Friday, May 1, 2026
Home Blog Page 6

Dijual lukisan Buddha dll

0

Lukisan-lukisan dan foto ini diperoleh dari pameran dan lelang dari tahun 2009 sd 2016 di Jakarta. Mayoritas pelukisnya senior dan masih hidup. Mereka para pelukis terkenal dan pembuat foto burung yang nyentrik: Dia menginap 2 malam di Gunung Pangrango, Jawa Barat, untuk dapatkan foto burung itu.

Lukisan-lukisan dan foto ini harus harus terjual cepat.

Sebagian dibungkus plastik transparan. Silakan periksa.

Salam

Nama pelukis: Achmad Nazilie
Achmad Nazilie merupakan seorang seniman pelukis di Pasar Seni Ancol. Ia menempuh pendidikan SMSR (Sekolah Menengah Negeri Seni Rupa) Palembang. Mengambil desain grafis di Interstudy Jakarta. Melanjutkan STKW di Surabaya. Beberapa karya lukisannya dipamerkan di dalam dan luar negeri. Pameran dalam negeri yang diikuti di Grey Gallery Bandung belum lama ini. Ada juga lukisannya yang dilelang di 75 Gallery, Mampang. Karya Nazilie masuk nominasi di Grey Galley dari 1800 karya. Lukisannya bergaya Kontemporer.

harga 40 jt

Nama pelukis: Tato Kastareja

Tato Kastareja lahir di Cilacap, 26 Juni 1967. Saat ini aktif dalam kegiatan seni rupa seperti kegiatan pameran seni rupa, workshop, grafis desain, dan membuat special effect video. Tato pernah mengenyam pendidikan: Seni Rupa SMSR Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Seni Rupa STKW Surabaya. Ia telah mengikuti beragam pameran dan telah banyak meraih penghargaan, salah satunya Pemenang 5 besar karya terbaik Kompetisi Golden Palette 2005, dua kali Finalis Jakarta Art Award, dan finalis UOB Painting of the Year. Tato juga beberapa kali Pameran Nusantara Galeri Nasional Indonesia, dan Pameran Besar Seni rupa Indonesia 2008 “Manifesto”.

Sumber: https://gni.kemdikbud.go.id/pameran-virtual/manifesto-VIII/perupa/tato-kastareja

Harga: 55 juta

Harga: 20 juta

Nama pelukis: R.U. Soebagyo

Pak Bagiyo merupakan seorang seniman yang berelatar belakang pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Jakarta Yang lulus Pada tahun 1989. Sekarang ini dia menempati sebuah lapak yang berada di Pasar Seni, Ancol, Jakarta Utara. Dia mulai melukis atau berkarya pada tahun 1987. Kesehariannya melukis semua apa yang ada dalam pikirannya dan apa yang ada didepan matanya. Aliran yang dianut oleh Pak Bagiyo adalah Realis. Jadi, apa yang terjadi selalu dia tuangkan dalam kanvas. Proses inspirasi yang didapat pak Bagiyo biasanya dia mengamati lingkungan sekitar, apa yang sedang terjadi dalam masyarakat atau pemerintahan saat ini.

Sumber: https://upwunj2017.blogspot.com/2018/07/subagiyo-pelukis.html

Harga: 55 juta

Harga: 20 juta

Nama pelukis: Bhikkhu Gunasiri

Y.M. Bhikkhu Gunasiri sudah cukup lama mendedikasikan hidupnya untuk menyebar luaskan ajaran Buddha, yaitu Satu Jalan Mulia Berunsur Delapan (SJMBD) sebagai pedoman hidup bagi diri seseorang. Beliau sangatlah terkualifikasi untuk menjadi seorang guru pembimbing vipassanā bhāvanā. Beliau pertama kalinya mengikuti vipassanā bhāvanā ketika pelatihan pabbajjā samaṇera selama 3 bulan yang diadakan oleh Sangha Theravada Indonesia. Beliau melanjutkan meditasi di bawah bimbingan Y.M Bhikkhu Thitaketuko, mengikuti pelatihan intensif selama 3 bulan masa vassa di Brahma Vihara, Banjar, Bali. pada bulan November 2001 beliau akhirnya melanjutkan meditasi secara intensif di Myanmar selama 2 bulan dan dilanjutkan kembali pada bulan November 2002, dan berlatih intensif secara terus menerus sampai bulan November 2007 – yang terhitung selama kurang lebih 5 tahun berturut-turut lamanya. Pada 11 November 2006 beliau mengambil keputusan untuk menjadi Bhikkhu dimana beliau di upasampadā dan diberi nama penahbisan Gunasiri oleh upajaya Sayādawgyi U Paṇḍitābhivaṃsa, penerus dari Mahāsi Sayādaw yang juga bermeditasi intensif selama 5 tahun di bawah bimbingan langsung Mahāsi Sayādaw, sedangkan ācariya-nya adalah Cautan Sayādaw.

Harga: 20 juta

Harga: 15 jut

Silakan hubungi: 0821 2541 5678

Terima kasih.

Tiongkok berinvestasi lebih banyak dalam sains and teknologi daripada sebelumnya.

0

Tanpa peningkatan investasi federal, AS berisiko kehilangan kepemimpinan di bidang kritis ini.

Sementara Tiongkok maju dengan berani dengan peningkatan dana yang besar untuk penelitian dan pengembangan, Amerika Serikat mundur dari komitmennya terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi dan berisiko tertinggal dalam perlombaan daya saing global.

Pemerintah Tiongkok baru-baru ini mengumumkan investasi besar sebesar $52 miliar dalam penelitian dan pengembangan untuk 2024 — kenaikan 10% dibandingkan tahun sebelumnya yang merupakan peningkatan persentase terbesar di antara semua bidang pendanaan utama, termasuk pengeluaran militer.

Sebaliknya, AS memangkas total investasi dalam penelitian dan pengembangan untuk fiskal 2024 sebesar 2,7%, termasuk pemotongan tajam 11,3% dalam pengeluaran R&D non-pertahanan. Anggaran National Science Foundation, badan ilmu pengetahuan utama negara, dikurangi sebesar 8%, jauh dari permintaan Presiden Biden untuk peningkatan sebesar 19%.

“Kami mengorbankan daya saing kami sendiri secara sepihak. Kami bahkan tidak ada dalam perlombaan ini,” kata Sudip Parikh, Ketua Bersama Komite Aksi Ilmu Pengetahuan & Teknologi (STAC), dalam sebuah acara Pusat Kajian Strategis dan Internatioanl (CSIS) baru-baru ini. “Kami harus memastikan bahwa kami memberikan tekanan pada pejabat terpilih kami untuk memastikan kami mempertahankan investasi ilmiah yang diperlukan untuk vitalitas ekonomi dan keamanan nasional.”

AS pernah dipandang sebagai pemimpin global yang tak tertandingi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat Tiongkok meningkatkan investasinya dalam inovasi, jelas bahwa banyak orang Amerika percaya kepemimpinan AS kini terancam. Bahkan, sebuah jajak pendapat dalam laporan Keadaan Sains di AS oleh STAC menemukan 75% responden dari lima sektor tenaga kerja percaya bahwa AS sedang kehilangan atau telah kehilangan kepemimpinan global dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Laporan tersebut juga menemukan 60% responden percaya Tiongkok akan menjadi pemimpin dalam waktu lima tahun.

Itu adalah tren yang tidak bisa lagi diabaikan. Seiring dengan berlanjutnya perlombaan daya saing global, jelas bahwa AS harus mengembangkan strategi ilmu pengetahuan dan teknologi nasional dan meningkatkan investasi federal dalam teknologi mutakhir yang akan membentuk masa depan — dari kecerdasan buatan hingga komputasi kuantum hingga biosains maju — untuk memastikan era inovasi baru terjadi di sini, di AS.

“Segala sesuatu yang merusak budaya inovasi di Amerika adalah ancaman langsung terhadap keamanan nasional kami,” kata Dr. John Hamre, presiden dan CEO CSIS, dalam sebuah acara Riset di AS baru-baru ini.

Selama beberapa dekade terakhir, Amerika Serikat gagal mengikuti perkembangan pengeluaran ilmu pengetahuan dan teknologi relatif terhadap Tiongkok. Pengeluaran R&D federal telah menurun menjadi sedikit di bawah 0,7% dari PDB kami saat ini dibandingkan dengan 1,9% pada tahun 1964 di puncak perlombaan luar angkasa. Antara 2010 dan 2019, pangsa global AS dalam pengeluaran penelitian dan pengembangan turun dari 29% dari R&D global menjadi 27%, sementara pangsa Tiongkok meningkat dari 15% menjadi 22%.

“Tiongkok secara konsisten meningkatkan investasinya dalam penelitian dan pengembangan. Dan investasi ini memiliki tujuan yang dinyatakan dengan jelas: menggeser Amerika Serikat sebagai pemimpin dunia dalam ilmu pengetahuan dan teknologi,” tulis Anggota DPR Zoe Lofgren (D-Calif.), anggota berperingkat pada Komite Ilmu Pengetahuan, Ruang Angkasa, dan Teknologi Dewan Perwakilan Rakyat, baru-baru ini dalam sebuah artikel editorial  untuk The Hill. “Tiongkok memahami bahwa memenangkan perlombaan teknologi akan mengakibatkan Tiongkok memenangkan perlombaan ekonomi dan keamanan nasional.”

Kita tidak bisa membiarkannya terjadi. Agar AS tetap menjadi pemimpin global, para pembuat undang-undang harus bertindak untuk menyediakan pendanaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang vital yang dibutuhkan negara ini — sebelum terlambat.

“Sepanjang sejarah negara kita, dukungan federal untuk ilmu pengetahuan dan teknologi telah memacu banyak inovasi transformatif yang telah membantu Amerika Serikat mengatasi tantangan terbesar,” kata Parikh, CEO Asosiasi AS untk Kemajuan Sains (AAAS) dan Penerbit Eksekutif dari Keluarga Jurnal Sains yang pernah menjabat sebagai penasihat ilmiah dan staf profesional untuk Partai Republik di Komite Belanja Senat dari 2001-2009. “Ketika ancaman baru terhadap keamanan nasional dan ekonomi kami muncul, kepemimpinan federal yang kuat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sangat penting.”

Sumber: 1 Mei 2024, STAC

China kini terbitkan artikel ilmu berkualitas tinggi lebih banyak daripada negara lain

0

Pertumbuhan berpuluh-puluh tahun

Pada 1977, pemimpin China Deng Xiaoping memperkenalkan Empat Modernisasi, salah satunya adalah memperkuat sektor sains dan kemajuan teknologi China. Bahkan pada 2000, AS memproduksi banyak sekali makalah ilmiah dibandingkan China setiap tahunnya. Namun, selama sekitar tiga dekade terakhir, China telah menanam dana untuk mengembangkan kemampuan riset domestik, mengirimkan siswa dan peneliti ke luar negeri untuk belajar serta mendorong bisnis-bisnis China untuk beralih ke pembuatan produk berteknologi tinggi.

Sejak 2000, China telah mengirimkan sekitar 5,2 juta siswa dan cendekiawan untuk belajar di luar negeri. Sebagian besar dari mereka belajar sains atau teknik. Banyak dari siswa ini tetap tinggal di tempat mereka belajar, namun, semakin banyak yang kembali ke China untuk bekerja di laboratorium-laboratorium yang dibiayai dengan baik dan perusahaan-perusahaan teknologi tinggi.

Saat ini, China berada di posisi kedua setelah AS dalam hal pengeluaran untuk sains dan teknologi. Universitas-universitas China kini memproduksi jumlah Ph.D. teknik terbanyak di dunia, dan kualitas universitas-universitas China telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Menghasilkan Ilmu Pengetahuan Lebih Banyak dan Lebih Baik

Berkat semua investasi ini dan tenaga kerja yang semakin terampil, hasil ilmiah China – yang diukur dari jumlah makalah yang diterbitkan – telah meningkat secara konsisten dari tahun ke tahun. Pada 2017, para cendekiawan China menerbitkan lebih banyak makalah ilmiah dibandingkan peneliti AS untuk pertama kalinya.

Namun, kuantitas tidak selalu berarti kualitas. Selama bertahun-tahun, peneliti Barat menilai riset China sebagai kualitas rendah dan sering kali hanya meniru riset dari AS dan Eropa. Selama 2000-an dan 2010-an, banyak pekerjaan yang datang dari China tidak mendapat perhatian signifikan dari komunitas ilmiah global.

Namun, seiring China terus berinvestasi dalam sains, saya mulai bertanya-tanya apakah lonjakan kuantitas riset disertai dengan peningkatan kualitas.

Untuk mengukur kekuatan ilmiah China, rekan-rekan saya dan saya melihat kutipan-kutipan. Kutipan terjadi ketika makalah akademik dirujuk – atau dikutip – oleh makalah lain. Kami menganggap bahwa semakin sering makalah dikutip, semakin tinggi kualitas dan pengaruhnya. Berdasarkan logika ini, makalah-makalah yang termasuk dalam 1% teratas yang paling banyak dikutip harus mewakili puncak ilmu pengetahuan berkualitas tinggi.

Rekan-rekan saya dan saya menghitung berapa banyak makalah yang diterbitkan oleh sebuah negeri yang berada di 1% teratas dalam sains yang diukur dari jumlah kutipan di berbagai disiplin ilmu. Dengan membandingkan negara-negara dari tahun 2015 hingga 2019, kami terkejut menemukan bahwa pada tahun 2019, penulis China menerbitkan persentase makalah paling berpengaruh yang lebih besar, dengan China mencatatkan 8.422 artikel di kategori teratas, sementara AS memiliki 7.959 dan Uni Eropa 6.074. Dalam satu contoh yang terbaru, kami menemukan bahwa pada tahun 2022, peneliti China menerbitkan tiga kali lebih banyak makalah tentang kecerdasan buatan dibandingkan peneliti AS; dalam 1% teratas makalah riset AI yang paling banyak dikutip, makalah China melebihi makalah AS dengan rasio 2 banding 1. Pola serupa dapat dilihat dengan China memimpin dalam 1% teratas makalah yang paling banyak dikutip dalam nanoscience, kimia, dan transportasi.

Penelitian kami juga menemukan bahwa riset China ternyata sangat inovatif dan kreatif – dan tidak hanya meniru peneliti Barat. Untuk mengukurnya, kami melihat campuran disiplin (cabang ilmu) yang dirujuk dalam makalah ilmiah. Semakin beragam dan bervariasi riset yang dirujuk dalam satu makalah, semakin interdisipliner dan inovatif kami anggap karya tersebut. Kami menemukan bahwa riset China sama inovatifnya dengan negara-negara unggulan lainnya.

Secara keseluruhan, ukuran-ukuran ini menunjukkan bahwa China sekarang bukan lagi imitator atau hanya produsen ilmu pengetahuan berkualitas rendah. China kini menjadi kekuatan ilmiah yang sebanding dengan AS dan Eropa, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas.

Khawatir atau Kolaborasi?

Kemampuan ilmiah erat kaitannya dengan kekuatan militer dan ekonomi. Karena hubungan itu, banyak di AS – dari politisi hingga ahli kebijakan – telah mengungkapkan kekhawatiran bahwa kebangkitan ilmiah China merupakan ancaman bagi AS, dan pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk memperlambat pertumbuhan China. Misalnya, Undang-Undang Chips and Science 2022, secara tegas membatasi kerja sama dengan China dalam beberapa bidang riset dan manufaktur. Pada Oktober 2022, pemerintahan Biden memberlakukan pembatasan untuk membatasi akses China ke teknologi kunci dengan aplikasi militer.

Beberapa cendekiawan, termasuk saya, melihat kekhawatiran dan respons kebijakan itu sebagai didorong oleh pandangan nasionalis yang tidak sepenuhnya sesuai dengan usaha ilmiah global.

Riset akademik di dunia modern sebagian besar didorong oleh pertukaran ide dan informasi. Hasilnya diterbitkan di jurnal yang tersedia secara publik dan dapat dibaca siapa saja. Ilmu pengetahuan juga semakin internasional dan kolaboratif, dengan peneliti di seluruh dunia saling bergantung untuk mendorong bidang mereka maju. Penelitian kolaboratif terbaru tentang kanker, COVID-19, dan pertanian hanyalah beberapa contoh dari banyaknya contoh. Pekerjaan saya sendiri juga menunjukkan bahwa ketika peneliti dari China dan AS berkolaborasi, mereka menghasilkan ilmu pengetahuan berkualitas lebih tinggi dibandingkan jika salah satu saja yang melakukannya.

China telah bergabung dengan jajaran negara-negara ilmiah dan teknologi terkemuka, dan beberapa kekhawatiran tentang pergeseran kekuasaan adalah wajar menurut pandangan saya. Namun, AS juga dapat memanfaatkan kebangkitan ilmiah China. Dengan banyaknya isu global yang dihadapi planet ini – seperti perubahan iklim, untuk menyebutkan salah satunya – mungkin ada kebijaksanaan dalam melihat situasi baru ini tidak hanya sebagai ancaman, tetapi juga sebagai peluang.

Sumber: The Conversation: Januari 2023

Turis-turis China borong dan dorong ekonomi Thailand

0

Pertumbuhan ekonomi China dan pilihan di kalangan orang China terhadap properti Thailand seharusnya menjadikannya penggerak utama bagi ekonomi Thailand dan pasar properti, menurut analis ekonomi dan properti.

Kobsak Pootrakool, direktur dan wakil presiden senior Bangkok Bank, mengatakan bahwa keruntuhan tiga bank Amerika adalah awal dari krisis baru yang disebabkan oleh kenaikan suku bunga Federal Reserve, bank sentral AS..

“Krisis ini akan memakan waktu beberapa tahun untuk berakhir, kemungkinan hingga 2025,” ujarnya. “Sementara AS dan Eropa akan mengalami resesi, Asia memiliki potensi untuk berkembang selama krisis ini, terutama Asia Tenggara, yang menarik investor dari seluruh dunia. Thailand dapat mengandalkan pertumbuhan ekonomi China.”

Paichit Wiboonthanasarn, wakil presiden dan sekretaris jenderal Kamar Dagang Thailand di China, mengatakan Thailand seharusnya mendapatkan manfaat dari pembukaan kembali China karena Thailand adalah salah satu dari 20 negara tempat China mengijinkan tur kelompok untuk tahap awal.

“Ekonomi China, yang mewakili 18% dari PDB dunia, akan mengalami pemulihan yang lebih baik dari yang diharapkan, dengan target pertumbuhan 5%. Kami berharap pertumbuhan PDB 7-8% karena China telah membalikkan banyak hal yang membuat negara lain khawatir di masa lalu,” ujarnya.

Boon Yongsakul, ketua Boat Development yang berbasis di Phuket, mengatakan China adalah salah satu dari 10 pasar utama untuk wisatawan yang mengunjungi Phuket setelah negara itu dibuka kembali.

“Maskapai penerbangan baru yang tiba di Phuket baru-baru ini adalah West Air yang terbang dari Henan, sebuah kota yang belum dikenal bagi kami,” ujarnya. “Ini menunjukkan bahwa masih ada wisatawan potensial yang belum pernah mengunjungi Thailand.”

Vichai Viratkapan, pelaksana tugas Direktur Jenderal Pusat Informasi Real Estat (REIC), mengatakan bahwa wisatawan berpotensi menjadi pembeli properti jika mereka mengunjungi suatu destinasi dan terkesan dengan pengalaman mereka.

“Tahun lalu, ekonomi Phuket tumbuh 1.000%, dengan sektor pariwisata sebagai penggerak utamanya,” kata Mr. Vichai. Jumlah unit kondominium yang dialihkan kepada pembeli asing tumbuh sebesar 84%, bersama dengan peningkatan 182% dalam penjualan rumah, menurut REIC.

“Orang China tetap menjadi kewarganegaraan utama untuk alih tangan kondominium kepada orang asing pada tahun 2022, dengan menyumbang hampir 50% baik dari segi jumlah unit maupun nilai. Pembelian mereka dimaksudkan sebagai investasi karena mereka membutuhkan ukuran unit yang paling kecil,” ujarnya.

Orang China juga merupakan pembeli asing nomor 1 di tujuh dari 10 destinasi wisata utama: Bangkok, Chon Buri, Chiang Mai, Samut Prakan, Nonthaburi, Pathum Thani, dan Rayong.

Di Phuket dan Prachuap Khiri Khan, pembeli utama adalah orang Rusia, sementara orang Amerika menduduki daftar teratas di Phetchaburi.

Source: https://www.bangkokpost.com/business/2528894/china-picked-to-catapult-thai-economy

Industri otomotif Jerman hadapi kesulitan dengan biaya investasi tinggi dan permintaan rendah untuk mobil listrik

0

Produsen mobil Volkswagen menghadapi “usaha yang sangat besar” untuk mencapai target bisnisnya sendiri karena biaya yang tinggi dan pendapatan yang menurun, kata CEO perusahaan Oliver Blume.

Perusahaan itu, yang merupakan produsen mobil terbesar di Eropa, akan menerapkan kebijakan penghematan untuk memperbaiki neraca keuangannya, lapor surat kabar Frankfurter Allgemeine Zeitung. Meskipun program untuk efisiensi biaya yang lebih besar telah diterapkan, para investor tampaknya kurang percaya pada efektivitasnya karena harga saham Volkswagen terus menurun. Biaya satu kali yang tinggi untuk mengubah jalur produksi menjadi kendaraan listrik dan baterai, di samping pembayaran kompensasi untuk pekerja yang di-PHK, mempengaruhi keuntungan perusahaan, terutama untuk merek inti VW-nya, kata perusahaan tersebut.

CEO Blume menambahkan bahwa Volkswagen akan mengurangi investasinya pada periode perencanaan mendatang dan berusaha menekan biaya dengan melakukan uasa patungan, misalnya, dengan merek mobil listrik AS, Rivian.

Dalam artikel terpisah, Frankfurter Allgemeine Zeitung melaporkan pemangkasan pekerjaan di pemasok industri otomotif ZF Friedrichshafen, yang berencana mengurangi hingga 14.000 dari 54.000 pekerjaan di Jerman pada akhir 2028. Sama seperti Volkswagen, keputusan ini muncul akibat masalah keuangan karena ZF Friedrichshafen mengalami penurunan pendapatan dan utang tinggi.

Perusahaan mengatakan bahwa pesanan yang menurun dari produsen mobil dan kurangnya minat pada kendaraan listrik berbasis baterai berdampak pada keuntungannya. “Ini tidak tanpa konsekuensi bagi kami sebagai pemasok,” kata Holger Klein, CEO ZF Friedrichshafen. Dia mengatakan perusahaan mempertimbangkan pemangkasan di beberapa lokasi di Jerman, terutama di lokasi produksi yang mengkhususkan diri pada satu produk, dan menjadi lebih kompetitif lagi dengan menciptakan lokasi produksi gabungan yang lebih besar.

Industri otomotif merupakan pilar utama ekonomi Jerman dan langsung mempekerjakan ratusan ribu orang di negara tersebut. Peralihan ke mobilitas listrik mengguncang jaringan industri dan praktik produksi yang sudah lama ada yang berpusat pada mesin pembakaran internal, yang diperburuk oleh keputusan terlambat produsen mobil Jerman untuk secara signifikan meningkatkan investasi mereka dalam kendaraan listrik dan teknologi baterai, di mana mereka menghadapi persaingan internasional yang ketat dan tertinggal di bidang-bidang kunci. Sementara pemerintah Jerman telah menetapkan untuk mendukung industri dalam menghadirkan 15 juta mobil listrik di jalan pada tahun 2030, tujuan ini semakin tampaknya sulit dicapai dan menurut analisis terbaru oleh think tank Agora Verkehrswende hanya dapat tercapai dengan memperkuat kerja sama dengan produsen mobil dari China.

(TST/LN)

Banyak pemasok otomotif Jerman ajukan pailit di tengah tekanan industri

0

FRANKFURT, 15 Agustus — Pemasok otomotif Jerman AE Group mengajukan pailit pada Senin setelah berbulan-bulan melakukan restrukturisasi bisnis, sehingga menjadi perusahaan ketiga dalam industri otomotif Jerman yang secara resmi dinyatakan bangkrut dalam dua minggu terakhir.


Sebagai salah satu produsen utama komponen aluminium die-cast di Jerman, grup ini memulai rencana reorganisasi pada musim panas 2023 akibat penurunan laba operasional yang disebabkan oleh kenaikan harga energi dan bahan baku, menurut media Jerman.
“Meskipun kami telah meningkatkan upaya kami untuk merestrukturisasi perusahaan dalam beberapa bulan terakhir, penurunan permintaan dari produsen mobil masih menyebabkan kami menghadapi kesulitan besar,” kata perusahaan itu dalam siaran pers.
Industri otomotif Jerman telah mengalami krisis demi krisis, komentar majalah berita bisnis Jerman WirtschaftsWoche. Peralihan ke kendaraan listrik dan tingkat permintaan keduanya mengalami hambatan, yang berdampak pada pemasok juga.
Minggu lalu, pemimpin industri Muerdter Group dinyatakan bangkrut, tidak lama setelah pemasok otomotif Recaro dengan sejarah lebih dari 110 tahun.

Recaro menyebutkan kenaikan harga yang ekstrem, perubahan pasar, dan hilangnya pesanan besar sebagai alasan pailit.


Sementara alasan pasti untuk pailitnya Muerdter Group belum diketahui, berbagai masalah yang saat ini mempengaruhi industri otomotif kemungkinan turut menyumbang pada kebangkrutan tersebut, kata para pelaku industri.
“Pada saat ini, banyak tempat mengalami masalah,” kata ketua asosiasi industri otomotif Thuringia Mathias Hasecke pada Rabu dalam sebuah debat mengenai masa depan industri otomotif di negara bagian Thuringia, Jerman.

(TST/LN)

China, Vietnam target peningkatan koneksi kereta api saat para pemimpin utama bertemu

0

Ho Chi Minh City

HANOI – Koneksi kereta api akan menjadi agenda utama ketika pemimpin baru Vietnam, To Lam, bepergian ke China untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping minggu depan, kata para pejabat saat kedua negara berusaha meningkatkan perdagangan.

Koneksi kereta api yang mulus dianggap krusial untuk rantai pasokan mengingat semakin banyak produsen China yang memindahkan beberapa operasi yang berorientasi ekspor ke Vietnam di tengah ketegangan perdagangan antara China dan Amerika Serikat.

Kedua negara terhubung melalui dua jalur kereta api dari Cina Selatan ke ibu kota Vietnam, Hanoi, dan pusat industri utara Vietnam. Tetapi, infrastruktur Vietnam berasal dari masa kolonisasi Prancis dan memiliki ukuran rel yang berbeda dari kereta api cepat China sehingga memaksa penumpang dan barang untuk berganti kereta di perbatasan.

Ketidakpercayaan antara kedua negara yang dikelola Komunis ini, yang pernah berperang singkat di perbatasan pada akhir 1970-an dan sering berselisih mengenai batas wilayah di Laut China Selatan, telah lama menghambat kemajuan koneksi kereta api. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, pertimbangan ekonomi tampaknya telah mengungguli kekhawatiran keamanan.

Pada Desember, Xi menawarkan hibah dan pinjaman untuk membantu meningkatkan jaringan kereta api Vietnam dan kedua negara menandatangani dua nota kesepahaman (MoU) untuk meningkatkan kerja sama kereta api.

Pendanaan China
Perdana Menteri Pham Minh Chinh minta pendanaan dan teknologi China untuk kereta api Vietnam selama kunjungan ke China pada Juni, menurut media negara Vietnam, dalam apa yang tampaknya sebagai perubahan strategi yang signifikan.

Dia dan para menteri senior juga bertemu dalam beberapa bulan terakhir dengan eksekutif perusahaan-perusahaan terkemuka China dalam bisnis kereta api, yang mencakup produsen kereta CRRC dan China Railway Signal & Communication.

Hanoi, selama bertahun-tahun, tetap tidak jelas mengenai penggunaan dana Inisiatif Sabuk dan Jalan, program infrastruktur unggulan China, setelah protes meletus di Vietnam pada 2018 terkait rencana yang bisa menyebabkan hubungan ekonomi yang lebih dekat dengan China.

Namun, hal itu tidak menghentikan investasi swasta China di Vietnam, yang sedang berkembang pesat.

Vietnam merencanakan ekspansi besar-besaran jaringan kereta api internalnya dengan koneksi kereta cepat sepanjang 1.500 km dari Hanoi ke Ho Chi Minh City (dahulu bernama Saigon), dengan biaya yang diperkirakan sekitar $70 miliar, proyek infrastruktur terbesar di negara tersebut.

Sumber: https://www.bangkokpost.com/world/2848373/china-vietnam-eye-boost-to-rail-links-as-top-leaders-meet.

China sedang pasang kapasitas energi angin dan matahari setara 5 pembangkit listrik tenaga nuklir besar per minggu

0

Singkatnya:

China sedang memasang jumlah rekor kapasitas energi surya (solar) dan angin sambil meredakan rencana ambisius sebelumnya untuk nuklir.

Sementara Australia tertinggal dari target pemasangan energi terbarukannya, China mungkin akan mencapai target akhir 2030 pada akhir bulan ini, menurut sebuah laporan.

Apa selanjutnya?

Para ahli energi melihat ke China, penghasil emisi terbesar di dunia yang pernah dianggap sebagai pelanggar iklim, untuk mempelajari cara mendekarbonisasi dengan cepat.

Sementara Australia berdiskusi mengenai manfaat energi nuklir dan frustrasi tumbuh terkait lambatnya pelaksanaan tenaga surya dan angin, China sepenuhnya berkomitmen pada energi terbarukan.

Angka terbaru menunjukkan bahwa laju transisi energi bersih China setara dengan pemasangan kapasitas energi terbarukan sebesar lima pembangkit listrik tenaga nuklir besar setiap minggu.

Laporan dari lembaga pemikir Climate Energy Finance (CEF) yang berbasis di Sydney mengatakan China sedang memasang energi terbarukan dengan sangat cepat sehingga akan memenuhi target akhir 2030 pada akhir bulan ini—atau 6,5 tahun lebih awal dari jadual!!!

China sedang memasang setidaknya 10 gigawatt kapasitas pembangkit listrik tenaga angin dan matahari setiap dua minggu.

Sebagai perbandingan, para ahli mengatakan rencana Koalisi untuk membangun tujuh pembangkit listrik tenaga nuklir akan menambah kurang dari 10GW kapasitas pembangkit ke jaringan setelah tahun 2035.

Para ahli energi melihat ke China, penghasil emisi terbesar di dunia, yang pernah dianggap sebagai pelanggar iklim, untuk mempelajari cara menjadi hijau dengan cepat.

“Kami telah melihat Amerika di bawah Presiden Biden mengeluarkan satu triliun dolar untuk energi bersih,” kata Direktur CEF Tim Buckley.

“Tanggapan China adalah dengan berkomitmen lebih dan melaju dua kali lebih cepat.”

CEO Smart Energy Council John Grimes, yang baru saja kembali dari konferensi energi di Shanghai, mengatakan China telah mendekarbonisasi jaringan energinya hampir secepat Australia, meskipun mereka menghadapi tugas yang jauh lebih berat karena skala permintaan energi mereka.

“Mereka memiliki target yang jelas dan setiap bagian dari pemerintah mereka dioptimalkan untuk mewujudkan rencana tersebut,” katanya.

China menyumbang sekitar sepertiga dari emisi gas rumah kaca global. Penurunan emisi baru-baru ini (yang pertama sejak pelonggaran pembatasan COVID-19), dikombinasikan dengan dekarbonisasi jaringan listrik, mungkin berarti emisi negara tersebut telah mencapai puncaknya.

“Dengan sektor tenaga listrik yang menjadi hijau, emisi diperkirakan akan stabil dan kemudian secara bertahap turun menuju 2030 dan seterusnya,” kata analis kebijakan energi China CEF Xuyang Dong.

Jadi, bagaimana China membangun dan menghubungkan panel dengan begitu cepat, dan apa peran nuklir dalam transisinya?

Seperti membangun ladang surya dekat Perth (di barat Australia) untuk memberi daya pada Sydney (timur Australia), sejauh 3.929 km dengan jalan darat!

Karena kota-kota besar di pantai timur China didominasi oleh gedung-gedung apartemen, China tidak melihat pemkaian panel surya atap seperti di Australia.

Untuk menemukan ruang bagi semua panel surya dan turbin angin yang diperlukan untuk kebutuhan energi negara, para perencana transisi energi China telah melihat ke arah barat, ke daerah-daerah seperti Gurun Gobi.

Ladang surya dan angin terbesar di dunia sedang dibangun di ujung barat negara itu dan dihubungkan ke timur melalui jalur transmisi tegangan tinggi terpanjang di dunia.

“Jalur-jalur ini sangat panjang sehingga bisa membentang sepanjang benua kami.”

Dalam istilah Australia, itu setara dengan menggunakan panel surya dekat Perth untuk memberi daya pada rumah-rumah di Sydney.

Buckley mengatakan pendekatan China mirip dengan pendekatan Australia dalam mengembangkan “zona energi terbarukan” regional untuk pembangkit listrik skala besar.

“Mereka melakukan apa yang dilakukan Australia dengan zona energi terbarukan, tetapi mereka melakukannya dengan sangat agresif,” katanya.

Bagaimana dengan ‘menstabilkan’ jaringan?

Salah satu masalah dalam beralih ke energi terbarukan yang tidak teratur adalah memastikan pasokan energi yang stabil.

Dalam istilah teknis, ini adalah perbedaan antara kapasitas pembangkitan (diukur dalam gigawatt) dan keluaran energi aktual (diukur dalam gigawatt-jam, atau pembangkitan dari waktu ke waktu).

Energi terbarukan memiliki “faktor kapasitas” (rasio antara keluaran aktual dengan potensi maksimum pembangkitan) sekitar 25 persen sedangkan nuklir memiliki faktor kapasitas hingga 90 persen.

Jadi, meskipun China memasang kapasitas pembangkit tenaga surya dan angin setara dengan lima pembangkit listrik tenaga nuklir besar setiap minggu, keluaran energi mereka lebih dekat dengan satu pembangkit nuklir per minggu.

Energi terbarukan menyumbang lebih dari setengah dari kapasitas terpasang di China, tetapi hanya sekitar seperlima dari keluaran energi aktual dalam setahun, kata Tim Buckley dari CEF.

Untuk “menstabilkan” atau menyeimbangkan pasokan energi dari zona energi terbarukan mereka, China menggunakan campuran air pompaan dan penyimpanan baterai, mirip dengan Australia.

“Mereka sedang memasang 1GW per bulan dari penyimpanan air pompaan,” kata Buckley.

“Kami kesulitan membangun 2GW Snowy 2.0 dalam 10 tahun.”

Namun, ada beberapa perbedaan besar antara pendekatan Australia dan China.

Secara agak paradoks, China telah membangun puluhan pembangkit listrik tenaga batubara bersamaan dengan zona energi terbarukannya, untuk menjaga kecepatan transisi energi bersihnya.

China bertanggung jawab untuk 95 persen kegiatan konstruksi pembangkit listrik tenaga batubara baru di dunia tahun lalu.

Pabrik-pabrik baru itu sebagian dibutuhkan untuk memenuhi permintaan listrik, yang meningkat seiring dengan elektrifikasi sektor-sektor ekonomi yang lebih banyak menggunakan energi, seperti transportasi.

Pabrik-pabrik tenaga batubara juga digunakan, seperti halnya baterai dan air pompaan, untuk menyediakan pasokan energi yang stabil dari jalur transmisi dari zona energi terbarukan, menyeimbangkan energi surya dan angin yang tidak teratur.

Meskipun ada pabrik-pabrik batubara baru itu, bagian batubara dari total pembangkitan listrik di negara tersebut sedang menurun.

Dewan Energi China memperkirakan bahwa pembangkitan energi terbarukan akan mengalahkan batubara pada akhir tahun ini.

Xuyang Dong dari CEF mengatakan meskipun ketergantungan negara tersebut pada batubara, “keberhasilan China dalam transisi ke hijau dengan kecepatan dan skala ini memberikan dunia buku teks untuk melakukan hal yang sama”.

“Setiap minggu China sedang memasang setara dengan apa yang kami lakukan setiap tahun.”

Meskipun dengan kecepatan ini, China tidak memasang energi terbarukan cukup cepat untuk mencapai target netralitas karbon 2060, tambahnya.

“Menurut analisis kami, [laju pemasangan saat ini] tidak cukup ambisius untuk China.”

Bagaimana dengan nuklir?

China sedang membangun pembangkit nuklir baru, meskipun tidak secepat yang pernah mereka rencanakan.

Pada tahun 2011, otoritas China mengumumkan bahwa reaktor fisi akan menjadi fondasi sistem pembangkitan listrik negara dalam waktu “10 hingga 20 tahun” ke depan.

Namun, bencana Fukushima Jepang pada tahun 2011 memicu moratorium pada pembangkit nuklir di daratan, yang harus menggunakan air sungai untuk pendinginan dan lebih rentan terhadap banjir yang sering terjadi.

Sementara itu, selama dekade berikutnya, tenaga surya menjadi sumber listrik termurah di dunia. Dari tahun 2010 hingga 2020, biaya terpasang untuk pembangkit listrik tenaga surya skala utilitas turun sebesar 81 persen secara rata-rata global.

Selain murah, tenaga surya juga aman, yang membuat pembangunan ladang surya lebih cepat daripada reaktor nuklir.

Alih-alih nuklir, tenaga surya kini dimaksudkan untuk menjadi fondasi sistem pembangkitan listrik baru China.

Pihak berwenang telah secara bertahap meredam rencana nuklir untuk mendominasi pembangkitan energi China. Saat ini, tujuannya adalah 18 persen dari pembangkitan pada tahun 2060.

China memasang 1GW pembangkit nuklir tahun lalu, dibandingkan dengan 300GW dari tenaga surya dan angin, kata Buckley.

“Itu menunjukkan mereka sepenuhnya berkomitmen pada energi terbarukan.

“Mereka memiliki rencana besar untuk nuklir yang seharusnya sangat besar, tetapi mereka tertinggal dalam nuklir selama satu dekade dan lima tahun lebih awal dari jadual untuk tenaga surya dan angin.”

Bagaimana China bertransisi begitu cepat?

Pada Juni tahun ini, menjelang pengumuman kebijakan nuklir Koalisi, mantan Perdana Menteri Queensland Annastacia Palaszczuk, yang sekarang menjadi “duta internasional” Smart Energy Council, memimpin delegasi Australia ke konferensi energi bersih terbesar di dunia di Shanghai.

Konferensi Energi Pintar tahunan tersebut menampung lebih dari 600.000 delegasi selama tiga hari.

Skalanya menegaskan dominasi China yang semakin besar dalam ekonomi energi bersih global dan, bagi beberapa peserta, memicu perbandingan yang tidak menguntungkan dengan kemajuan Australia.

Buckley, yang merupakan bagian dari delegasi, mengatakan bahwa ia sangat terkesan.

“China sedang memenangkan perlombaan ini.”

John Grimes, CEO Smart Energy Council yang juga hadir, mengatakan Australia dapat belajar dari kemampuan pemerintah China untuk melaksanakan rencana transisi jangka panjang yang sulit dan mahal, alih-alih mengandalkan kekuatan pasar untuk menemukan solusi.

“Transisi Australia berjalan terlalu lambat, ada satu dekade yang hilang dari aksi itu,” katanya.

“Dunia saat ini menghabiskan sekitar $7 triliun per tahun untuk batubara, gas, dan minyak, dan uang itu akan menemukan tempat baru.”

“Siapa yang akan menjadi pemenang ekonomi dalam transisi ekonomi global itu? Itu akan menjadi China.”

Dia dan para ahli energi lainnya merasa frustrasi dengan kemajuan transisi Australia, yang mencakup diskusi tentang tenaga nuklir dan “senjata perbedaan pendapat” dari kelompok masyarakat mengenai ladang angin dan jalur transmisi baru.

Stephanie Bashir, CEO Nexa energy advisory, mengatakan transisi Australia terjebak dalam birokrasi.

“Tunda utama untuk banyak proyek adalah persetujuan perencanaan yang lambat,” kata Bashir, yang juga menghadiri konferensi tersebut.

“Di China, mereka memutuskan mereka akan melakukan sesuatu dan kemudian mereka melakukannya.”

Apakah pembangkit listrik tenaga nuklir sesuai dengan kebutuhan Australia?

Seiring dengan percepatan peralihan dari bahan bakar fosil, Koalisi telah beralih ke teknologi bebas emisi dengan sejarah panjang dan kontroversial — fusi nuklir. Itu adalah angka yang perlu Anda ingat ketika mempertimbangkan tempatnya dalam transisi energi Australia.

Rencana Operator Pasar Energi Australia (AEMO) untuk mendekarbonisasi jaringan dan memastikan lampu tetap menyala saat pembangkit listrik tenaga batubara ditutup memerlukan ribuan kilometer jalur transmisi baru dan ladang solar serta angin skala besar.

Australia memasang sekitar setengah dari jumlah energi terbarukan per tahun yang diperlukan menurut rencana tersebut.

Karena kekurangan ini, banyak ahli mengatakan tidak mungkin mencapai target 2030 sebesar 82 persen energi terbarukan di jaringan dan pengurangan emisi sebesar 43 persen.

“Kita perlu membangun 6GW setiap tahun dari sekarang hingga setiap pembangkit listrik ditutup, dan sejauh ini kita hanya membawa online 3GW,” kata Ms. Bashir.

“Jika kita mengidentifikasi beberapa proyek sebagai pembangunan bangsa … dan kita membutuhkannya untuk transisi, kita harus segera melakukannya.”

Buckley memprediksi China akan mempercepat penerapan energi terbarukan.

“Prakiraan saya adalah akan meningkat 20 persen per tahun dari tingkat saat ini.”

Sumber: ABC Science

Thailand tidak sanggup harga buah-buahan dari China: murah, kemasannya rapi dan mutu tinggi

0

Banyak jenis buah, sayuran, dan hasil pertanian lainnya dijual di Pasar Baru Mae Kim Heng di distrik Muang, Nakhon Ratchasima.

Hasil pertanian dan barang konsumen murah dari China masuk ke negara ini melalui kereta cepat melalui Laos dan membanjiri pasar lokal di Timur Laut Thailand sehingga menempatkan pemilik bisnis lokal dalam posisi yang menantang, kata para penjual. 

Pada hari Rabu para reporter mengunjungi bagian buah dan sayuran di Pasar Baru Mae Kim Heng di distrik Muang, Nakhon Ratchasima, dan menemukan banyak jenis hasil pertanian China dijual. 

Laporan menyebutkan bahwa produk China dikirim ke wilayah timur laut Thailand dari Laos melalui jalur kereta cepat dengan China, dengan waktu pengiriman hanya satu hari. 

Produk-produk tersebut mencakup apel, anggur, pir China, jeruk, brokoli, kol, paprika, dan beberapa jenis jamur. 

Produk-produk itu dikemas dengan rapi dan aman, sehingga mencegah kerusakan selama pengiriman. 

Beberapa laporan menyebutkan bahwa tidak hanya buah dan sayuran ini tampak lebih baik daripada varietas lokal, tetapi juga jauh lebih murah. 

Sangad Saadmaroeng, seorang penjual sayuran di pasar, berkata bahwa dia harus membeli hasil pertanian China untuk dijual karena pasokan beberapa sayuran Thailand yang rendah dan tambahkan bahwa sayuran China tersedia sepanjang tahun dan lebih murah. 

Dia mengatakan bahwa dia membeli jamur trompet China, yang juga dikenal sebagai eryngii, dari grosir seharga 10 baht per bungkus dan menjualnya seharga 20 baht sambil menambahkan bahwa dia percaya grosir membeli jamur tersebut dari petani dengan harga serendah 4 atau 5 baht per bungkus. 

Di pasar loak lokal di distrik Muang, Buri Ram, aktivitas tampak lebih sepi dari biasanya, dengan penjual menyalahkan penurunan ekonomi dan produk murah dari China. 

Juga ditemukan bahwa banyak produk yang tersedia di pasar, yang mencakup peralatan rumah tangga, pakaian, dan sepatu, dibuat di dan diimpor dari China. 

Para penjual mengatakan bahwa produk-produk ini lebih murah dan bisa dijual dengan cepat sementara para pembeli mengatakan bahwa mereka bersedia membeli produk yang lebih murah dengan kualitas yang lebih rendah.

Sumber:https://www.bangkokpost.com/thailand/general/2847157/cheaper-chinese-farm-produce-coming-in-by-train.

5.5G Huawei: Unduh sebesar 10 gigabit per detik (Gbps), 10 lipat 5G

0

Menurut raksasa teknologi digital China, Huawei, adopsi teknologi broadband nirkabel 5.5G adalah suatu kepastian. Kombinasi kecerdasan buatan (AI) generatif dan 5.5G akan membuka potensi kreatif dan ekonomi baru di Thailand dan Asia-Pasifik, kata perusahaan tersebut.

Abel Deng mengatakan bahwa Huawei berkomitmen untuk mempercepat transformasi digital Thailand melalui 5.5G untuk menjadi pusat ekonomi digital di kawasan tersebut.

Huawei berkomitmen untuk mempercepat transformasi digital Thailand melalui 5.5G dengan membuka potensi negara tersebut untuk menjadi pusat ekonomi digital regional, kata Abel Deng, presiden bisnis penjualan operator di Huawei Asia-Pasifik.

Standarisasi global 5.5G telah diselesaikan awal tahun ini sehingga menandai tonggak penting di sektor ini. “5.5G tidak hanya tentang konektivitas — itu tentang menciptakan dunia yang lebih cerdas dan efisien tempat industri dapat berinovasi tanpa batas,” kata Deng.

Dibandingkan dengan 5G, 5.5G memberikan peningkatan sepuluh kali lipat dalam kecepatan lebar pita, kepadatan koneksi, akurasi pemantauan, dan efisiensi energi. Itu berarti kecepatan unduh sebesar 10 gigabit per detik (Gbps), kecepatan unggah sebesar 1Gbps, ratusan miliar koneksi, dan kecerdasan bawaan.

Dia mengatakan bahwa kemajuan ini akan mendukung aplikasi baru seperti realitas diperpanjang, ekonomi ketinggian rendah, dan koneksi cerdas dari segala sesuatu, membuka dividen digital yang lebih besar.

Deng berbicara di Asia-Pacific ICT Summit Thailand 2024 yang berlangsung selama dua hari, yang dipandu bersama oleh Kementerian Ekonomi Digital dan Masyarakat, Huawei, dan mitra industri dalam GSMA, sebuah kelompok perdagangan jaringan seluler nirlaba.

Lebih dari 30 jenis terminal mendukung teknologi 5.5G dan 60 operator telah meluncurkan 5.5G secara komersial. Operator dari China hingga Uni Emirat Arab, Hong Kong hingga Oman telah menerapkan 5.5G secara besar-besaran, katanya.

Menurut perusahaan riset TI IDC, pengiriman telepon pintar AI diperkirakan mencapai 170 juta unit pada tahun 2024, yang menyumbang 15% dari pasar global. Asia-Pasifik diperkirakan akan memimpin pertumbuhan ini, mungkin menyumbang 40-50% dari pengiriman tersebut.

Untuk mengantarkan jumlah konten yang besar yang diharapkan dalam terabyt, Deng mengatakan 5.5G diperlukan, dikombinasikan dengan AI untuk membuka potensi ekonomi di kawasan tersebut.

“Untuk Thailand, negara ini adalah pemimpin dalam transformasi digital kawasan dengan pertumbuhan cepat dalam adopsi 5G, mendorong kemajuan signifikan di industri. Dengan munculnya 5.5G, Thailand siap untuk fase transformasi yang lebih besar,” katanya.

Deng mengatakan 5G memainkan peran yang lebih penting dalam pengembangan ekonomi digital semua negara. Penelitian di kawasan APAC menunjukkan setiap peningkatan 10% dalam penetrasi 5G diperkirakan akan mendorong pertumbuhan PDB sebesar 1%-1,8%.

Bangkok Post: https://www.bangkokpost.com/business/general/2847307/huawei-sees-unstoppable-march-of-5-5g-technology