bidang: hukum dan umum. Lulusan UKP umum mendapatkan sertifikat penerjemah umum, dengan peringkat A, B, atau C. Untuk info lebih banyak, silakan baca: https://lijusu.com/2022/11/16/profesi-apa-yang-bisa-dikerjakan-dari-rumah-ya/
Penerjemah umum biasanya menerjemahkan buku ilmiah dan umum, majalah, novel dll, yang tidak memerlukan stempel penerjemah tersumpah.
Juru bahasa (interpreter) mengalihkan secara lisan ucapan (sumber), yang bisa sebuah kata, ungkapan, penggal kalimat, kalimat lengkap, menjadi ucapan sasaran atau bahasa sandi (sign language). Seorang interpreter bisa melakukan pengalihan tersebut secara berturutan (consecutive) atau bersamaan (simultaneous) sesuai permintaan kliennya. Interpreter juga bisa memilih menjadi spesialis penjurubahasaan bersamaan (simultaneous interpreter).
Consecutive interpreter biasanya terlihat langsung atau berada diantara peserta pertemuan antara dua pihak atau lebih yang berbicara dalam bahasa-bahasa yang berbeda, secara tatap muka tentang bisnis, politik, teknologi dll. Simultaneous interpreter biasanya bekerja untuk konferensi, konvensi, rapat besar dll dan tidak terlihat atau berada di belakang layar.Catatan: Presiden Joko Widodo bebricara dalam bahasa IndonesiaP
Catatan: Presiden Joko Widodo bicara dalam bahasa Indonesia kepada Presiden Joe Biden, lalu dialihkan ke bahasa Inggris oleh interpreter beliau dan sebaliknya.
Interpreter Indonesia, di sebelah kiri Presiden Xi Jin Ping dan diapit oleh isteri beliau, Peng Li Yuan, di pertemuan G20 Bali, 15-16 November 2020:
Interpreter juga dibagi menjadi dua: tersumpah dan umum. Sworn interpreter merangkap sebagai sworn consecutive interpreter maupun simultaneous interpreter, sesuai dengan Sertifikat Kompetensinya masing-masing.
Banyak sekali buku teori, artikel ilmiah maupun umum tentang alih bahasa atau penerjemahan (translation) dan penjurubahasaan (interpreting).
Contoh Buku Praktik Penerjemahan:
Interpreter maupun translator, yang calon maupun yang praktisi, sebaiknya menjadi anggota Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) untuk belajar lebih dalam dari para senior dan pakar melalui seminar, webinar dan workshop, artikel dll, plus berjejaring secara nasional dan untuk mendapatkan relasi maupun pekerjaan. HPI (https://hpi.or.id) adalah anggota Himpunan Penerjemah Internasional (FIT): https//fit-ift.org
Tertarik pada bidang ini?
Segera daftarkan diri untuk ikut:
Semi-work Nasional Online Gabungan Pertama di Indonesia:
Untuk info lebih lengkap tentang prosedur pendaftaran, silakan kunjungi https://tjansietek.com, siapkan dokumen yang diperlukan, misalnya softcopy atau screenshot bukti transfer pembayaran investasi, atau surat undangan, kartu anggota organisasi atau Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) tertentu yang merupakan relasi BDA Group dan Translator Tjan, lalu klik: , lalu isi formulir pendaftaran itu. Semoga bermanfaat.
Pengalaman pribadi seorang anggota Panitia Semi-workshop Nasional Online 2022 “Praktik Penerjemahan Hukum dan Juru Bahasa Konferensi 2022”
Selasa lalu, ia men-share flyer semi-workshop itu dengan seorang teman lamanya, yang profesor di sebuah PT swasta besar dengan banyak cabang di daerah. Lalu, sang dosen meneleponnya dan bertanya “Saya ingat Bapak adalah adalah mantan penasihat investasi senior di pasar modal. Apakah bisa menjadi konsultan investasi untuk para anggota organisasi saya dan keluarga mereka? Organisasi nasional kami punya anggota hampir xxx juta orang di seluruh Indonesia. Untuk itu, apakah Bapak bisa adakan paparan lewat Zoom agar bisa dihadiri oleh sekitar xxx orang kepala cabang kami di seluruh Indonesia?” Anggota Panitia itu langsung jawab “Pasti bisa, Prof. Kita bisa membahasnya secara lebih rinci minggu depan. Program ini bisa bersifat pertemanan juga karena organisasi Prof adalah nirlaba dan bertujuan luhur.”